Don Bosco Salamun

Handoko Widagdo – Solo

 

Lounge Garuda Bandara Sukarno Hatta, 22 Juni 2017

Saat saya sedang menikmati KOMPAS di lounge Garuda, datanglah sosok gempal berwajah Flores di dekat saya. Saya yakin sekali bahwa beliau adalah Don Bosco Salamun. Meski saya belum pernah berbincang sebelumnya, tapi seringnya saya melihat wajahnya di layar TV membuat saya tidak sangsi bahwa dialah ia.

Saat beliau jeda membaca screen hp, saya mendatangi dan menyapa sambil memperkenalkan diri. Beliau menyambut akrab sapaan saya. Apalagi saya membawa buku kenangan sekolah dimana beliau pernah belajar. “Kisol Kenangan dan Harapan,” adalah buku kenangan 60 tahun Seminari Kisol. Don Bosco Salamun menyumbang satu tulisan dalam buku ini. Buku yang saya sodorkan tersebut segera dinikmatinya. Ia memeriksa setiap bab dan mencoba mengenali para penulisnya.

Keasyikannya memeriksa buku kenangan almamaternya membuat perbincangan kami agak datar.

Namun saat saya sebutkan topik tentang persekolahan di Flores, beliau tampak berbinar dan menutup buku kenangan tersebut. Saya sampaikan bahwa saya pernah bergabung dalam proyek pendidikan dasar yang bekerjasama dengan keuskupan Ende. Saya sampaikan bahwa ada keluhan tentang kualitas pendidikan yang diselenggarakan oleh persekolahan Katholik.

Hal ini diduga disebabkan karena terlalu banyaknya guru-guru dan bahkan kepala sekolah PNS yang ada di sekolah Katholik. Akibatnya yayasan sulit untuk mengontrol guru karena sumber gaji mereka bukan dari Yayasan. Beliau menanggapi bahwa harus diakui gereja kehilangan kemampuan, khususnya finansial untuk penyelenggaraan pendidikan di Flores. Itulah sebabnya banyak tanggungjawab yang diambil oleh negara. “Harusnya gereja mengurangi jumlah sekolah. Fokus ke sedikit saja sekolah tapi dikelola dengan mutu yang baik,” tanggap beliau.

Saya juga sampaikan bahwa SMK Pertanian di Flores sudah tidak lagi bisa memenuhi kebutuhan ahli pertanian di NTT. Dulu hampir semua pejabat di dinas pertanian kabupaten maupun provinsi dan para PPL adalah lulusan sekolah pertanian (SPMA). Namun saat ini, setelah SPMA berubah menjadi SMK justru lulusannya sulit terserap. Mengapa? Saya sampaikan alasan saya bahwa kurikulumlah yang salah. Dulu SPMA di Flores fokus kepada tanaman-tanaman lahan kering. Tanaman-tanaman utama yang ada di NTT, seperti padi lahan kering, jagung, kopi dan kakao. Tetapi sekarang, karena SMK harus memakai kurikulum nasional maka siswa SMK pertanian juga harus belajar tentang sawit dan karet yang tidak ada di Flores atau NTT. “Itu benar!” Kata beliau. “Mestinya mereka kembali belajar tanaman-tanaman utama yang ada di Flores. Mereka mesti belajar tentang kopi. Manggarai itu pusatnya kopi. Coklat juga tanaman penting di Flores,” tambahnya.

Saya menyarankan harus ada yang berani mengadvokasi supaya kekhususan SMK Pertanian dikembalikan. Namun Don Bosco Salamun skeptis karena advokasi di dunia pendidikan sering tidak didengar.

Selanjutnya kami berbincang tentang Kisol. Kisol adalah seminari yang melahirkan banyak orang sukses. Bukan saja sukses sebagai gembala umat, tetapi banyak juga yang sukses di berbagai bidang. Menurut beliau keberhasilan Kisol adalah karena setiap siswa diberi kesempatan untuk meraih apa yang mereka inginkan. Kalau ada yang menonjol di bidang sains ia didorong berkembang di bidang sains. Kalau ada yang menonjol di bidang musik, mereka didorong berkembang di bidang musik. “Mereka diberi target 3 bulanan. Kalau mereka bekerja keras untuk mencapai target ya pasti berhasil. Tapi yang malas harus out!” Demikian beliau menjelaskan proses belajar di Kisol.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "Don Bosco Salamun"

  1. James  22 July, 2017 at 13:07

    apakah masih sodaraan sama Don Juan ?

  2. Handoko Widagdo  22 July, 2017 at 08:44

    Maafkan daku karena salah menulis nama beliau. Seharusnya nama beliau adalah Don Bosco Selamun, bukan Salamun.

  3. Handoko Widagdo  22 July, 2017 at 08:30

    Lani dan Tri, beliau memang salah satu tokoh press yang hebat di Indonesia.

  4. Tri  21 July, 2017 at 11:43

    Suka tokoh satu ini,Don Bosko Salamun

  5. Lani  21 July, 2017 at 10:04

    Hand: Aku menyukai Don Bosco Salamun tiap kali dia mewawancarai para tokoh dinegeri ini

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *