Anggota Keluarga Baru

Linda Cheang – Bandung

 

Halo semua,

Harapkan semua yang membaca tulisan saya ini, sehat dan sukacita, diberkati Tuhan.

Sekian waktu saya menghilang, tidak menulis apa-apa untuk media manapun termasuk rumah saya sendiri, sekarang saya mau sengaja ambil waktu membuat tulisan ini untuk menceritakan tentang anggota keluarga baru yang hadir, dan awalnya bermula dari sebuah rumah bersama yang bernama BALTYRA.

Di Agustus 2016 lalu, anggota BALTYRA yang kita kenal dengan nama Angela Januarty Kwee alias Angel, teman kita yang tinggal di Sintang-Kalbar ini, menghubungi saya berkaitan dengan rencana kegiatannya yang dia sebut dengan petualangan, dan minta agar saya boleh memberi beberapa info. Singkat kisah, Angel ini saya tawarkan untuk tinggal di rumah saya saja, tentu setelah saya minta izin dulu kepada Mama sebagai orangtua dan yang dituakan. Kebetulan kami memiliki sebuah paviliun yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal untuk tamu, walau kondisinya, ya, seadanya. Angel akhirnya memang jadi tinggal di paviliun tsb dan ternyata, di dalam bagian petualangannya, Angel membawa teman seperjuangan, yaitu Laeli, asal Kota Mataram di Pulau Lombok – NTB, jadi dia anak Lombok. Pulau Lombok, yah, bukan lombok yang artinya cabe.

Jadilah Angel dan Laeli bagian dari keluarga saya sampai waktu mereka kembali ke kampung masing-masing. Syukur, bahwa Angel dan Laeli bisa menerima kondisi untuk tinggal dalam sebuah paviliun sederhana, yang penting privasi mereka terjamin dan mereka bisa belajar tanpa terganggu oleh aktivitas kami di rumah utama. Mereka bahkan dibekali kunci pintu pagar rumah kami, sehingga mereka dapat pergi dan pulang kapan saja sesuai kebutuhan kegiatan mereka.

Terlampir di sini ketika kami bertiga ambil gambar bersama sebelum jalan-jalan ke beberapa titik di Kota Bandung pada suatu pagi.

Kami bertiga menjelang jalan-jalan

 

Kedatangan

Fast Forward mode. Pada suatu hari di April 2017, saya mendapat pesan dari WA, ternyata Laeli memberitahukan bahwa dia akan kembali ke Bandung lagi untuk tugas belajar selama 3 bulan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI, d.h IKIP Bandung). Kali ini dia akan datang bersama seorang teman dari NTB juga namun berbeda pulau. Mereka akan datang tepat sehari sebelum tugas belajar mereka dimulai, lewat udara. Maka, saya siapkan waktu untuk menjemput mereka di Bandara Husein Sastranegara.

Sebenarnya Mama sudah mengizinkan bila Laeli dan temannya tsb jika ingin tinggal bersama kami lagi selama menjalani tugas belajar tsb, namun ternyata Laeli memilih mencari tempat kos yang lokasinya dekat dengan UPI agar tidak makan waktu banyak di perjalanan. Ya, karena jarak rumah saya ke UPI pergi-pulang meski sebenarnya tidak jauh, namun arus lalu lintasnya ramai bahkan sering macet, terutama di akhir pekan, karena lokasi UPI itu termasuk wilayah Bandung Utara, jalurnya ke tempat-tempat wisata. Akhirnya waktu untuk Laeli dan kawannya tiba di Bandung diinformasikan dan saya bersiap jemput mereka.

Ternyata, waktu mereka mepet sekali. Mereka tiba di Bandung tepat beberapa jam saja sebelum tugas belajar mereka dimulai, nyaris tak ada waktu untuk “bernapas”. Itupun pakai acara penerbangan delay segala, akhirnya mereka tiba juga namun waktu sudah lewat maghrib. Saya datang menjemput mereka bersama Edwin, keponakan saya yang pasti bisa diandalkan untuk bawa barang-barang berat.

Laeli yang pertama kali melihat saya ketika saya mengarahkan mobil menuju bagian kedatangan di lokasi bandara. Dan ketika saya melihat sendiri besarnya koper yang dibawa Laeli, spontan saya bilang, “Laeli, kamu bawa koper macam begitu, kayak kamu mau pindah kampung aja!”

Kopernya memang besar, sih. Belum lagi, alamak! Laeli membawa tentengan barang-barang lain, buah tangan termasuk sayuran kangkung Lombok yang ukurannya juga jumbo. Kelak kangkung jumbonya yang banyak itu dibagi-bagi ke tetangga dan ke teman keluarga kami, setelah kami sendiri ambil secukupnya. Aduh, Laeli, adik saya yang satu ini, bener, deh, luar biasa, bikin kami tepok jidat! Sudah jauh hari saya dan Mama sampaikan padanya, tidak perlu merepotkan diri membawa buah tangan untuk kami, cukuplah Laeli tiba di kota kami dengan selamat dan sehat, karena kami senang bisa jumpa lagi dengannya dan terutama, karena Laeli tidak melupakan kami.

Kami bergegas menuju rumah saya karena Laeli dan kawannya itu harus persiapan betul untuk esok harinya ke kamus UPI tak banyak waktu lagi. Tiba di rumah, diputuskan bahwa malam itu mereka harus nginap di rumah kami dan Intan serta Laeli setuju bahwa koper-koper mereka ditinggal dulu, saat mereka ke kampus untuk acara pembukaan tugas belajarnya. Mereka menuju kampus UPI akan naik taksi, dan kebetulan satu merek taksi kota saya punya pool di belakang rumah saya. Maka mereka akan naik taksi itu untuk menuju kampus UPI. Cukup tinggal tunjukkan satu jari, maka segera seorang supir, taksi siap. Ya, karena banyak armada taksi yang parkir berjajar di depan sepanjang tembok rumah saya setiap pagi hari.

Teman yang dibawa Laeli, dikenalkan namanya Intan, asal Sumbawa Besar, Pulau Sumbawa. Intan ini perawakannya kecil, langsing dan ternyata wajahnya banyak “bintang” alias banyak jerawat. Sejujurnya, ketika Intan dipertemukan dengan Mama saat kami semua tiba di rumah saya, Mama sempat trenyuh padanya. Apalagi ternyata Intan ini termasuk punya masalah, susah makan! Segera saja di benak saya terlintas jurus-jurus untuk “memperbaiki” Intan yang kelak akan memiliki tampilan wajahnya yang berubah sekali, setelah dia selesaikan tugas belajarnya.

Esok harinya mereka berdua bergegas berangkat ke kampus UPI dan sorenya, kembali ke rumah kami untuk ambil koper, pindah ke tempat kos. Saya bersama Edwin lagi, mengantarkan mereka dan ketika tiba di tempat kos, duh, situasi kosnya sebenarnya memprihatinkan. Sempit, harus naik-turun tangga dan lembab, kamarnya di paling ujung pula, namun baik Laeli dan Intan bisa menerimanya, karena lokasi kosnya memudahkan mereka untuk mencapai UPI dan lagipula, fasilitasnya masih jauh lebih baik daripada tempat-tempat kos teman-teman mereka yang kabarnya malah dapat kosongan, alias kamar saja tanpa ada kasur, meja, apalagi lemari untuk baju bahkan kamar mandi dalam.

Inilah gambar yang mereka kirimkan dari kelas mereka, setelah mereka tinggal di tempat kos.

Selama masa 3 bulan mereka tugas belajar, ada beberapa kali Laeli sendiri atau Laeli bersama Intan mengunjungi kami dan menginap semalam di waktu akhir pekan. Saya sempat mengajari mereka naik angkot, naik bus kota, karena mereka harus bisa ke mana-mana sendiri menggunakan transdportasi umum yang ada. Bahkan Laeli lebih hebat lagi. Di suatu akhir pekan panjang karena ada hari libur nasional, dia pergi sendiri ke Semarang mengunjungi adiknya, dengan transportasi bus AKAP yang berangkat malam hari, karena sudah tidak kebagian tiket kereta api Bandung – Semarang pp. Intan yang awalnya mau ikut ke Semarang, membatalkan rencananya dan memilih pergi bersama kawan-lawan sekelasnya. Di suatu akhir pekan bahkan Intan menjajal kereta api lokal bersama kawan-lawannya tsb ke Sumedang. Baguslah untuk Intan bisa merasakan moda transportasi yang tidak ada di kota asalnya, yaitu kereta api.

Di masa akhir waktu tugas belajar mereka, pas waktunya bulan puasa. Seminggu sebelum mereka selesai belajar, Laeli memberi kabar akan menginap lagi di rumah kami, tapi kali ini Intan akan memberi kejutan. Ketika tiba di rumah kami, Intan memperlihatkan wajahnya yang sudah bersih dari jerawat membandelnya. Ternyata itu bisa terjadi karena Intan mau menuruti saran kami, agar rutin minum yoghurt setiap hari. Saya ingat betul, ketika pertama kali Intan di rumah kami, dia emoh minum yoghurt sampai akhirnya mau dibujuk dengan yoghurt rasa Anggur. Rupanya alasan Intan emoh minum yoghurt adalah rasa yoghurt yang kecut, tapi begitu dia mencicipi yoghurt rasa anggur yang kami berikan padanya, barulah dia menyukainya dan mau rutin minum.

Ada dua malam mereka menginap di rumah kami, sepekan menjelang selesainya tugas belajar mereka, dan mereka sempat silaturahmi dengan tetangga seberang rumah kami, yang membuat tajil untuk buka puasa. Mereka berdua suka sekali menyantap Karedok setelah selesai sholat maghrib selepas buka puasa. Laeli malah suka sekali dengan Bubur Sumsum sampai setiap kali buka puasa, dia beli menu itu. Tidak masalah pun bagi saya saat bangun dinihari untuk menyiapkan sahur bagi mereka berdua dan menemani mereka makan sahur sebelum berkegiatan di pagi harinya.

Di waktu menginap dua malam ini, Intan yang sudah dapat kepastian akan terbang pulang dari Jakarta, belajar untuk membeli tiket kereta api rute Bandung – Jakarta dari sebuah minimarket dekat rumah.

 

Kepulangan Mereka

Tibalah hari ketika mereka benar-benar mengakhiri tugas belajarnya. Waktu sangat mepet bagi mereka terutama bagi Intan. Suatu Minggu siang saya jemput mereka dari tempat kos, busyet! Barang yang harus diangkut banyak sekali, ibarat sudah tinggal selama bertahun-tahun. Belum lagi saya mesti membawa mobil dengan agak ngebut dan mencari jalan-jalan alternatif menuju ke rumah yang lebih bebas dari macet, karena sore harinya Intan harus sudah berada di Stasiun Bandung. Terima kasih dengan adanya Google map GPS, jadilah kami ambil rute yang memutar ke arah luar kota Bandung untuk menuju ke rumah saya walau jauh, namun arus lalu lintasnya lancar sehingga ketika tiba di rumah, bahkan masih sangat cukup waktu untuk Intan dan Laeli beli tajil untuk terakhir kalinya ke si tetangga seberang.  Sempat makan dulu karena mereka berdua sedang tidak bisa berpuasa saat itu, bebenah barang-barangnya dan bahkan sempat ambil gambar terakhir sebelum menuju ke Stasiun Bandung. Hal itu tak akan mungkin terjadi bila kami ambil rute lewat kota yang lebih pendek jaraknya, karena melalui Google map GPS banyak ruas jalan yang sudah berwarna merah gelap, tanda kemacetan ada di situ.

Bergambar bersama Mama dan kakak saya untuk terakhir kali sebelum Intan ke Stasiun

Intan, sebelum boarding ke kereta

Tibalah di Stasiun Kereta Bandung dan hal yang saya duga terjadi. PT KAI mempercepat keberangkatan 10 menit dari yang seharusnya Pk 16.10. Untung saja kebiasaan saya dan keluarga untuk siap di stasiun minimal 45 menit sebelum jadwal keberangkatan kereta membuat semua hal yang perlu bisa dilakukan sebelum Intan benar-benar harus masuk ke peron stasiun ketika kami para pengantarnya sudah tidak bisa lagi masuk. Mencetak boarding pass kereta, ambil uang di ATM sampai bergambar bersama dulu sebelum kami benar-benar berpisah dengan Intan. Selepas bergambar ini, Intan check in untuk masuk peron dan rasanya campur aduk antara senang dan sedih melihatnya berjalan menuju gerbong kereta. Senang karena Intan akan kembali ke keluarganya, sedih karena Intan pun sudah jadi bagian keluarga kami dan sekarang harus pergi dari kami.

Intan memang sudah pergi tapi dia masih menyisakan PR untuk kami, terutama untuk Laeli. Ada satu koli barangnya yang akan dikirimkan pakai ekspedisi, bersama 3 koli barang milik Laeli. Maka selepas mengantar Intan, kami pulang, dan tiba di rumah, Laeli jadi sibuk melakukan pengepakan barang-barangnya karena esok paginya Laeli akan terbang ke kotanya dari bandara Bandung. Pengepakan mesti sebaik mungkin agar ketika pengiriman oleh ekspedisi, tidak sampai terbuka di tengah jalan.

Malam itu juga setelah pengepakan selesai, Laeli minta agar si bapak petugas agen ekspedisi untuk ambil/jemput semua total 4 koli barang. Kami menggunakan ekspedisi anak perusahaan sebuah maskapai penerbangan nasional. Petugas agen ekspedisinya, masih tetangga saya dan mau menjemput kesemua barang yang akan dikirimkan. Maka barang-barang dijemput untuk dilakukan penimbangan dan pengukuran agar mendapatkan angka berat yang pasti. Entah berat karena massa barang atau bisa saja kena berat setelah dihitung volume kemasan barang. Sampai dua kali bolak-balik karena ternyata si petugas hanya pakai sepeda motor.

Setelah barang dijemput, saya menemani Laeli ke kantor agen ekspedisinya untuk menyelesaikan pembayaran biayanya, sekalian memastikan bagaimana pengemasaan oleh si agen. Bagi Laeli keberuntungan yang didapatnya karena lokasi agen ekspedisi dekat plus dapat harga khusus tetangga yang diberikan si petugas agennya, karena harga khusus tsb semestinya kepada saya, sih, sebagai tetangga si bapak petugas. Semua barang termasuk milik Intan dikirimkan ke Mataram.

Urusan pengiriman selesai selepas Pk 22.00. Makanya jika para pembaca melihat wajah saya yang kurang segar di foto di bawah ini, ketika saya dan Laeli bergambar bersama di bandara, yah, itu efeknya. Foto itu dibuat menjelang pukul setengah enam pagi, sebab Laeli, saya, Mama dan keponakan saya bangun di sebelum subuh untuk persiapan mengantar Laeli ke bandara. Walau jarak dari rumah saya ke bandara amat dekat, nggak sampai 3 KM, namun perlu ada saja kewaspadaan dan antisipasi dalam perjalanan.

Berfoto pada replika bus Bandros

Laeli akhirnya terbang pulang ke Mataram. Sempat berkirim kabar penerbangannya dialihkan ke Surabaya karena cuaca burut saat mau transit di Denpasar, akhirnya tibalah dengan selamat di kampung halamannya.

Pada hari Idul Fitri, Intan dan Laeli masing-masing mengirimkan gambar bersama keluarga tercinta mereka selepas sholat Ied merayakan Idul Fitri. Paling mudah menemukan Intan di gambar yang dia kirimkan. Intan, yang wajahnya paling cling dan susah bebas dari jerawat, hehe. Dan bisa melihat kebahagiaan Laeli bisa berkumpul lagi bersama anak dan suami setelah 3 bulan tugas belajar.

Terima kasih adik-adikku Intan dan Laeli atas kesempatan saya beserta keluarga boleh dipercaya menjadi keluarga kalian. Bersyukur karena kita menjadi contoh langsung bahwa toleransi itu tak hanya sekedar baru ucapan, namun kita sudah buktikan dengan tindakan nyata. Salam hangat selalu dari kami di Bandung.

Tidak lupa, terima kasih kepada Angel, teman kita salah satu penulis BALTYRA, karena mulanya melalui Angel, maka kisah kami ini bisa terekam di sini.

Menjadi keluarga, tak mesti karena sebatas hubungan darah dan daging. Menjadi keluarga pun dapat karena kasih dan kemanusiaan.

 

Cibeureum – Bandung, 11 Juli 2017

Linda Cheang

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Anggota Keluarga Baru"

  1. erni  18 July, 2017 at 15:11

    senang dan adem rasanya membaca cerita tentang kerukunan dan kekeluargaan walaupun beda latar belakang, agama dan budaya, asal punya hati yg tulus semua dapat hidup bersama dengan damai.

  2. Linda Cheang  18 July, 2017 at 13:00

    Redaksi terima kasih untuk sudah dimuatnya artikel ini

    Angela Januarti Adikku Angel, ayo, ditunggu kehadiranmu di rumah kami lagi.

    James ya, memang dekat, koq rumahku ke airport BDO, hehe

    Sierli persaudaraan itu selalu indah, Sierli, tak soal berbedanya latar belakang dan asal-muasal kita, tetap bisa rukun selalu. Salamnya disampaikan.

  3. Sierli FP  18 July, 2017 at 10:45

    Indahnya persaudaraan, berbagi kasih.
    Salam buat Mama Linda.

  4. James  18 July, 2017 at 05:55

    A happy momento together, pantas saja jarak rumah Linda dgn Airport dekat karena Cibeureum krn dulu sblm pindah ke Ozi sy tinggal di jl Suriani jd tau Cibeureum

  5. Angela Januarti  17 July, 2017 at 15:13

    Terima kasih untuk cece dan keluarga untuk kebaikannya. Membaca kisah ini, aku rindu untuk kembali mengunjungi kalian. Moga awal September aku bisa ke sana lagi ya ce.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *