Belum ke Tomohon Kalau Belum ke Pasar Ekstrim

Dwi Setijo Widodo

 

Berkunjung ke Tomohon, Sulawesi Utara, tak lengkap rasanya bila tidak mengunjungi Pasar Beriman yang letaknya bersebelahan dengan terminal untuk mikro, demikian warga Tomohon menyebut angkutan umum ini. Inilah salah satu yang membuat saya tertarik dan akhirnya mengunjungi kota dingin yang hanya berjarak kurang lebih 25 km atau sekitar 45 menit dari Manado, ibukota Provinsi Sulawesi Utara, ini.

Pasar tradisional selalu menjadi tempat yang menarik dan harus saya kunjungi dalam setiap perjalanan saya. Ini karena pasti selalu ada yang unik yang bisa saya temui di setiap tempat. Termasuk di Pasar Beriman ini yang kebetulan hanya beberapa langkah dari Hotel Leos, tempat saya menginap. Tidak hanya pemandangan jajaran cakalang asap yang digelar unik dengan gepe atau gapit bambu dan tumpukan rapi ikan roa dalam bingkai bambu yang siap jadi oleh-oleh, atau kopi Tondano yang aromanya tercium sedap yang membuat saya tak kuasa tidak membungkusnya, tapi ada yang lebih unik lagi di area yang disebut dengan Pasar Ekstrim ini.

Warga Tomohon dan sekitarnya memang biasa menggemari berbagai jenis daging binatang yang bagi warga lain mungkin dianggap luar biasa. Tak salah bila area pasar yang menjual berbagai daging, semisal daging babi hutan, ular piton atau patola dalam bahasa lokal, hingga anjing, kelelawar buah atau paniki, dan tikus hutan yang saya temui dalam beberapa hari ke sana, selalu ramai dikunjungi wisatawan dan menjadi tempat yang tidak boleh dilewatkan.

Cakalang fufu atau cakalang asap. Oleh-oleh khas Tomohon

Ikan roa asap siap diolah menjadi sambal roa yang terkenal itu. Tapi ternyata ikannya dari Ternate lho

Pasar Ekstrim Tomohon, mau coba tikus hutan ekor putih…

Saya tidak makan daging, namun mengunjungi sisi lain Pasar Beriman ini serta berbincang dengan para penjual dan pembeli yang selalu dengan sukacita menjawab pertanyaan-pertanyaan saya sekaligus mengijinkan saya untuk mengambil foto-foto mereka ini, memberikan pemahaman tersendiri buat saya. Tidak untuk membuat penilaian, namun membuka wawasan dan menghargai kebiasaan dan adat istiadat yang beragam di Nusantara. Saya sempat mengambil beberapa foto yang mungkin memang dianggap ekstrim, terutama daging RW atau anjing, namun untuk koleksi pribadi dan tidak saya ekspos di sini untuk menghindari komentar yang tidak setuju dengan tradisi masyarakat Minahasa ini.

Pasar Ekstrim Tomohon, patola atau ular piton salah satu dagangan unik di sini.

Pasar Ekstrim Tomohon, pemandangan ini sangat biasa di sini. Tertarik, cuma 35ribu Rp satu ekornya.

Pedagang paniki Rp. 50.000 untuk ukuran besar. Mahal juga ya…

Menurut seorang kawan yang tinggal di Tomohon, anjing yang dijual di Tomohon adalah hasil ternak dan diberikan makanan yang bersih dan layak sebagaimana yang pemiliknya, tidak pernah dari hasil mengambil anjing jalanan yang tidak diketahui makanannya. Juga untuk tikus, bukanlah tikus yang tinggal di perumahan, namun jenis tikus hutan yang dapat kita tandai dari warna ekornya yang putih. Rata-rata daging binatang tersebut dimasak rica-rica atau dengan santan. Saat saya tanya rasanya setelah dimasak, rasanya khas dan mempunyai tekstur yang unik juga.

Sabtu menjadi hari yang istimewa dimana pasar lebih ramai dengan para pedagang dan pembeli dibanding hari biasa. Namun, Pasar Ekstrim selalu ramai setiap hari. Meski tak seramai Sabtu, bila beruntung seperti saya, kita bisa menyaksikan berbagai macam hewan esktrim yang dijual di sini. Tertarik berkunjung ke Pasar Ekstrim di Tomohon?

 

Tomohon, 20 Juli 2017

 

 

8 Comments to "Belum ke Tomohon Kalau Belum ke Pasar Ekstrim"

  1. J C  4 August, 2017 at 05:19

    Waduh mas Dwi Setijo Widodo, saya rada merinding melihat keanekaragaman Nusantara ini…

  2. James  1 August, 2017 at 10:21

    mbak Lani kalau daging serigala belum pernah coba, kalau buaya sewaktu sudah pindah ke Sydney karena bekerja di food lab jadi ada saja percobaan daging buaya dan kangguru

  3. Dwi Setijo Widodo  1 August, 2017 at 09:24

    Hahaha!!!
    Saya tertawa membaca berbagai komentarnya Mbak Lani, disambung Om James, dan Mbak Alvina.

    Awalnya antara, “Bener gak sih aku mau ke sana?” Apalagi setelah itu, karena plesiran sama temen, Ade, yang punya anak kecil, dia mulai mempertimbangkan kira-kira buat perkembangan psikologis anaknya Ananta yang umur 2.5 tahun gimana melihat itu semua. Kubilang, “Inilah keragaman Nusantara, De. Tergantung bagaimana dirimu menjelaskan ke Ananta. Dia pinter, kok.”

    Akhirnya kami bertiga ke sana, dan respon Ananta cukup bagus. Termasuk saya, gak surprise banget karena sudah mencoba mempelajari sebelum ke sana. Karena pas lima tahun tinggal di Flores, sudah familiar dengan daging RW yang disajikan di banyak kesempatan. Meskipun cara menjual mereka adalah anjing hidup, tidak seperti di Tomohon yang seperti di China, sudah dibakar atau malah sudah dipotong-potong.

  4. Lani  1 August, 2017 at 03:51

    James: biyuh……biyuh……..kamu pemakan segala termasuk serigala ya? Peace……..kabooooooooor hahaha

  5. Alvina VB  31 July, 2017 at 20:06

    Wadoh mas Dwi SW….ngilani, kaburrrrrrr sebelum diajak ke sana, liat fotonya aja dah extrim gitu, apalagi liat langsung, kayanya saya bisa mual2, he..he….
    James, ternyata makan segalanya, he..he…saya gak makan daging dari binatang berkaki empat/dua/gak ada kakinya spt ular, cuman makan sea-food, sayuran dan buah2an saja.

  6. James  31 July, 2017 at 16:33

    memang penduduk negara Asia Tenggara itu suka makan daging aneka macam binatang, sy sudah pernah coba menyantap daging RW, Macan, Kera, Buaya dan Python

  7. Lani  31 July, 2017 at 12:39

    Waduh mengerikan, memilih untuk menghindari pasar ini………..

  8. Lani  31 July, 2017 at 12:35

    Hadoh mengerikan…..lebih baik memilih menghindar utk bertandang kepasar ini………..bisa bikin pusing kepala

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *