Guru Kehidupan

Wesiati Setyaningsih

 

Kalau orang pikir bahwa saya guru berarti murid saya pasti sepenuhnya belajar dari saya, sebenarnyalah saya justru belajar dari anak-anak remaja ini. Mereka yang sepertinya riang gembira ke sana ke mari, ketika saya tahu, ternyata hidup dalam situasi yang tak pernah saya bayangkan.

Awalnya saya membahas tentang satu anak perempuan, sebut saja Nina, yang jadi ‘public enemy’ di kelas. Sebagai guru saya bisa memahami karena saya sendiri juga sebal. Sering nggak masuk alasan sakit. Kata temannya sakit itu kalau terlalu capek ekstra kurikuler hari sebelumnya. Kalau pas dia absen dan ada ulangan, nggak mau minta susulan. Wajahnya yang mengkilat karena perawatan ala wanita dewasa, membuat dia sering melihat ke cermin kecil di saat pelajaran. Meski sebal saya tak banyak komentar pada anak ini. Saya hanya mengamati.

Di kelas itu ada anak favorit saya, sebut saya Wina. Suatu ketika Wina dipanggil BK ketika saya sedang mengajar. Saat dia kembali ke kelas, saya tanya ada masalah apa? Setahu saya dia ini anak teladan. Cantiknya natural, suaranya bagus, bahasa Inggrisnya oke banget, ikut OSIS tapi nilai tetep juara.

“Itu tentang Nina, Maam,” katanya.

Ternyata si Nina ini sebelahan sama dia. Oleh BK Wina dimintai tolong mendampingi Nina yang sudah dijauhi anak satu kelas. Wina yang berhati malaikat mau saja menemani Nina. Sialnya, Nina malah memanfaatkan Wina yang cerdas dan baik hati. Tiap ulangan suka nyontek pekerjaan Wina. Tugas juga ndompleng Wina. Lama-lama Wina sebal dan ikut menjauh.


Saya tak akan pernah tahu bagaimana kehidupan Wina kalau saya tidak ngawas ujian bareng guru BK. Dari teman ini, Nina dan Wina sudah macam karakter Bawang Putih dan Bawang Merah. Nina, anak orang kaya yang manja, sementara Wina sebaliknya. Dan kehidupan Wina jadi saya ketahui karena teman saya ini ‘home visit’ ke rumahnya.

Hidup bisa demikian kejam tanpa bisa kita bayangkan. Ceritanya suatu hari sepasang suami istri berboncengan pergi ke Solo. Dalam perjalanan pulang ke Semarang, mereka mengalami kecelakaan. Sang suami luka dan sembuh, si istri jadi lumpuh. Anak sulungnya baru kelas 6 SD dan adiknya kelas 1 SD. Tak lama setelah kecelakaan itu si suami minggat dan menikah lagi. Istri dan dua anaknya ditinggal di rumah orang tua si istri.

Orang tua yang anak perempuannya lumpuh dan ditinggal suaminya, berusaha mencarikan obat ke sana ke mari tapi tak ada perkembangan. Harta habis, tinggal rumah besar yang mereka miliki tempat mereka semua bernaung. Si sulung, Wina, selalu tidur bersama Ibunya. Dia yang merawat dan mengurus Ibunya. Sementara adiknya, tak pernah mendapat kasih sayang ayah maupun ibu dengan layak sejak kecil.

Karena Winalah yang mengurus Ibunya, Eyangnya keberatan kalau dia terlalu banyak kegiatan hingga pulang sore. Nenek yang sudah tua ini mungkin terlalu lelah merawat anaknya yang lumpuh. Itulah kenapa teman saya yang BK ‘home visit’ untuk mencari solusi agar Wina bisa tetap berkembang sesuai potensinya.


Sekarang kalau anda bilang saya ini teladan mereka, saya katakan, anak-anak inilah guru kehidupan buat saya.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Guru Kehidupan"

  1. Alvina VB  14 July, 2017 at 22:19

    Thanks for sharing, Westi…

  2. Handoko Widagdo  13 July, 2017 at 20:47

    Sebuah kisah yang luar biasa.

  3. Lani  13 July, 2017 at 09:46

    Wesi: Aku kira lebih pas klu disebut guru dan murid saling/sama2 belajar satu sama lainnya……..

  4. James  13 July, 2017 at 08:57

    seorang Bapak Pengecut yang meninggalkan Istrinya bersama anaknya setelah sang Istri mengalami Kelumpuhan, sama sekali tidak bertanggung jawab

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *