Meditasi, Moralitas dan Agama

Ary Hana

 

Setiap kali hendak mengikuti retreat meditasi, pasti ada teman yang bertanya, “Kenapa menyiksa diri? Apa kau ingin menjadi sakti? Sehat? Melarikan diri dari masalah?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu kerap mereka lontarkan, dan saya hanya menjawab, “Karena suka, semata suka.” Dan mereka akan terus bertanya jika saya hendak mengikuti retreat meditasi berikutnya, begitu seterusnya. Dan saya mungkin akan terus menjawab karena suka. Tanpa target dan motif tertentu.

Lima enam tahun lalu, ketika mengikuti retreat meditasi pertama kali, alasan saya karena ingin mengendalikan diri saya. Saya begitu mudah tersinggung, bahkan oleh hal-hal yang sepele. Meditasi menurut teman, dapat membantu kita mengendalikan diri, baik pikiran maupun perasaan. Saya lalu mulai rutin mengikuti retreat meditasi, mencoba beberapa metode yang berbeda, dari yang total hanya duduk selama seharian sambil ‘scanning’ bagian tubuh, ada yang bertujuan melatih konsentrasi atau meditasi samatha, lalu yang fokus pada pikiran, terakhir meditasi pandangan terang atau vipassana satipatthana. Pada teknik yang terakhir ini saya merasa pas. Walau dilakukan seharian selama belasan jam namun tak membuat tubuh saya remuk redam, karena dilakukan bergantian antara duduk dan berjalan, serta selalu menekankan pada kondisi sadar pada apapun yang dilakukan.

Tentu, setiap peserta meditasi akan menemukan teknik yang dirasanya cocok bagi tubuhnya. Ada yang suka meditasi samatha, ada yang memilih meditasi metta bhavana atau meditasi cinta kasih, ada yang mirip saya, dan mungkin ada yang lebih suka fokus pada pikiran. Yang terpenting, mereka merasa nyaman saat bermeditasi dan mendapatkan manfaat usai meditasi.

Ya, manfaat meditasi umumnya baru dirasakan usai mengikuti retreat meditasi, ketika kita hidup di dunia nyata, bergaul dengan banyak manusia, menghadapi segala pikuk kehidupan. Hal itu yang saya rasakan lima enam tahun lalu.

Emosi menurun drastis, amarah bisa jadi hanya terbangkitkan sekali sebulan, lalu semakin berkurang, berkurang, bahkan kini bisa 3-4 kali sebulan baru bisa merasakan marah. Itu pun hanya beberapa saat. Lalu adem. Andai dikompori kolega pun, lebih banyak acuh tak acuh. Ketika mendengar gosip atau berita panas ini itu, cuma diam dan menyingkir. Banyak hal menjadi dingin.

Menghindari hal-hal penyebab panas, seperti berita di teve, berkumpul dengan tema atau kolega yang ujung-ujungnya gosip, pamer ini itu, menjadi kegiatan rutin. Kalau hendak bicara pun yang perlu dan baik saja, pasang status di medsos pun yang ‘semoga’ berguna buat orang lain. Bukan yang membangkitkan rasa tidak suka, panas, atau komentar jahat. Walau, masih ada saja yang berkomentar jahat, atau berburuk sangka. Namun hati dan pikiran selalu adem, tak bergeming.

Namun manfaat meditasi tak sekedar itu. Saya jadi mawas diri. Ketika mengambil makanan misalnya, saya jadi tahu dan merasakan itu karena lapar atau sekadar serakah memenuhi perut. Ketika membeli sesuatu saya sadar karena kebutuhan atau sekadar menumpuk barang atau memperbanyak koleksi. Saat merasa berlebihan, maka saya harus membaginya dengan orang lain.

Begitu juga saat merasa tidak suka dengan seseorang, saya akan menganalisa apakah karena iri, merasa tersaingi, atau sekedar tidak suka dengan perilakunya yang tidak pantas. Dengan demikian, saya akan logis bersikap. Dan saya tak perlu berpura-pura, berbohong, ketika berhadapan dengan seseorang. Jika dipaksa bertemu orang yang suka mengeksploitasi orang lain, saya akan berkata tidak. Menghindari hal-hal yang tidak perlu, atau hal-hal yang mungkin membawa bencana, biasa saya lakukan kini.

Meditasi juga membuat diri lebih efektif memanfaatkan waktu. Ketimbang ngobrol ngalor ngidul tidak jelas, saya pilih membaca, bekerja, atau meneliti. Bahkan, kerap saya pamit dari obrolan yang membuat pusing kepala lalu tidur. Jiwa yang nyaman, pikiran yang tenang, melakukan hal-hal baik yang bermanfaat selagi masih hidup, itu yang selalu ingin saya lakukan. Karena itu saya selalu datang ke retreat meditasi -yang berdasar donasi- setidaknya dua tiga kali setahun, dan rutin melakukan meditasi setiap hari. Untuk memelihara kesadaran yang ditunjukkan lewat jiwa yang nyaman dan pikiran yang tenang. Kalau saya pikirkan kembali, meditasi menguatkan moralitas pada diri.

Moralitas ditegakkan oleh agama dan aliran kepercayaan. Norma, aturan, yang membedakan mana perilaku baik mana yang buruk diajarkan oleh semua agama dan aliran kepercayaan, berlandaskan rasa cinta kasih. Tujuannya jelas, mengatur hubungan antar manusia, antara manusia dan makhluk lain, juga antara makhluk hidup dan alam semesta, serta antara makhluk dengan Tuhannya,, agar kehidupan berlangsung harmonis secara terus menerus.

Sayangnya, semaki tua jaman semakin banyak friksi dan ketidakharmonisan terjadi. Itu bukan karena populasi ular sanca yang meledak, gajah-gajah yang terus beranak pinak, atau pohon beringin yang sengaja merobohkan diri. Tentu hewan punya nafsu -lebih tepatnya naluri- karena digunakan untuk bertahan hidup. Namun manusia yang mulai kehilangan kendali akan nafsu, keinginan, ego, sehingga mulai merusak tatanan dan menimbulkan disharmonisasi.

Lalu apa peran agama? Walau ulama, pendeta, pemuka agama berkata, perkuat pelajaran agama bla bla bla toh masih ada istri pejabat yang main tampar ketika diminta melepas arlojinya pada pemeriksaan keamanan di bandara, atau kakek yang tega memperkosa cucunya, bahkan sahabat yang menilep tabungan dan ATM karibnya. Mungkin karena manusia mulai menjalani hidupnya tanpa kesadaran, pikirannya mengembara pada barang dan kenikmatan duniawi, sementara hasratnya mencari hal yang tak dimiliki. Dan agama, aliran kepercayaan, tak punya sanksi yang jelas terhadap umatnya kecuali ancaman masuk neraka. Manusia mulai kehilangan rasa malu dan takut.

Tentu, agama dan aliran kepercayaan punya sejenis meditasi, yang disebut  sembahyang, samedhi, puasa, tapa bratanya masing-masing, yang membuat manusia seharusnya tak kehilangan kendali, selalu menyadari perbuatannya. Namun kini segala samedhi, tapa brata, puasa, sembahyang, lebih mirip ritual tanpa makna, yang dijalani karena keharusan atau kebiasaan, bukan kesadaran yang menjadikannya candu yang memabukkan. Ada yang salah dalam hidup manusia, ada yang hilang dalam rantai ikatan antara batin dan pikiran, jiwa dan raga.

Saya tak mengatakan kalau meditasi menjadi satu-satunya alat penguat moralitas. Ini hanya satu alat. Banyak alat lain, semisal membantu sesama yang kekurangan, menjadi sukarelawan pada program kemanusiaan, melakukan perjalanan ke pelosok yang sulit dijangkau dan miskin komunikasi seluler. Bahkan mengidap penyakit mematikan, jatuh pailit, akan menyadarkan manusia akan nilai kehidupan, betapa indahnya sehat, membahagiakan orang lain dan berbuat kebaikan. Kalau dipikir, surga tak harus menunggu mati dulu baru dapat dicicipi, namun berbuat kebaikan di saat ini, menekan nafsu dan angkara, mencintai sesama dengan tulus, juga mendatangkan surga yang damai, tenang, dan teduh.

 

Salam metta

 

Bisa juga dibaca di: https://othervisions.wordpress.com/2017/07/09/meditasi-moralitas-dan-agama/

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "Meditasi, Moralitas dan Agama"

  1. James  17 August, 2017 at 05:50

    Meditasi bnyk fungsinya dan gunanya= apalagi meditasinya di Kona sono…. Mabur takut sandal terbang ke kelapa

  2. Alvina VB  17 August, 2017 at 01:51

    Turut menyimak dulu yak….

  3. Sumonggo  16 August, 2017 at 14:01

    Terjebak dalam dogma tanpa dibarengi dengan peningkatan pemahaman, gemar melakukan ritual tetapi tidak selaras dengan perluasan kesadaran. Lama kelamaan hanya sekedar menjadi “tengkulak pahala”.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *