Belajar dari Azka

Juwandi Ahmad

 

Menulis itu bukan seperti orang buta yang dipaksa melihat. Orang bisu yang diminta bicara. Orang tuli yang disuruh mendengar. Menulis juga bukan sebentuk cita-cita, yang katanya harus digantung setinggi langit, dimana sebagian orang berhasil dan sebagian yang lain gagal.

Menulis, kata Seno Gumira Ajidarma, adalah cara untuk bicara, cara untuk berkata, cara untuk menyapa, dan cara untuk menyentuh seseorang yang entah di mana. Kemampuan dasar yang diperlukan juga sederhana, yakni bisa membaca, merangkai huruf, kata, dan kalimat yang bernakna. Jadi, menulis dan berbicara pada dasarnya sama. Ada hal-hal yang ingin dikatakan lalu Anda bicara. Ada sesuatu yang ingin diungkapkan lantas Anda menulis. Menulis atau bicara, intinya hanya satu, yakni tentang pikiran dan perasaan Anda.

Lihat, setiap hari, saya, Anda, dan nyaris semua orang menyatakan apa yang ada dalam kepala dan hatinya. Di rumah, di pasar, di sekolah, di tempat kerja, dan dibanyak tempat. Pada orangtua, saudara, teman, dan bahkan yang tidak dikenal. Orang-orang yang diajak bicara itu pun memahaminya. Bila yang Anda katakan itu dicatat kata perkata, kalimat demi kalimat, jadilah tulisan. Benar yang dikatakan Helvy Tiana Rosa, “Menulis itu sebenarnya sama dengan berbicara, hanya saja itu kau catat.” Maka, jangan heran bahwa menulis tidak akan pernah lebih sulit dari berbicara. Yang mungkin, justru berbicara yang bisa lebih sulit dari menulis. Tidak semua yang piawai menulis dapat berbicara dengan baik dan menarik. Namun, mereka yang dapat berbicara dengan baik dan menarik, pasti dapat menulis dengan kualitas yang setara saat ia berbicara.

Sapardi Djoko Damono dalam salah satu puisinya mengatakan, “Di tangan anak-anak, kertas menjelma perahu Sinbad yang tak takhluk kepada gelombang, menjelma burung yang jeritnya membukakan kelopak-kelopak bunga di hutan.” Itu puisi tentang kepolosan kreatif dari alam pikiran anak-anak. Maka, saya ingin ajak Anda belajar menulis dari seorang anak beruia 10 tahun, Azkanio Nikola, yang juga menulis dengan kepolosan kreatif. Suatu daya cipta, yang justru sering hilang dari manusia dewasa.

~My name is Azka, and this is a story of a broken home kid. Mom and dad meet, they fell in love and decided to have a kid. I was born on 04-06-06, they named me Azka. Everything went fine until I am 6 years old. We have a great family. Mom and dad start to argue on alot of things, and it must be big enough so they decide to divorce. They told me about it, and tell me don’t to worry, and I don’t have to choose between them. I still stay on the same house and I found my dad is more fun to play, so I ask him to stay with me mostly. My mom stay very close to my house and always come to us almost everyday. They never fight anymore, and we still go to malls and abroad together. I always sleep with my dad because I am afraid of zombie and my dad is strong. And my mom always visit to take care of me. Most people ask what does it feel to be a broken home kid? But the fact is nothing is broken. They just not husband and wife, but still my parents. I am enjoying this as much as before and they never fight anymore. When people ask me, do I want them to get back again. I said No. All I want is them to be happy. It’s not a broken home when you still have the same love from your parents. I love you mom. I love you dad. I am happy. Thank you for being the best parents I ever know~.

Dari tulisan anak berusia 10 tahun itu, Anda dapat belajar tentang tuju hal paling mendasar yang diperlukan untuk bisa menulis dan menghasilkan karya tulis yang layak untuk dibaca.

Pertama, punya sesuatu untuk disampaikan. Belajar teknik menulis, entah novel, cerpen, artikel, atau esai, tak akan banyak gunanya bila Anda tak punya ide, gagasan untuk disampaikan. Sekali lagi,“You write because you have something to say.” Begitu kata Fitzgerald. Azka punya sesuatu untuk disampaikan, yakni tentang broken home.

Kedua, perbendaharaan kata yang memadai. Anda tahu hendak mengatakan sesuatu hal. Tapi, bila Anda tak memiliki cukup kata-kata akan sulit bagi Anda untuk dapat menyatakannya dengan tepat. Ini sering terjadi. Menarik bahwa Azka memiliki perbendaharaan kata yang kaya, yang lebih dari cukup untuk digunakan menyatakan pikiran dan perasaannya. Coba lihat, Azka tidak menggunakan kata “menikah,” tapi “jatuh cinta.” Itu pilihan kata yang tepat. Kata “jatuh cinta” lebih personal, psikologis, dan hidup ketimbang kata, “menikah” yang normatif. Selain bagi Azka, kata “cinta” lebih nyata ketimbang kata “menikah.” Dan yang paling menarik perkataannya, “And decided to have a kid.” Momen seksual yang tabu itu dinyatakan dengan begitu halus, elegan, dan logis. Itu pemilihan kata yang tepat dan cerdas.

Ketiga, benar-benar memahami apa yang akan ditulis. Itu juga yang terlihat dari tulisan Azka. Saking fahamnya, ia bahkan punya cara pandang yang berbeda tentang broken home. Kebuntuan (writer block) akan sering terjadi bila Anda tidak benar-benar memahami dan menguasai apa yang akan ditulis.

Keempat, semata-mata mencurakan ide, pikiran dan perasaan. Apakah Azka sedang belajar menulis? Tidak. Apakah ingin menjadi seorang penulis? Saat itu, tidak. Apakah ia berpikir keras tentang bagaimana cara menuliskannya? Sama sekali tidak. Apakah ia berusaha melahirkan tulisan yang bagus? Juga tidak. Azka menulis semata-mata karena ada sesuatu yang menurutnya penting untuk disampaikan. Itu yang membuat yang ia tulis menjadi sama persis dengan apa yang ingin dikatakannya. Mengalir begitu saja.

Kelima, sistematis-logis. Antar baris dan antar paragraf saling terkait secara runtut dan membentuk satu kesatuan gagasan yang utuh. Terlihat jelas bagaimana Azka menulis dengan sistematis-logis. Ia memulai tulisannya dengan nama dan apa yang akan diceritakan. Lalu ia bercerita tentang bapak dan ibunya yang bertemu, saling jatuh cinta, memutuskan punya anak, lahirlah Azka, dan seterusnnya.

Keenam, cara pandang yang berbeda. Ini yang akan membedakan antara satu tulisan dengan tulisan lain, mekipun membicarakan hal yang sama. Broken home adalah topik yang sangat biasa. Itu menjadi menarik bukan hanya karena yang menulis anak-anak, tapi juga cara pandangnya. Ini terlihat jelas dari perkataan, “It’s not a broken home when you still have the same love from your parents.” Ia menolak perceraian orangtuanya disebut broken home. Sebab menurutnya, yang terpenting cinta kedua orangtua tetap ada dan sama. “When you still have the same love from your parents,” itu bukan broken home. Apapun itu, “They just not husband and wife, but still my parents.” Lalu ia tutup tulisannya dengan kata-kata yang manis, “Thank you for being the best parents I ever know. Itu menegaskan cara pandangnya.

Ketujuh, kepekaan-sensitivitas rasa. Tak mudah menyampaikan sesuatu secara logis sekaligus dengan kepekaan yang menyentuh aspek-aspek psikologis. “I love you mom. I love you dad. I am happy. Thank you for being the best parents I ever know.” Azkanio dihujani banyak cinta dari kedua orangtuanya. Dan ia melihat itu bukan dari kaca mata seorang anak yang sewajarnya dicintai orang tuanya, tapi sebagai orang lain yang memandang kebaikan selayaknya diapresiasi dengan hati yang tulus.

Bayangkan, Anda sudah dapat menulis dengan cara seorang anak berusia 10 tahun itu menulis. Bila Anda jauh lebih tua dari Azka, orang boleh menduga, Anda punya lebih banyak hal untuk disampaikan. Memiliki perbendaharaan kata yang jauh lebih kaya, variatif. Punya banyak cara untuk dapat benar-benar memahami yang akan ditulis. Lebih bisa berkonsentrasi, fokus untuk semata-mata mencurakan ide, pikiran dan perasaan. Memiliki kemampuan berpikir logis dan sistematis yang jauh lebih memadai. Punya cara pandang yang lebih luas. Dan, kepekaan untuk dapat menyentuh aspek pikologis. Artinya, Anda bisa lebih dari seorang Azka, yang mampu menghasilkan karya tulis yang layak baca.

 

 

3 Comments to "Belajar dari Azka"

  1. Alvina VB  2 August, 2017 at 23:43

    James, rajin euy….masih dingin ya di Ausie? Di sini lagi panas.
    Mas Juwandi, bravo….nulis lagi euy……, bravo buat Azka yg berani menguangkapkan kata hatinya dlm bhs Inggris. Memang bagus, menulis itu terapi buat anak-anak dan juga org dewasa. Saya rasa kl menulis dlm bahasa ibu pasti ungkapan hatinya bisa lebih mendalam lagi, krn menterjemahkan bhs Indonesia ke bhs asing atau sebaliknya, terkadang ada kata2 yg gak bisa digantikan, blm lagi structure dan grammar nya yg beda banget.

  2. Gunawan Prajogo  2 August, 2017 at 20:19

    Kalau ditinjau hanya dari segi tata bahasa Inggris yang benar, banyak kesalahan yang ditulis Azka. Tetapi kalau ditinjau lebih dalam, bahwa sebenarnya Azka menulis dengan perasaan cinta dia terhadap kedua orang tuanya. Mom and dad “meet” and they “fell” in love dan seterusnya. Dia tekankan disini bahwa kedua orang tuanya masih sering bertemu walau mereka sudah tidak saling mencintai. Satu kalimat yang mas Juwandi sebut dua kali menunjukkan betapa dalam cinta Azka kepada kedua orang tuanya. Salam

  3. James  18 July, 2017 at 06:03

    H a d i r menantikan Kenthirs lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *