Kewarasan Politik di Tengah Riuhnya SNSD, Lingkar Semanggi dan Patung Kwan Kong

JC – Global Citizen

 

Di tengah marak bulan Agustus 2017, menjelang peringatan ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72, ada saja isu menerpa pemerintahan Jokowi-JK (terutama Jokowi yang kena sambar terus). Kabar merebak bahwa grup girls band Korea bernama Girls’ Generation (atau Generation of Girls); dalam Hangul: 소녀시대 atau So-Nyuh Shi-Dae oleh karenanya disebut dengan SNSD – diundang oleh Pemerintah RI dalam rangka peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72, untuk tampil di Monas pada tanggal 18 Agustus 2017. Caci maki, hujatan serta merta berhamburan mengarah ke Presiden Jokowi dan Kaesang – putra Presiden (apa hubungannya ya?).

Cacian, hujatan dari yang bernada ‘biasa’ sampai ke level nyinyir berseliweran di linimasa (timeline) berbagai media sosial (Facebook, Twitter, Instagram) dan berbagai portal. SNSD dibilang sebagai simbol seks dan pelacuran viral di mana-mana. Triawan Munaf, Kepala Badan Ekonomi Kreatif menjelaskan bahwa diundangnya SNSD adalah untuk memeriahkan Countdown to Asian Games 2018 (http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/17/07/30/otwcuk377-klarifikasi-triawan-munaf-soal-kehadiran-snsd-di-hut-ri). Dan juga memang kebetulan bahwa Triawan Munaf adalah special envoy (perwakilan khusus) warga Indonesia untuk Korea Selatan. Lepas dari pantas tidaknya untuk tujuan apapun itu, entah untuk perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72 ataupun Countdown Asian Games 2018; sepertinya tingkat kenyinyiran yang kontra sudah pada taraf yang memprihatinkan. Terlebih jika talenta sekelas SNSD dikaitkan (dipaksa atau lebih tepatnya dikait-kaitkan) sebagai simbol seks dan pelacuran.

Soft opening Lingkar Semanggi yang baru juga menuai kehebohan di seluruh linimasa media sosial gara-gara salah satu (yang mungkin) selebriti politik berkicau: “gara-gara naik jembatan semanggi malah salah arah, mau ke Menteng jadi ke arah Senayan, ini siapa sich penggagasnya?”. Tak menunggu lama tanggapan berhamburan di seluruh linimasa media sosial dan 99,9% tanggapan negatif. Apakah sudah sebegitu bencinya kah, golongan yang berseberangan dengan Jokowi terhadap apapun yang bukan berasal dari golongannya. Lingkar Semanggi jelas-jelas adalah legacy Ahok, dan kita semua tahu bagaimana kisah perjalanan Ahok sampai hari ini.

 

Patung Kwan Kong, atau yang oleh media sering disebut dengan Kwan Sing Tee Koen. Patung ini adalah Guan Yu yang dikenal sebagai Dewa Perang, adalah jenderal yang berasal dari cerita klasik Sam Kok (Tiga Negara). Seperti dalam artikel sebelumnya: Perlawanan Koruptor dan Oligarki Berbungkus Agama dan Sentimen Etnis dengan gencar dan gegap gempita perlawanan para koruptor terus berderap silih berganti dengan bungkus agama dan etnis. Isu Cinaisasi dan bangkitnya palu arit (komunis, PKI) terus dikaitkan dengan segala hal yang bisa dikaitkan. Lepas dari patung Kwan Kong ini, belakangan memang terus merebak perlawanan dari golongan tertentu terhadap patung-patung: patung naga di Kalimantan, patung wayang di Purwakarta, patung manusia akar di Yogyakarta (tinggal kenangan), patung lele di Bekasi, patung hiu dan buaya (suro dan boyo) di Surabaya, patung ikan di Pangandaran, dsb. Isu-isu inilah yang terus diusung untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Jokowi-JK.

Jika sekiranya SNSD dikaitkan sebagai simbol seks dan pelacuran, lantas bagaimana dengan dangdut dan grup-grup musik sepanjang Pantura yang lebih dikenal sebagai Dangdut Pantura atau Goyang Pantura? Kevulgaran mereka ini sanggup membuat Paris Hilton, Jennifer Lopez, Lady Gaga, Ariana Grande atau Madonna (di masanya) adalah sederetan santa atau orang suci; dan girls’ band SNSD adalah para malaikat minus sayap dan lingkaran hollow di kepala mereka.

Kegaduhan ini sepertinya akan terus berlangsung dan akan mencapai puncaknya di 2019, isu agama, etnis dan PKI pasti akan terus digelontorkan. Ancang-ancang partai politik sudah dimulai. Partai yang dulunya sangat vokal terhadap Jokowi, belakangan sudah mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi di 2019. Entah ini adalah siasat pengalihan perhatian atau penyusupan, hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu. Bahkan Tuhan pun mungkin ditipu dan dibohonginya berkali-kali.

Dua tokoh besar (yang sesuai juga dengan ukuran badannya) belakangan juga melakukan konsolidasi, rekonsiliasi sekaligus diplomasi dengan nasi goreng. Yang selama ini dikenal berseberangan dan musuh bebuyutan semenjak di institusi tempat bernaung sebelumnya sampai dengan belakangan hari, ternyata disatukan oleh nasi goreng. Dan satu lagi seorang di parlemen tanpa partai politik (karena sudah dipecat), yang selama ini super vokal bahkan bisa dikatakan sudah taraf nyinyir, serta merta berbalik arah mulai menyuarakan dukungannya terhadap Jokowi untuk 2019.

Ah, entahlah! Sepertinya memelihara kewarasan politik di negeri ini memang perlu seni tersendiri. Saya memilih kata ‘kewarasan politik’ bukan kata ‘kenetralan’ bukan kata ‘objektif’ atau ‘subjektif’ karena tidak mungkin seseorang netral sepenuh-penuhnya, objektif seutuhnya ataupun subjektif akut. Memelihara kewarasan politik diri sendiri untuk berusaha tetap waras dalam keseharian kita adalah satu hal baru. Mungkin sudah saatnya universitas-universitas di Indonesia membuka program studi baru: “Kewarasan Politik”.

 

God bless Indonesia. Dirgahayu ke 72 Republik Indonesia!

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

20 Comments to "Kewarasan Politik di Tengah Riuhnya SNSD, Lingkar Semanggi dan Patung Kwan Kong"

  1. Alvina VB  19 August, 2017 at 00:21

    JC, kayanya ke(tidak)warasan politik di Indonesia lagi nular ke sini, lah org negara ini lagi sibuk dibanjirin illegal immigrant dari US dan negara2 Middle East yg dateng illegal lewat perbatasan US-Canada, PM Canada malah disibukan sama gay parade weekend ini, katanya PM Ireland yg baru juga akan ada di gay parade thn ini. Heboh kan 2 PM akan ada di gay parade, sementara llegal immigrant udah mencapai puluhan ribu org, gak tahu kapan kelarnya itu processnya. Sementara yg legal mau imigrasi ke mari aja masih ngantri. Speechless dah….

  2. Alvina VB  14 August, 2017 at 03:19

    Mbakyu Lani dan James, bukan ah…itu yg lagi makan2 tepatnnya si penempeleng dan yg ditempeleng, ha..ha…..kabur dulu ya….

  3. Lani  13 August, 2017 at 11:38

    “ha ha ha si Bodor SBY dan si Badut Wowo baru saja konsolidasi menurut mereka sudah langsung saling maki nyumpahin satu sama lain sampai si Wowo teriak Kalian Bangsat pada Kelompok Cikeas, padahal keduanya sudah Bandit Bangsat”
    ++++++++++++++++++

    James: mereka nampaknya sdh lupa, pikun dgn konsolidasi nasi gorengnya ya………

    Nasi goreng habis mrk saling serang hahaha……..ngakak sambil nibo tangi, guling koming

  4. James  13 August, 2017 at 09:50

    AL, masih ngikutin dong berita PerPol di Indonesia meski semakin semrawut kacau balau juga sama gilanya sama si Jong Un

  5. James  13 August, 2017 at 09:45

    ha ha ha si Bodor SBY dan si Badut Wowo baru saja konsolidasi menurut mereka sudah langsung saling maki nyumpahin satu sama lain sampai si Wowo teriak Kalian Bangsat pada Kelompok Cikeas, padahal keduanya sudah Bandit Bangsat

  6. Linda Cheang  12 August, 2017 at 11:05

    baca medianya yang portal puyengan aja, pasti lucu. hehehe

  7. Alvina VB  12 August, 2017 at 02:01

    Saya lebih respect sama pemimpin yg gay, jujur aja, ngaku spt PM Irlandia yg baru, daripada ngaku sbg family man, ttp kenyataannya? well…..satu hari juga akan terbuka, ttp entah kapan, paling kl dah tue dan bikin memoir, bla…bla…..

  8. Alvina VB  12 August, 2017 at 01:56

    Reshuffling udahan, yg vocal digeser/dibuang ke LN. Masih banyaaakkkkk yg musti diberesin di dlm negri, termasuk hilangnya ribuan first nations women yg katanya mau diurusin, perumahan mereka yg kadang gak ada air dan belum lagi krisis pipe line minyak yg akan lewatin tempat tinggal First Nation. Dulu waktu kampanye bilangnya mau dilindungin, eh…pas jadi PM kok malah go ahead ditandatanganin. Penduduk asli di sini bilang dia traitor. Yg malah jadi agenda dia sekarang cuman satu legalisasi marijuana, opo tumon toch? Canada jadi surganya marijuana thn depan.

  9. Alvina VB  12 August, 2017 at 01:49

    JC: Termasuk di sini, politician eidan juga, tahu gak pada korupsi pake system yg ada, ketahuan mundur/ yg parah ya dipenjara (gak kaya di Indonesia, koruptor kok malah ember, ribut sendiri dan masih gentayangan berkiprah di dunia nyata dan maya). PM cuman pencitraan diri doang, ngetop di luar negri doang di dlm negri memble, cuman janji2 surgawi doang pas kampanye.

  10. Lani  11 August, 2017 at 09:30

    Kang Djas: Jempol pitulikur buatmu!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *