260 TAHUN PURA MANGKUNEGARAN 1757-2017: Rabindranath Tagore

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

KEDATANGAN Rabindranath Tagore, sastrawan ternama ke Jawa pada 1927 membuat budaya Jawa mendapat perhatian dunia. Tagore adalah pemenang Hadiah Nobel Kesusasteraan 1913. Namanya dalam dunia sastra mendunia dan diakui daya intelektualnya, baik di barat maupun di timur.

Antara 9-30 September 1927, sekitar 90 tahun silam, Tagore mengunjungi Kraton Ngayogyakarta, Candi Borobudur dan Pura Mangkunegaran. Di Jogja Tagore diterima baik oleh Sultan Hamengkubuwono VIII dan sempat menyaksikan tarian sakral yang dipentaskan empat gadis (dua di antaranya adalah putri Sultan Hamengkubuwono VIII) yang membuat Tagore sangat kagum terpana.

Di Pura Mangkunegaran, Tagore diterima oleh ipar Sultan Hamengkubuwono VIII (1921-1939), yaitu KGPAA Mangkunegara VII (memerintah 1916-1944). Tagore menghadiri acara HUT ke 24 KGPAA Mangkunegara VII naik tahta. Menurut Profesor Jai Singh Yadav (a visiting lecturer di UGM) dalam wawancara eksklusif dengan KRAy Hilmiyah Darmawan Poncowolo, cucu KGPAA Mangkunegara VII, Tagore membuat catatan khusus yang sangat impresif dari upacara tersebut.

Catatan Tagore itu diterbitkan dalam bahasa Belanda pada 1939/1940 di Surakarta, kota yang menyambut hangat kedatangannya. Bahkan KGPAA Mangkunegara VII mewujudkan rasa hormatnya pada Tagore, dengan memberi nama sebuah ruas jalan kecil di Surakarta dengan nama Jalan Rabindranath Tagore, di kawasan Gilingan. Satu-satunya jalan yang diresmikan oleh tokoh yang namanya sendiri diabadikan.

Usai kembali ke India setelah mengunjungi Jawa, Tagore mengabadikan kesannya dalam puisinya yang di tulis dalam bahasa Bengali yang dalam bahasa Inggris berjudul ‘To Java’.

“Remember me, even as I remember thy face
and recognize me as thine own
The old that has been lost
to be regained and made new”

 

 

3 Comments to "260 TAHUN PURA MANGKUNEGARAN 1757-2017: Rabindranath Tagore"

  1. Lani  9 August, 2017 at 01:30

    James: wakakak…………kamu lagi kumat kenthirnya James? Tahu goreng jelas ndak akan pernah bisa lupa, wuenaaaaak……..ayo makan Tahu……….. Tahu dan Tempe……….

    ISK: Sgt mengenal nama itu tp belum pernah baca buku/puisi milik beliau

  2. Alvina VB  7 August, 2017 at 22:27

    Ha..ha…James, aya2 wae….Jadi inget kata2 bijak beliau: “Let me not pray to be sheltered from dangers,
    but to be fearless in facing them”

  3. James  7 August, 2017 at 16:42

    hadir…….Tagore = Tahu Goreng kah ?

    para Kenthirs mau Tagore gak ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *