Tentang Nurani

Wesiati Setyaningsih

 

Yang mau saya bicarakan ini jelas bukan Nurani teman sekolah dulu. Tapi tentang hati nurani yang suka berisik menggedor-gedor dada dan kepala ketika kita melakukan sesuatu yang merugikan kemanusiaan dan melawan kodrat kehidupan.

Ceritanya pagi-pagi saya nonton filmnya Sandra Bullock, ‘Our brand is crisis’. Tentang tim sukses pilpres Bolivia, di mana Sandra yang di sini namanya Jane, jadi tim sukses presiden lama yang mencalonkan diri lagi, Castillo. Dengan penuh semangat, Jane dan teman-temannya, semua American, melakukan berbagai cara agar Castillo menang lagi meski rakyat sudah empet. Presiden lama ini jelas-jelas tidak mensejahterakan rakyatnya, dan tuntutan utama rakyat adalah agar Castillo membatalkan rencana kerjasama dengan IMF. Mereka mengusung calon baru yang lebih memahami keinginan rakyat.

Jane dan teman-temannya, yang bahkan bahasa yang dipakai di Bolivia saja mereka nggak ngerti, mengemas sedemikian rupa agar Castillo menang. Jane bahkan berhasil membujuk Eduardo yang awalnya melakukan pergerakan melawan Castillo jadi pro, hanya karena Castillo berjanji kerja sama dengan IMF akan melalui referendum.

Singkat kata, Castillo menang lagi. Dan begitu menang, segera dia melakukan kerjasama dengan IMF, mencederai janjinya pada rakyat. Kaya calon terpilih yang pilkadanya heboh kemarin itulah. Begitu menang, banyak program dibatalin.

Yang nyesek adalah saat Eduardo mendatangi Jane di kamar hotelnya dan menagih tanggung jawab Jane atas keputusan Castillo. Dengan ketus Jane bilang, “aku cuma mengiklankan seorang untuk jadi presiden. Setelah dia jadi presiden, semua bukan urusanku. Aku kan nggak bisa mengubah orang jadi baik gitu aja!”

Dengan berurai air mata, pemuda bernama Eduardo ini bilang, “kamu sudah memberikan sampah pada rakyat Bolivia!” Lalu dia bergabung dengan saudara-saudaranya turun ke jalan bersama rakyat, demo.

Akhir film, Jane yang sedianya akan pulang ke Amerika bersama teman-temannya, terketuk batinnya. Dia turun dari mobil dan ikut demo bersama rakyat Bolivia.


Film ini seperti menjawab pertanyaan saya tentang pilkada yang baru lalu. Mereka yang sudah melemparkan sampah untuk rakyat, apakah punya hati bahwa itu hasil kerja mereka? Rasa bersalah itu pasti ada. Hanya, apakah itu akan mereka perbaiki semasa mereka hidup, atau mereka biarkan hingga kematian menjemput, semua hanya masalah pilihan.

Jane, berani turun dari mobil dan dia bilang, “selama ini aku jadi tim sukses di sana sini. Ibarat muter dari satu komidi putar ke yang lain. Sekarang aku putuskan berhenti dengan turun dari komidi putar itu.” Dia berhenti menipu banyak orang.

Hati nurani bisa disembunyikan dalam-dalam. Tapi dia jelas tak akan pernah mati.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Tentang Nurani"

  1. djasMerahputih  11 August, 2017 at 06:45

    Nurani tak pernah mati, paling hanya ketutupan uang, jadi nggak nampak lagi..

  2. Tammy  11 August, 2017 at 06:22

    Setuju dgn Alvina. Kalo melihat keadaan di Indonesia sekarang kayaknya banyak tuh yg nuraninya sudah mati. Apa pun dilakukan utk kepentingan pribadi/golongan. Apa lagi kalo ngomongin situasi dunia saat ini, yg namanya teroris apa masih punya nurani??

  3. Alvina VB  10 August, 2017 at 22:42

    Wes, kata org hati nurani bisa aja mati kl ditekan dan gak digunakan lagi, spt para koruptor, pembunuh; mereka mana punya hati nurani lagi.

  4. James  10 August, 2017 at 12:44

    hari nurani…..jantung nurani….ampla nurani

  5. Lani  9 August, 2017 at 11:45

    Wesi: Alinea plg akhir betul sekali, org mungkin bisa menyimpan kebohongan, akan ttp hati nurani ora bakal iso diapusi!

  6. Sumonggo  9 August, 2017 at 11:41

    Nuraini … oh …Nuraini …..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *