Paradoks Pendidikan vs Kekerasan Remaja

Ki Ageng Similikithi

 

Suatu siang hampir 60 tahun lalu. Kami murid-murid Sekolah Rakyat di Ngampin, Ambarawa, latihan nyanyi antar kelas. Tengah hari yang panas, perut lapar. Banyak yang lesu. Guru kami sangat bersemangat, alm Bpk. Menaseh. Dia dibuat gemas ada nada melenceng dari sebelah kanan. Ternyata Yono, adik kelas setengah tertidur tetapi masih mencoba setia ikut nyanyi, iramanya keluar dari harmoni pakem.

Sang guru sangat geram. Ambil keset dan serentak dilempar ke arah Yono. Kaget setengah mati Yono terloncat dari duduknya. Belum pulih dri kantuk Guru langsung menghardik keras. “Celeng kowe. Ndog e Kastawi. Pakmu kon rene tak idak-idake”. Yono menangis meraung lari tunggang langgang. Tiga hari gak berani masuk. Akhirnya bilang sama emaknya takut sekolah dan cerita sama tentang insiden keset di sekolah.

Pak Kastawi dan mak Pithi, orang tua Yono, akhirnya mengantar kembali ke sekolah dan minta maaf kelakuan Yono. The case ia closed seperti tidak ada insiden apa-apa. Pak Kastawi masih sempat cerita ke ibu saya ” ….untung kula mboten di’idak-idak..”.

Pelajaran untuk diingat. Kami kami seperti Yono dididik dengan sangat keras di sekolah. Tetapi kami tidak pernah terlibat kekerasan dan tawuran sekolah. Kami kami masih bisa berdisiplin diri dan menghargai siswa lain dengan empati.

Mengapa siswa-siswa sekarang dengan pendidikan yang penuh slogan kelembutan dengan berbagai bungkus pesan moral, kalau perlu ditambah pesan sorga, malah menghasilkan budaya kekerasan, tawuran, klithih dan para pendidik tidak bisa berbuat apa-apa utk mencegahnya?

 

 

3 Comments to "Paradoks Pendidikan vs Kekerasan Remaja"

  1. Lani  9 August, 2017 at 01:32

    Al, James: Setujuuuuuu…………..

    Ki: hanya satu kata disrespecful!

  2. Alvina VB  7 August, 2017 at 22:32

    Para remaja sekarang gak punya model yg mereka takuti (hormati) di rumah dan di sekolahan spt remaja2 jadul. Ditambah lagi dengan media sosial yg mereka ikutin, terkadang tidak mendidik. Pendidikan yg penuh slogan hanya tinggal slogan, ttp gak dijalankan.

  3. James  7 August, 2017 at 16:49

    Tawuran anak remaja sekarang sama seperti Koruptor kan ? apa bedanya dengan DPR, slogan anak remaja dengan pendidikan disertai pesan surga malah menghasilkan kekerasan dan tawuran sedangkan para Anggota Dewan (DPR) pendidikan disertai janji-janji kepada rakyat tapi menghasilkan KORUPSI

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *