LUPA

Dian Nugraheni

 

Atau tepatnya kepedean sehingga jadi kurang aware.

Tiga tahun lalu pulkam, anak-anak masih cukup “piyik”. Disuruh apa-apa, mau. Apa-apa itu ya misalnya, les melukis, ngaji, les piano, dan les ketrampilan tangan lain, di samping tentu saja, piknik kemana-mana, sedikit beli-beli barang yang diinginkan mereka yang tidak ada di Amrik. Waktu itu, mereka juga nampak happy dengan segala kegiatan yang aku sediakan selama liburan pulang kampung. Sebab prinsipnya, bagiku adalah, ketika anak-anak libur panjang, maka orang tuanya harus membuat mereka “selalu sibuk.”

Sekarang ini, pulkam, ketika anak-anak sudah menjelang dewasa, 19 dan 16 tahun. Dan aku masih berpikir bahwa anak-anak masih mau “nurut” jadwal yang diberikan Maknya…

Syahdan, dengan sikap pikiran yang demikian, kemudian diterapkan ke anak-anak, maka hasil yang ada adalah, “saling menyakiti hati”.

Anak-anak nggak mau lagi diatur-atur, mereka bertemu-temu teman-teman SD yang kini sudah sama-sama menjelang dewasa. Mereka berjanji-janji jalan kemana-mana, termasuk akan menginap keluar kota.

Kalau jalan-jalan dalam kota, si Mak kasih aja, dengan ketentuan jam sekian harus sudah pulang. Kalau keluar kota nginap-nginap, si Mak masih bagaikan manajer, mengikuti, dan pesankan tempat menginap, tapi jelas “dihardik” ketika akan mengikuti mereka jalan kemana-mana.

Nggak si sulung, nggak si bungsu, kok dua-duanya seperti galak bener ke si Mak, serba nggak cocok. Kalau yang sulung doang yang marah-marah, ya memang sesuai karakter sulungnya, dia kayak sok kuasa dan ga mau diatur, tapi ini si bungsu ikutan marah-marah dan empet sama si Maknya, bukan hal yang biasa ini…, sebab selama ini si bungsu selalu bersikap “baik,” meski nggak setuju. Bahkan aku sampai berani bilang bahwa sampai usianya ini, sebagai anak, dia belom pernah menyakiti hatiku…

Makanya, akhirnya, si Mak yang harus berusaha keras mengaca diri, dan kemudian ikutan menyesuaikan sikap, mesti gimana ke anak-anak menjelang dewasa ini…

Syahdan lagi, jadwal rencana si Mak mau ke sana, kemari, bertemu ini, anu, dan lain-lain, lumayan amburadul, ambyar, karena harus menyempatkan waktu untuk tetap “menjaga” anak-anak, meski nggak bisa “menempel” kepada mereka berdua…

Demi anak-anak, ya sudah gapapa, jadwal si Mak lumayan ambyar…

 

_Belajar itu memang seumur hidup, saat ini belajar menghadapi anak-anak yang berangkat dewasa_

 

 

 

5 Comments to "LUPA"

  1. Linda Cheang  15 August, 2017 at 16:02

    Mak, gantian, dong sekarang Mak yang nurut ke maunya anak-anak. Mereka bukan anak-anak macam piyik lagi, Mak.

    hehehehe

  2. Lani  15 August, 2017 at 09:47

    Al: Ternyata ada yg setuju dgn pendapatku……..mahalo ya, walau tdk pernah dikasih kesempatan utk mendidik sendiri secara langsung……..hanya mendengar, menelaah dr crita teman2 saja yg kebetulan mempunyai anak

  3. Alvina VB  14 August, 2017 at 23:10

    Setuju dengan pendapatnya James dan mbakyu Lani. Selain itu…. jaman kita dulu kecil dan sekarang jauhhhh beda, kadang suka mikir dulu kita sama org tua gak berani begini-begitu sama org tua, anak2 sekarang berani, well….jaman sudah berubah. Saya suka bilang sama anak saya kl kamu hidup di Indonesia sama grandma, bisa nangis2 bombai dech, ha..ha…..krn strict sama aturan.

  4. James  14 August, 2017 at 16:19

    segala sesuatu ada waktunya, begitu juga dengan pertumbuhan anak-anak, mereka akan berubah menurut waktu pertumbuhan mereka, biarkan dan berilah mereka kesempatan dalam pertumbuhan mereka aalkan tidak melampaui batas-batas wajarnya

  5. Lani  14 August, 2017 at 14:29

    Dian: mendidik itu kewajiban orang tua, akan ttp hrs menyesuaikan dgn usia mereka, dan disesuaikan dgn zaman nya……….dibalik itu aku tahu dan mengerti mendidik itu bukan hal yg mudah………

    Yang penting (padahal ora pernah duwe anak dewe) demokrasi, dan terapkan komunikasi, tapi kedisiplinan serta limit tetap dipegang……..apa boleh kalau aku mengatakan dgn pepatah jawa “culke endase, cekeli buntute”???

    Mungkin artinya kira-kira hrs didampingi, diawasi, tut wuri handayani? Melibatkan diri hingga mengetahui apa dan bagaimana anak-anak menggunakan tanggung jawab yg telah diberikan oleh orang tuanya……..

    Kalau salah ya mohon pangapurane wae yo……….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *