Nomer Hape, Bu

Dian Nugraheni

 

Aku mau jalan ke luar kota naik kereta api. Katanya, tiket bisa dibeli di toko-toko kelontong tertentu. Maka kami datangi toko kelontong terdekat, Alfamart, Purwakencana, di kota kami.

Aku, “Mbak, mau beli tiket kereta, buat besok, ke kota X, kereta Y, tiga buah tiket dewasa…”

Mbaknya ngetik-ngetik di keyboard, lalu, “Nomer hapenya berapa, Bu..?”

Aku, nengok ke Mbakyuku, “Pinjem nomer hape…”

Mbak penjual, “Kalau beli tiket tiga, nomer hapenya harus tiga….”

Aku, agak teriak, “Lho, saya itu nggak punya hape, itu satu nomor hape buat tiga tiket bersama, nggak bisa…?” Berharap ditanyai kartu identitas, aku sudah bawa paspor buat aku bertiga anak-anak.

Mbak penjual, “Nggak bisa, bu.., harus satu tiket satu hape…, Ibu bisa pakai nomer hape siapa saja…pokoknya ada nomernya..”

Aku, berang, “Lho, mbake itu gimana to, lha kalau saya kasih nomer hape orang-orang tanpa minta ijin ke yang punya, itu kan namanya kriminal…, hati-hati mbak…”

Aku masih ngomel, “Ohh, dasar, gendeng, tuku tiket kereta kok harus ada nomer hape.., lha maksude piye to iki.., po nek ga punya hape njur ga boleh beli tiket kereta..? Tak telpon nanti pak Jonan..!”

Mbaknya keukeuh, ga bisa melayani. Lalu aku bayar beberapa barang belanjaan. Terakhir, mbaknya bilang, “Mau beli pulsanya, Bu..?”

Aku, teriak, “Lha saya itu tidak punya hape, pulsa buat apa..?”

Lalu aku ke stasiun kereta, ke customer service. Jawabnya sama,”Masih banyak seatnya, besok Ibu bisa beli langsung, atau beli di toko terdekat yang melayani penjualan tiket..”

Aku, “tapi tadi diminta satu nomor hape buat satu tiket, gimana ini..?”

Mas Customer Service Stasiun,”Ya memang gitu kok Bu, tergantung operatornya…bla..bla..bla.., Ibu bisa kasih nomer hape sembarang aja, pokoknya ada nomor hape…”

Aku, teriak lagi, “Ini nggak bener, saya akan telpon pak Jonan minta kejelasan…”

Mas Customer Service, “Silakan, Bu…”

Wuedyaaaan, ternyata hidup di Indonesia harus punya hape, meski buat anakku yang barusan ultah ke 16. Bahkan di Amrik aku sudah hampir 4 tahun hidup tanpa hape dan telpon rumah, baik-baik saja. Dan anakku yang barusan ultah ke 16, di Amrik hanya dikasih hape secara insidental, pas perlu aja, dipegangin, kalau ga perlu, maka nomor dia ga kami bayar, alias dia ga bisa menerima atau mengirim pesan lewat hapenya, apalagi telponan…

_Bola-bali aku sebut nama pak Jonan, dalam pikiranku dia adalah menteri yang ngurusin soal perkereta-apian juga..ehh, sok teu deh…, jangan-jangan pak Jonan udah ga jadi menteri yang urus kereta api, ya..?_

(Begini kalau tanduk telanjur menjulur: berang, teriak, dan keras, dan sedikit ngawur…hahaahh..maaf…)

 

 

5 Comments to "Nomer Hape, Bu"

  1. bella kirana  24 July, 2017 at 11:36

    Sistem aplikasinya menuntut itu, mbak. Kalo nggak diisi, aplikasinya nggak jalan .
    Memang akhirnya diakali dengan 1 no hp dari pemesan dewasa, trus berikutnya 1-2 digit no belakang diganti. Hehehe, jadi sebenarnya memang jadi nggak ada fungsinya no hp tsb kalo datanya asal-asal saja.

  2. sugiarto goh  20 July, 2017 at 15:01

    wk…wk…wk

  3. Lani  20 July, 2017 at 14:02

    Dian: wakakakak…………selamat datang di Indonesia………mmg begitulah siap2 saja dibikin mangkel, judeg (nek Gudeg enaaaaaaaaaak………, gedek dst………..tambahi dewe……….hehehe

    James: kok bravo kenthirs memangnya kenapa???

  4. Linda Cheang  19 July, 2017 at 14:24

    Yah, Mbak Dian ketinggalan kereta! Pak Jonan udah ganti jabatan, jadi Menteri ESDM sekarang, hehehehehe

    Pantesan aja si mas Customer Service-nya tenang-tenang aja.

    Hahahaha

  5. James  19 July, 2017 at 11:47

    Indonesia Today 2017

    bravo Kenthirs Indonesia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *