Armada Terhebat Sepanjang Sejarah?

Osa Kurniawan Ilham

 

Terlahir dalam keluarga Jawa, saya terbiasa untuk menghidupi kearifan Jawa ini: Ojo nggumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman, ojo dumeh. Yang terjemahannya, sebagai orang hidup seyogyanya jangan mudah merasa heran, jangan mudah menyesal, jagan mudah terkaget-kaget, jangan manja dan jangan merasa sok.

Kearifan Jawa tersebut tampaknya paralel dengan nasehat Thomas Aquinas yang kemudian dikenal sebagai dasar untuk berpikir ilmiah dan kristis: Rarely affirms, seldom deny, always distinguish.

Saya menggunakan kearifan itu ketika membaca sebuah infografis di Jawa Pos edisi 27 Mei 2017 dengan judul yang begitu megahnya “Ekspedisi Pelayaran Laksamana Cheng Ho: Armada Terhebat Sepanjang Sejarah”. Pertanyaan saya adalah benarkah demikian adanya? Apakah wartawan Jawa Pos itu sudah membaca banyak buku sejarah maritim dan catatan pelayaran sepanjang sejarah sehingga bisa mengambil kesimpulan bahwa Ekspedisi Cheng Ho-lah yang terhebat sepanjang sejarah? Apakah mereka sudah mewawancarai banyak sejarawan spesialiasi maritim atau ahli-ahli perkapalan sehingga layak mengajukan klaim sepenting itu? Apakah mereka sudah membaca buku-buku sejarah negeri mereka sendiri, terutama tulisan-tulisan ilmiah terbaru tentang teknologi maritim nenek moyang kita sendiri?

Melihat infografis ini kalau sekilas membacanya memang menyiratkan kekaguman wartawan Jawa Pos terhadap Ekspedisi Cheng Ho. Tampaknya tulisan mereka bersumber pada 2 buku. Yang pertama adalah tulisan Tan Ta Sen berjudul Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara (Penerbit Buku Kompas, 2010). Buku ini adalah terjemahan dari buku berbahasa Inggris berjudul Cheng Ho and Islam in Southeast Asia (Institute of Asia Studies, Singapore, 2009) yang didasarkan pada disertasi doktoralnya di Universitas Indonesia tahun 2007.
Buku kedua adalah tulisan Kong Yuanzhi berjudul Muslim Tionghoa Cheng Ho, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara (Pustaka Populer Obor, 2005).

 

Atas dasar apa redaksi Jawa Pos menuliskan bahwa Ekspedisi Cheng Ho adalah armada terhebat sepanjang sejarah?

Apakah karena armadanya yang sampai berjumlah 200 kapal?

Jawa Pos tampaknya mendasarkan pada tulisan Kong Yuanzhi yang menulis bahwa ekspedisi Cheng Ho saat mengantar para pendeta ke Majapahit sebanyak 200 perahu/kapal. Benarkah 200 kapal adalah armada terbesar?

Di berbagai catatan Melayu, setiap kerajaan rata-rata menggunakan 100-200 kapal dalam berbagai tipe untuk setiap ekspedisinya. Seorang pedagang kaya di Nusantara rata-rata menggunakan 40 perahu.

Hikayat Raja-raja Pasai (bertarikh Abad-4M) bab 3 ayat 98 mencatat ekspedisi Majapahit ke Pasai terdiri atas 400 jong yang sangat besar dan banyak lagi malangbang dan kelulus. Bila mengacu pada catatan Hikayat Hang Tuah (bertarikh abad 15M) bahwa setiap perahu besar didampingi 6 kapal kecil, maka ekspedisi armada Majapahit ke Pasai dan Nusantara itu terdiri dari 2800 kapal.

Sejarah Melayu (bertarikh 1612M), 5.4:47 menulis tentang ekspedisi Majapahit ke Singapura I…”Maka betara Majapahit pun menitahkan hulubalangnya berlengkap perahu akan menyerang Singapura itu, 100 buah jung; lain daripada itu beberapa melangbing dan kelulus, jongkong, cecuruh, tongkang, tiada terhisapkan lagi banyaknya.”

Sejarah Melayu *bertarikh 1612M) 10.4:77 menulis tentang ekspedisi Majapahit ke Singapura II…”Maka bagindapun segera menyuruh berlengkap 300 buah jung, lain dari pada itu kelulus, pelang, jongkong tiada terbilang lagi.”

Jumlah 200 kapal dalam ekspedisi Cheng Ho yang ditulis oleh Jawa Pos selevel dengan ekspedisi kerajaan Makassar dalam ekspedisinya ke Semerluki menggunakan 200 kapal. Sebagaimana yang dicatat dalam Sejarah Melayu (bertarikh 1612M) 19.2:165 menulis……”Maka Semerluki pun berlengkap 200 banyaknya kelengkapan pelbagai rupa perahunya.”

 

Apakah karena besarnya ukuran kapal yang digunakan Cheng Ho?

Menurut Kong Yuanzhi, kapal terbesar yang dimiliki Cheng Ho adalah Kapal Pusaka yang memiliki panjang 44.4 xhang (138 meter) dengan lebar 18 zhang (56 meter). Uniknya kapal wangkang Cheng Ho ini didesain cenderung bulat dibandingkan dengan kapal jong Jawa yang langsing. Perbandingan ukuran kapal Cheng Ho adalah 1:2,4…..benarkah desain kapal bulat ini sesuai untuk pelayaran kelas samudera? Para ahli perkapalan yang bisa menganalisanya.

Yang menyedihkan dalam infografisnya Jawa Pos membandingkan kapal Cheng Ho tersebut hanya dengan kapal-kapal yang lebih kecil, yaitu kapal Columbus, kapal Vasco da Gama, kapal Pirates of caribean dan jenis Phinisi Nusantara yang hanya sepanjang 30 m.

Mengapa Jawa Pos tidak membandingkan kapal Cheng Ho dengan kapal-kapal berikut ini?

1. Hikayat Hang Tuah mencatat perahu terbesar yang pernah dibuat adalah bahtera milik Raja Chulan dari Sailan (Srilangka) ketika meminang puteri dari Raja Melaka. Didesain untuk menampung 90.000 orang ukuran kapal sangat besar yaitu dengan panjang 10.000 meter dan lebar 2.500 meter. Perahu dengan desain sebesar ini tenggelam di muara Terengganu sebelum menyelesaikan misi ekspedisinya sehingga tidak ada lagi kerajaan yang mau mendesain kapal raksasa melebihi kemampuan kayu.

2. Robert Dick-Read dalam bukunya berjudul Penjelajah Bahari (Penerbit Mizan, 2005) terjemahan dari Phantom Voyager: Evidents of Indonesian Setllement in Africa in Ancient Times (Thurlton Publishing, UK 2005) menampilkan catatan dari sejarawan Portugis, Gaspar Correria, ketika ia mengikuti kunjungan pertama Gubernur Alfonso de Albuquerque ke Malaka. Ia mencatat serbuan dari Armada Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Sabrang Lor (Patiunus) ke kedudukan Portugis di Malaka pada tahun 1512 setahun setelah penguasaan Portugis di Malaka.
Ia membandingkan kapal induk yang dipakai oleh armada Jawa dengan kapal terbesar Portugis yaitu kapal Flor de La Mar.

Setelah direkonstruksi kapal induk (junco) Jawa tersebut panjangnya antara 313,2 meter – 391,5 meter.
Menurut catatan Hikayat Hang Tuah, rata-rata desain kapal Majapahit menggunakan perbandingan 1:4 sehingga lebih langsing dari kapal Cheng Ho yang berdesain 1:2,4 atau kapal Eropa yang berdesain 1:3.
Jadi kapal junco Jawa yang menyerang Portugis tersebut panjangnya sekitar 313 – 391 meter dengan lebar sekitar 75 meter.

Kalau kapal junco Jawa pada jaman Demak saja sudah sebesar itu apalagi kapal-kapal armada Majapahit pada jaman keemasannya (Laksamana Nala dan Mahapatih Gajah Mada), tidak bisa dibandingkan dengan kapal Cheng Ho di jaman yang sama.

Tidak usah pada tahun 1400M atau 1500M, catatan Dinasti Wu (abad 3M) saja sudah menulis bahwa pada abad 3 saja kapal Jawa Kun Lun Po sudah memiliki ukuran panjang hingga 200 kaki (sekitar 50 meter).

 

Apakah karena ekspedisi Cheng Ho tersebut melingkupi wilayah Asia Tenggara sampai Afrika?

Sejak abad pertama sampai abad 15M, ada 7 zona perdagangan. Zona Teluk Benggala, Zona Selat Malaka, Zona Laut Cina Selatan, Zona Zulu, Zona Laut Jawa, Zona Laut arab dan Zona Laut Merah. Karena komoditas ekspor Asia Tenggara bermuara di kawasan Laut Merah sebelum dire-ekspor ke kawasan Eropa maka dari berbagai catatan kuno bisa diperkirakan bahwa armada Kerajaan Jawa mendominasi 7 zona perdagangan tersebut. Jumlah armada yang dimiliki kerajaan Jawa dan Makassar jauh lebih banyak dibandingkan kerajaan Cina dan india.
Jadi bila dibandingkan dengan ekspedisi Cheng Ho, maka armada Angkatan Laut dan armada perdagangan Nusantara sudah hilir mudik dari Nusantara sampai ke Madagaskar dan kawasan Laut Merah, mulai dari sekian abad sebelumnya.

Karena alasan-alasan di ataslah saya merasa tidak enak hati membaca infografis Jawa Pos ini. Bukan karena didorong oleh nasionalisme sempit (chauvinistis) tetapi lebih karena kaidah-kaidah keilmiahan kurang dipatuhi dalam penulisan artikel berseri bertema sejarah tersebut.

Demikian pendapat saya.

Tabik kemanusiaan!!

 

Referensi:
1. Robert Dick-Read, Penjelajah bahari, Pustaka Mizan, 2005.
2. Irawan Djoko Nugroho, Majapahit: Peradaban Maritim, Suluh Nuswantara Bakti, 2010.
3. Irawan Djoko Nugroho, Meluruskan Sejarah Majapahit, Ragam Media, 2009.
4. Paul Michel Munoz, Kerajaan-kerajaan Awal Kepulauan Indoensia dan Semenanjung Malaysia, Media Abadi, 2006.

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

2 Comments to "Armada Terhebat Sepanjang Sejarah?"

  1. Lani  28 July, 2017 at 01:43

    OsaKI: Maturnuwun atas ulasannya………..

  2. James  27 July, 2017 at 10:11

    Armada Cheng Ho beken deh

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *