Yang Unik di Bali – Sate Susu di Kampung Jawa

Dwi Setijo Widodo

 

Bulan Ramadan memang selalu menjadi bulan yang istimewa. Terutama menjelang berbuka puasa dimana akan banyak sekali para penjual makanan musiman yang menjual berbagai makanan untuk berbuka puasa yang biasanya tidak akan ditemui pada hari-hari biasa.

Seperti saat saya tinggal di Pangkalan Bun, meskipun kue sejenis bingka yang cukup khas sebagai oleh-oleh dari Pangkalan Bun dapat ditemui di hari-hari biasa, tapi biasanya hanya yang standar saja. Untuk jenis bingka berondam (bingka berbahan telur bebek dan lebih mirip puding – aromanya memang jadi lebih amis dari yang biasa), atau jenis yang lain akan mudah ditemui dan dijajakan saat Ramadan. Seluruh kota Pangkalan Bun akan dipenuhi gerai kaki lima yang sengaja dibuat untuk mewadahi para penjual musiman ini. Saya biasanya suka mampir di dekat Bundaran Pancasila atau di bawah, di Mendawai. Saya biasanya suka kalap kalau sudah begini karena semuanya terlihat enak dan wuenak buat saya.

Bingka Pangkalan Bun

Membakar sate ikan

Demikian juga di Bali. Di dekat tempat tinggal saya, daerah Batu Bulan dan sekitarnya, para penjual musiman semacam ini banyak ditemui di sekitar wilayah Tohpati, Denpasar. Tidak ada yang khas memang, meskipun beberapa penganan biasanya memang mudah ditemui saat Ramadan saja. Seperti kolak pisang, kacang hijau, es puding, bubur biji salak, beragam gorengan.

Nah, bila mencari yang khas dan biasanya hanya ditemui saat Ramadan, sate susu dari Kampung Jawa, Denpasar, memang perlu dicoba. Meskipun saya sudah tahu cukup lama, terus terang saya baru ke sana dan tahu seperti apa bentuk dan rasa satu susu itu setelah beberapa minggu lalu, saya berempat dengan kawan-kawan pergi ke sana.  awalnya sih hanya rencana ngabuburit ke Kampung Jawa.

Penjual berbagai jenis sate di Kampung Jawa

Saat menjelang sampai, saya bertanya ke mereka, “Kita hampir sampai, nih. Kira-kira kalian sudah tahu pengennya kemana di Kampung Jawa?” Kami semua terdiam sesaat berpikir dan tiba-tiba kami semua tertawa. “Bagaimana kalau kita cari sate susu?” akhirnya Hari, salah seorang teman, memberikan usulan. “Ide yang bagus, Har!” Ayu, Matteo, dan saya serempak menyetujui sambil tergelak. Menyadari kalau kami ke Kampung Jawa memang tidak punya tujuan khusus, kecuali hanya ingin tahu seperti apa Kampung Jawa di Denpasar sembari ngabuburit. Kami memarkir motor kami di sekitar masjid yang ternyata sudah dipenuhi oleh para pemburu makanan berbuka puasa.

Jangan membayangkan sate susu seperti apa yang saya bayangkan sebelumnya. Saya sebenarnya tidak makan daging. Bagi saya waktu itu, sate susu itu terbuat dari bahan susu yang mengeras seperti jenis keju feta yang ditusuk-tusuk dan dibakar dengan bumbu sate. Jadi, pada saat Hari mencoba membeli 10 tusuk sate susu – harganya 2 ribu Rupiah per tusuk dan menawarkan ke saya untuk mencoba, saya dengan santai melahapnya dengan rasa ingin tahu. Rasanya, kenyal-kenyal seperti daging… “Kayaknya ini daging, deh, Har…?” saya mulai curiga. “Memang daging kok, Pakde…” jawab Hari dengan santai sambil mengunyah dengan nikmat sate susunya. Glek… Saya speechless… Malu bertanya, akhirnya memang membawa sesat di jalan…

 

Penjual musiman di Kampung Jawa

Rasa ingin tahu akhirnya membuat saya bertanya ke salah seorang penjual sate susu yang rata-rata adalah orang Madura ini. Confirmed, sate susu ternyata memang terbuat dari daging di bagian sekitar puting susu sapi. Tak heran, warna dagingnya pun khas. Putih dan sekilas memang mirip dengan apa yang ada dalam asumsi saya sebelumnya. Terlebih bentuknya dipotong kotak-kotak. Saya tidak bertanya lebih lanjut memang sejak kapan ide membuat sate berbahan daging susu ini dimulai oleh siapa dan sejak kapan. Karena rata-rata dari mereka memang menjual musiman saat Ramadan saja. Jadi, mereka pun menjual hanya karena mengikuti apa yang diminati pembeli saat ke Kampung Jawa.

Penjual sate susu di Kampung Jawa

Sate susu

Tertarik mencoba sate susu? Atau kalau tidak makan daging seperti saya dan hanya makan ikan, ada beberapa penjual yang juga menjual sate lilit ikan. Rasanya berbeda dengan sate lilit ikan Bali karena sate lilit ikan di sini lebih berasa ada bumbu karinya. Sambalnya pun berbeda. Enak? Dijamin. Bagi yang sudah mulai terbit air liurnya, silakan datang saja ke komplek mesjid di Kampung Jawa yang terletak dekat dengan pertigaan Jalan Ahmad Yani dan Maruti ini. Tapi Ramadan tahun depan. Namanya juga penjual musiman. Hehe…

 

 

8 Comments to "Yang Unik di Bali – Sate Susu di Kampung Jawa"

  1. Lani  19 August, 2017 at 14:32

    Dwi Setijo Widodo: Weleehh…Mbak Lani, lha wong memang dari puting susu…kok… Hehe…
    +++++++++++++++++

    La yo memang dibikin dr putingnya susu sapi, tapi baca saja sampai mrinding, ngentek-e sapi sak jagad diambil putingnya dibikin satu hahaha…………

  2. Dwi Setijo Widodo  19 August, 2017 at 13:07

    Weleehh…Mbak Lani, lha wong memang dari puting susu…kok… Hehe…

  3. Lani  19 August, 2017 at 01:46

    Wadoh jd puting susu sapi diiris dibikin sate………hadeh ugh………ngeriiiiiiiiiii

  4. Dwi Setijo Widodo  17 August, 2017 at 23:27

    Betul sekali, Mas Prio. Saya tadinya pikir susu, susu, kayak keju. Ternyata puting susunya sapi. Hehe…

  5. prio saja  17 August, 2017 at 12:14

    wah itu susu beneran dijadiin sate githu ya?

  6. Lani  26 July, 2017 at 05:39

    Kalau sate lilit ikannya mau banget dimakan dgn sambal matah……………..jozzzzzzzz gandhozzzzzzzz……….

  7. Lani  26 July, 2017 at 05:39

    James: Sate susu, yg dibuat dr daging puting susu sapi?? Wuiiiiiiiih mana ada di Kona………..menurutku pribadi sate puting susu sapi nggilaniiiiiii………

  8. James  24 July, 2017 at 12:38

    Memang Indonesia itu ada-ada saja semacam sate susu ini

    apa kiranya di Kona ada gak yah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *