Keputusan Sang Raja

Wesiati Setyaningsih

 

Alkisah di suatu kerajaan yang gemah ripah loh jinawi, Sang Raja sedang meminta pertimbangan pada dua Penasehatnya.

“Mereka menawariku untuk masuk agama mereka. Bagaimana menurut kalian? Ini agama pembawa kedamaian.”
“Agama apa yang lebih baik dari yang kita anut saat ini, Yang Mulia? Agama kita adalah budi pekerti. Segala kebaikan ada di sini.”
“Mereka bilang agama mereka adalah keindahan, Penasehat. Aku tertarik.”
“Agama kita mengajarkan untuk mengatur diri sendiri agar memiliki budi pekerti yang baik, Yang Mulia? Apa yang lebih indah dari itu?”

Sang Raja makin gelisah.
“Kerajaan ini butuh dukungan mereka.”
“Yang Mulia tahu selama ini semesta membantu kita. Kita tak butuh dukungan para penyebar agama itu.”
Raja makin murung. Dua penasehat saling berpandangan dan maklum.
“Yang Mulia, kalau memang itu keputusan Yang Mulia, kami tahu diri. Kami pamit.”

Sejak itu dua penasehat menghilang tak tentu rimbanya. Tak ada yang tahu kapan dan ke mana mereka pergi. Sang Raja telah mengangkat penasehat baru, para penyebar agama.


Ratusan tahun setelah kejadian lenyapnya dua Penasehat tadi, kerajaan sudah menjadi negara maju. Gedung besar berdiri, tak mau kalah dengan negara-negara lain di sekitarnya.

Hanya satu kekurangan yang tak terlihat dari mata telanjang, sifat rakyatnya yang sangat buruk. Mereka gemar mencaci satu sama lain. Tak ada lagi kedamaian yang diiming-imingkan para penyebar agama pada Sang Raja.


Nun jauh di kahyangan, Sang Raja dan dua Penasehatnya menyaksikan ini semua.
“Tak ada yang lebih indah dari agama kita dulu, Penasehat. Agama budi pekerti,” Sang Raja menggumam lemah.
Dua penasehat tunduk mahfum.

Dan Sang Rajapun menangis.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "Keputusan Sang Raja"

  1. James  18 July, 2017 at 06:00

    Linda, ngakak nih baca bibib brisik yg msh ngumpet dari Poisi RI dan Hukum RI

  2. Linda Cheang  17 July, 2017 at 15:03

    Kenapa redaksi pilih gambar orangnya sepintas mirip si bibib brisik?

  3. Sumonggo  17 July, 2017 at 14:58

    Sabdo Palon dan Naya Genggong.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *