Agama Buat Saya

Wesiati Setyaningsih

 

“Agama itu apa buat Mama?” Izza tiba-tiba nanya saat sore hampir gerimis, lalu saya memutuskan makan bakso dulu jadi di rumah nggak usah masak.

Warungnya sederhana di pinggir ladang singkong. Suasananya enak. Baksonya juga enak. Tapi pertanyaan barusan bikin mood saya nggak enak. Banyak jawaban berkecamuk dalam kepala saya, tapi susah ngomongnya. Lebih tepatnya, saya belum berani terus terang.

Saya cuma bisa bilang, “agama itu kan warisan.”

Orang tua saya Islam. Ibu saya mulai belajar saat menjelang tua dan sejak saat itu jadi semakin kolot. Padahal dulu di SMA itu saya milih sekolah Kristen dan hampir jadi Kristen. Faktanya, banyak orang seperti Ibu saya. Entah karena ingin menebus dosa saat masih ‘jahiliyah’ atau gimana, begitu kenal ritual agama, tiba-tiba jadi begitu sakleknya.

Izza itu anak saya. Saya mendidik dia dengan cara yang, entah sialnya atau untungnya, jauh beda sama Ibu saya. Saya tidak sesaklek Ibu saya. Secara lahiriah anak-anak saya Islam. Tapi pencarian apapun yang mereka lakukan, semua saya ijinkan. Dengan semua kebebasan yang saya berikan, dia pikir semua bisa saja terjadi. Jadi dia berkata,
“Warisan kan bisa nolak.”

Jelas dia bilang gini, karena dia anak saya, emak yang agak ‘somplak’ ini. Dia bukan anak Ibu saya yang begitu adzan sudah ribut nyuruh solat. Lewat setengah jam dari adzan sudah menebarkan nasehat pake ancaman masuk neraka. Kalau dia memahami Ibu saya, dia akan tahu bahwa menolak warisan adalah dosa besar. Jangankan agama, menolak warisan harta saja bisa bikin ribut.

Tapi saya cuma bilang, “nggak semudah itu.”

Dia nanya, kenapa? Saya nggak bisa jawab. Atau sebenarnya malas jawab. Bakso sudah habis, saya juga capek seharian kerja lalu nunggu dia pulang les. Sore itu sudah pukul enam sore. Maka kami pulang tanpa jawaban yang memuaskan buat Izza.

Siang ini Izza yang sejak kemarin minta ditraktir steak, akhirnya saya turuti. Awalnya kami ngobrolin tentang teman-teman Izza. Saya bilang, teman-teman dia itu sebenarnya baik-baik. Cuma karena mereka masih pada stage agamis, jadi nggak pas sama Izza yang sudah nggak ada di stage itu.

Izza sering mengeluhkan teman-temannya yang percaya flat earth atau ngefans sama Zakir Naik. Bukan salah mereka, kata saya. Stage memang ada beberapa. Awalnya orang akan sangat memuja hal-hal yang agamis. Mereka memuja Aa Gym, Mama Dedeh, Zakir Naik, flat earth.

Lalu ketika masalah hidup mendera tak habis-habis, mereka mulai mempertanyakan apa sih gunanya agama kalo nggak bisa bikin enak hidup? Juga karena begitu banyak masalah muncul justru karena agama. Orang dibakar di halaman mesjid, patung ditutup kain, banyak hal yang tidak pantas dilakukan atas nama agama. Mereka mulai bingung. Agama itu buat apa dong? Lantas mereka tidak percaya lagi sama agama. Ini stage kedua.

Ketika mereka tidak lagi percaya agama, mulailah mereka mencari. Masa pencarian adalah stage ketiga. Stage keempat adalah menemukan. Nah, apa yang mereka temukan, itu tergantung perjalanan mereka masing-masing.

Bisa saja orang jadi ateis. Saking percayanya bahwa mereka bisa hidup sendiri tanpa Tuhan, toh nyatanya saat manusia menderita Tuhan nggak keliatan ngapa-ngapain kok. Jadi mereka nggak lagi percaya pada imajinasi tentang Tuhan. Ada juga yang bertahan pada teis, dengan berbagai varian. Ada teman yang mengaku panteis, ada yang mengaku agnos. Semua terserah mereka. Nggak ada yang perlu diperdebatkan. Namanya jalan-jalan aja ada yang nyampai ke mal, ada yang nyampai ke gunung. Semua sama asiknya. Kita juga bisa pilih ala kita yang bikin senang.

Jadi saya bilang ke Izza, manusia itu sebenarnya beyond (jauh lebih dari) agama. Mereka tidak bisa diidentifikasikan dengan agama karena membuat mereka malah terkotak-kotak. Padahal kebenaran sejati itu jauh di luar kotak. Meski begitu, ini semua tetap pilihan. Ada juga yang sudah paham ini semua, tapi tetap memilih beragama namun berpikir tidak lagi ada di dalam kotak.

Itulah saya. Ritual ibadah yang saya tahu cuma Islam. So here I am. Solat itu menyenangkan. Puasa juga. Tapi saya tak ingin mengkotakkan diri dalam ruang sempit yang dibikin orang-orang tentang agama ini karena semua manusia hakekatnya sama. Hanya keyakinan dan kebiasaan mereka saja yang berbeda.

Saya belum bisa membayangkan diri saya berdoa di gereja meski saya jatuh cinta pada ketenangan gereja. Saya juga masih cinta dengan ide berkeTuhanan jadi saya nggak ingin jadi ateis. Tak peduli ada teman ateis yang pernah mengatakan saya goblok karena ini. Saya malas keluar dari zona nyaman dan itu pilihan hidup saya.

Akhirnya saya bisa memberi jawaban yang lebih baik daripada “embuh” pada Izza. Dia akan menemukan jawaban sendiri atas pertanyaan yang sama. Setidaknya pembicaran kali ini cukup menjelaskan padanya kenapa dia susah nyari temen yang klop benar. Bukan salah temannya bukan juga salah dia. Mereka hanya ada di stage yang berbeda.

Ini saya share di facebook untuk teman-teman saya yang kemarin nanya ke saya, kira-kira apa pendapat saya untuk pertanyaan Izza. Masalah stage-stage itu, well, kalau anda tidak percaya, lupakan saja. Saya ngarang berdasarkan pengamatan saya. Pendapat saya di sini, juga tidak harus disepakati. Tapi apakah pendapat tentang keyakinan bisa kita perdebatkan? Rasanya tidak. Jadi mari kita saling menghormati saja. Toleransi itu harus dimulai dari pikiran yang jernih.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

7 Comments to "Agama Buat Saya"

  1. Swan Liong Be  16 August, 2017 at 23:19

    Udahlah, mengapa kita ,meskipun sudah sepakat bahwa agama itu hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhannya, kok ya tetap masih memposting soal agama.Jawabannya dan komentar ujung²nya ya sama aja, tidak ada hal yang baru; at least bagiku tidak ada pencerahan yang baru, ya boleh dibilang secara drastis: SOS = Same old Soup!

  2. Linda Cheang  15 August, 2017 at 15:59

    Agama menurutku, caranya manusia yg maha terbatas, untuk mencoba mengenal Si Pencipta yang maha tak terbatas…

  3. Alvina VB  14 August, 2017 at 23:00

    Agama buat saya cuman sarana aja utk mendekatkan diri pada sang pencipta. Hubungan pribadi denganNya harusnya menjadi hak asasi pribadi manusia masing2 yg gak bisa dipaksakan atau dibeli. Makanya toleransi agama itu ya terkait di situ. Tuhan saya rasa maha segalanya dan manusia dengan keterbatasannya gak bisa mengerti 100% jalan dan kehendakNya; Dia gak perlu dibela, dibeli atau disogok sama apapun juga.

  4. James  14 August, 2017 at 16:01

    uang terpenting bukanah Agamanya tapi Hubungan Vertikal dan hubungan Horizontal, hubungan Vertikal adalah hubungan Manusia dengan Allah sedangkan hubungan Horizontal adalah Manusia dengan Manusia dan Agama sendiri dibuat oleh Manusia justru karena adanya perbedaan-perbedaan itu, mengapa perbedaan itu harus dipaksakan atau diperdebatkan berarti Pelanggaran Hak Azazi Manusia

  5. Sumonggo  14 August, 2017 at 14:30

    Agama buat siapa?
    Agama dibuat siapa?
    Agama buat apa?

    Embuh …. Pokokmen Gusti ora sare …..

  6. Lani  14 August, 2017 at 14:20

    Wesi: Menurutku kepercayaan, agama, atau apapun sebutannya tdk bisa dan tdk boleh dipaksakan.

    Klu menurut pendpt pribadiku, tujuannya hanya satu pd sang khalik yg orang menyebutnya berbeda-beda, Tuhan, sang Hyang widi, Allah dan masih banyak lagi monggo ditambahi…………

    Hanya untuk menuju kesana melalui jalan yg berbeda-beda………..

    Itu sdh jelas, aneh tapi nyata sdh tahu jalannya berbeda-beda msh saja ada yg tdk bisa menerima perbedaan2 itu………..

    Nah dari sanalah timbul saling serang, saling menghujat, saling menjelekkan, dan masih banyak lagi dengan menggunakan senjata yg dinamakan agama/kepercayaan.

    Padahal kalau bisa saling menghormati perbedaan semuanya akan berjalan dgn damai……….

    Itu pendptku ya, klu ada yg tdk setuju, tdk bisa menerima ya monggo waelah………krn aku menghormati pendapat yg berbeda dan tdk sama………

  7. Donald  14 August, 2017 at 11:50

    Beragama itu membuat manusia jadi baik dan manusiawi.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *