BE STUPID!

Wesiati Setyaningsih

 

Ada cerita begini,

Seorang pemuka agama mendengar ada sebuah pulau yang dihuni tiga pertapa. Dia terketuk untuk ke sana dan mengajar mereka tentang agama yang dia peluk. Syukur-syukur mereka mau jadi umatnya.

Sampai di sana, dia memulai dengan bertanya pada tiga pertapa, bagaimana cara mereka berdoa. Mereka bilang, mereka hanya berdoa dengan,

“Engkau ada tiga, kami ada tiga, maka kasihanilah kami.”

Sang pemuka agama merasa kasihan melihat betapa bodohnya tiga pertapa tadi. Lalu dia mulai mengajar mereka untuk berdoa. Setelah susah payah, karena ketiganya sudah tua, akhirnya mereka hapal dan sang pemuka agama merasa misinya sudah selesai.

Maka dia memutuskan pulang dengan bangga malamnya, naik kapal. Ketika kapal sampai di tengah lautan, dia melihat permukaan laut berkecipak dan sesuatu berkibar-kibar bergerak dari pulau mendekati kapal.

Pemuka agama heran sekaligus sedikit takut. Tapi ditunggunya sampai sesuatu itu benar-benar dekat. Ternyata sesuatu itu adalah tiga pertapa yang berlari di atas permukaan air. Yang berkibar tadi jubah mereka.

“Ada apa?” tanya pemuka agama.

Rasanya tak mungkin tiga pertapa merasa bersalah tidak mengadakan ‘farewell party’. Mereka terlalu lugu.
“Nggg… Anu,” kata salah satunya. “Kami lupa lagi doa yang kamu ajarkan tadi. Bisa ajarin lagi, nggak?”

Sang pemuka agama segera mengakui kesalahannya. Sebenarnya tanpa dia ajari doa yang barusan mereka ajarkan pun, tiga pertapa itu sudah bisa berdoa.

Doa mereka yang tampaknya lucu, “Engkau bertiga, kami juga bertiga, maka kasihanilah kami”, sudah menjadi cara yang hebat untuk mereka bertahan hidup. Tak hanya itu, bahkan mereka mendapatkan kedigdayaan.

Doa yang dia ajarkan, hanya sebuah hapalan. Doa mereka lebih manjur karena sudah meresap dalam hati. Buat apa harus menghapapal doa pemuka agama tadi?

Dengan sedikit malu, pemuka agama bilang,

“Sudahlah. Nggak usah dihapalkan lagi. Lanjutkan saja doa kalian selama ini. Selamat tinggal.”


Itu kisah dari cerpen Leo Tolstoy yang tergabung dalam buku ‘Di mana ada cinta, di situ Tuhan ada’. Saya teringat kisah itu ketika membaca buku tentang Syeh Siti Jenar.

Siti Jenar ibarat tiga pertapa lagi. Dia sudah menemukan Tuhan ketika para wali sedang menyebarkan agama. Dan bisa jadi, para wali itu menyebarkan agama pada orang-orang yang juga sudah menemukan Tuhan dalam diri mereka masing-masing.

Endingnya berbeda. Siti Jenar dihukum mati karena dianggap menyebarkan ajaran sesat. Padahal menemukan Tuhan dalam diri, bukankah itu pula tujuan sebuah agama? Kalau dia dihukum mati, sebenarnya karena kesesatan atau karena ego?

Siti Jenar memang mengacaukan sebuah rencana. Kalau semua orang sudah pandai menemukan Tuhan dalam dirinya, apa gunanya Para Wali? Padahal mereka punya kepentingan untuk masuk dalam politik dan ikut mencampuri kebijakan para raja di masa itu.

Para Wali jelas bukan pemuka agama dalam kisah di atas. Dan sampai sekarang cara mereka pun masih dilanjutkan oleh pengikutnya.

Setiap orang punya kecerdasan sendiri dalam menemukan Tuhan. Maka, dengan dengan caranya sendiri, mereka pasti menemukannya. Apapun cara itu. Yang sering terjadi adalah ‘kecerdasan’ ini dianggap kesesatan hingga harus dikebiri.

Maka kalau dalam hal lain orang diharapkan “Be smart!”, dalam beragama (agama tertentu aja, sih) umat diharapkan untuk “Be stupid”. Jangan sampai umat menyadari bahwa mereka bisa menemukan Tuhan dalam dirinya, dengan cara mereka sendiri. Nanti para ulama (atau yang mengaku ulama), nggak laku lagi.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

5 Comments to "BE STUPID!"

  1. djasMerahputih  11 August, 2017 at 07:04

    Inti agama adalah kesempurnaan ahlak, bukan kelincahan jempol. Hidayah menghampiri seseorang bukan lewat jempol tapi lewat hati.

    Let’s be stupid..!!!

  2. Lani  9 August, 2017 at 01:27

    Al, James: Aku setuju pakai banget ditambah jempol pitulikur termasuk buat pentulise………….

    Makanya aku heran saja agama kok diperjual belikan, ada kelompok bela ini bela itu, yg agamalah, yg Tuhan lah……….tambah lucu Tuhan yg maha kuasa kok dibela?????

    Coba temukan sendiri jawabannya ada pd para kenthirssssss………..yg tdk usah diajari tata cara beragama tul?

  3. Alvina VB  7 August, 2017 at 22:05

    Hadir James! Setuju sama tulisan ini, cara org cari Tuhannya ya terserah org itu sendiri, gak bisa dipaksakan donk… mau bertuhan/gak itu juga urusan pribadi org masing2. Jadi inget cerita mahasiswa Pakistan yg dibunuh di campusnya. How stupid and barbaric this can be: http://www.bbc.com/news/world-asia-39593302

  4. James  7 August, 2017 at 16:40

    Be Wise…..pada kemana para Kenthirs ?

  5. Donald  7 August, 2017 at 12:57

    Bagus. Tuhan itu hadir, justru ketika ada orang yang sangat memerlukan pertolongan.

    Bukan melalui rentetan ritual tang ruwet.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *