Pancasila Setelah 72 Tahun Indonesia Merdeka

Herluinus Mafranenda Dwi Nugrahananto

 

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

Warga Indonesia adalah manusia yang religius. Semua-semua menggunakan agama. Bahkan, hal yang seharusnya tidak menggunakan agama, tapi agama dibawa-bawa. Sungguh, kecintaan terhadap agama lebih besar daripada kecintaan terhadap Tuhan dan sesama. Jadi, kadang akhir-akhir ini banyak sekali kasus yang memang sengaja menyeret-nyeret agama supaya dapat dukungan.

Mengerikan. Makan di warung padang, senggolan, kemudian saling melihat, berdebat, eh endingnya ditanya “Kamu agamanya apa?!”. Padahal tidak ada hubungan apapun antara senggolan dan agama.

Lebih mengerikan lagi di sosmed akhir-akhir ini. Debat online, sudah bagus saling menyerang dengan argumen yang kuat dan masuk akal. Hingga salah satu tersudut dan keluarlah kata-kata mujarab “Kamu agamanya apa?! Klo kamu beragama X, kamu tidak akan Y!”

Sungguh, beragama lebih penting daripada berTuhan!

 

Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Warga Indonesia adalah masyarakat yang efisien. Trotoar digunakan untuk lewat kendaraan bermotor. Giliran ditegur oleh pejalan kaki, ngamuk-ngamuk dan merasa sudah paling benar.

Masyarakat Indonesia pada umumnya juga sangat nasionalis. Sangat cinta pada negaranya. Kalau ada pengusaha Cina yang lebih sukses, lalu bersama-sama teriak “Ganyang orang Cina, pulangkan ke negerinya!”. Kemudian tiap lihat orang Cina langsung sensinya naik, “Dasar Cina, pulang aja ke negerimu! Gara-gara kamu kita jadi miskin!” Padahal tidak semua saudara-saudara kita yang Chinese kaya raya dan berlimpah harta

Warga Indonesia juga sangat cinta keamanan dan ketertiban lingkungan. Ketika ada maling, langsung bakar hidup-hidup sekalian motor yang dibawanya. Minimal dihajar sampai cacat seumur hidup. “Iya, biar kapok. Biar nggak maling lagi dia! Kan kasihan warga sini!”

Masyarakat kita pada umumnya juga sangat menjunjung tinggi kekeluargaan. Setiap berkasus dimanapun, tinggal sebut saja nama orang yang berpangkat atau berpengaruh, sudah bisa dipastikan tidak bisa diutek-utek lagi posisinya, sekalipun posisinya salah.

 

Sila ketiga: Persatuan Indonesia

Masyarakat kita saat ini sudah mulai beridentitas. Masing-masing mulai punya identitas diri, masuk dalam golongan A, golongan B, dan golongan C. Sayangnya, mulai terlupakanlah bahwa golongan besar kita ini bernama ‘INDONESIA’. Setiap ada apa-apa yang dibela adalah kepentingan golongannya sendiri, cari amannya sendiri. Sehingga nama besar INDONESIA akan hilang begitu saja. Parahnya, ada lagi golongan tertentu yang kemudian teriak-teriak paling Indonesia. Padahal ada udang di atas weci, tujuannya untuk membela golongannya sendiri. Super!

 

Sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan Perwakilan

Musyawarah selalu berakhir dengan sulit, karena masing-masing sibuk membawa identitas golongannya masing-masing dengan berbagai kepentingan. Masyarakat kita adalah masyarakat yang prestisnya tinggi. Padahal dalam sebuah musyawarah untuk mencapai mufakat perlu ada yang mengalah untuk mencapai sebuah tujuan bersama. Prestis itu membuat masyarakat kemudian pecah atau mungkin munculnya One Man Show, seorang atau sekelompok pahlawan kesiangan yang seolah-olah membantu padahal sedang memaksakan kehendak golongan yang dipimpinnya.

“Demokrasi itu biayanya tinggi!” Iya tinggi, karena harus membiayai golongan-golongan dengan prestis tinggi dan kepentingan yang tidak bisa ditawar. Apalagi untuk membiayai kebutuhan hidup dan keinginan wakil rakyat yang duduk di gedung perwakilan yang sampai sekarang tidak jelas mengerjakan apa, Undang-undang yang berhasil goal juga cuma beberapa aja (pesanan pengusaha lagi)…duh….Eh…..

 

Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Wih, masalah keadilan, jangan salah. Masyarakat kita ini super adil! Pokoknya, semua harus SAMA RATA! Iya! Adil itu SAMA RATA!

“Wih, sialan emang pemerintah ini! Saya kan miskin! Listrik 900 kVA dicabut subsidinya. Naik, 2 kali lipat! BPJS juga iurannya duh bikin berat! Bensin juga naik! Aku bayar pake apa?? Nggak bisa mikir memang pemerintah ini! Kerjanya apaan sih? Pelihara kecebong??!” Ujar seorang bapak beranak dua sembari mengelap-ngelap mobil LCGC keluaran terbaru yang terparkir di samping motor CBR250R terbaru yang masih kredit. Rokok Marlboro batang terakhir dari bungkus pertama hari itu baru saja habis, segera dibukanya bungkus rokok yang baru. Sehari dia bisa habis 3 bungkus rokok.

See? Masyarakat miskin berhak mendapatkan hidup yang layak. Masyarakat miskin juga berhak untuk mendapatkan perhatian dari negara. Berlakulah adil dan proporsional! Jika miskin, bilang miskin. Biar pemerintah yang menanggung hidupmu, sementara kamu bisa berpikir gimana caranya agar bisa keluar dari kemiskinan ini. Yang udah mampu, nggak usah ngaku-ngaku miskin biar terus disubsidi dimanja sama pemerintah. Malu dong sama yang bener-bener kaya! Garasi Semangit! Gaji Ra Sepiro, Senengane Macak saklangit!

****

Sudahkah kita mengamalkan Pancasila dengan benar pasca 72 tahun Indonesia merdeka? Ada pedomannya lho, Tap MPR No II/ MPR/ 1978. Silakan dicari di Wikipedia dan sumber lainnya.

****

Sudah tua ya Indonesia.Ya, apa yang saya tulis di atas mengenai tingkah laku kita dalam pengamalan Pancasila, adalah realita yang kita hadapi sehari-hari. Semakin tua seseorang, maka seharusnya ia semakin matang. Tetapi sayangnya secara psikologi hal ini tidak berlaku. Tingkatan usia seseorang tidak menjamin tingkah lakunya.

Seseorang akan terlahir sebagai seorang anak-anak yang kekanak-kanakan, kemudian tumbuh dewasa, kemudian akan menua dan menjadi kekanak-kanakan lagi. Melihat dari perspektif ini, Indonesia saat ini sedang menjadi kekanak-kanakan lagi, menjadi negeri yang unyu-unyu. Masyarakatnya kagetan dengan teknologi baru. Kaget dengan yang namanya globalisasi yang sejak dulu didengungkan, hari ini menerjang dengan deras. Semua-semua dicoba, sayangnya bukan untuk alasan yang positif. Atas nama kebebasan kemudian semuanya bertingkah seperti anak kecil: berlaku sesuka hati, tidak mau disalahkan, tidak mau bertanggung jawab.

Ya, negeri kita yang berusia 72 tahun ini jadi seperti ini. Memang realitanya seperti ini. Mau bagaimana? Pindah ke negara lain yang ‘katanya’ lebih oke, pengangguran digaji, gelandangan diurusin, sampai agamanya diurusin banget? Tidak semudah itu kawan! Hidup disana pun juga tidak menjamin. Rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau.

Tidak, kita harus tetap tinggal disini sekalipun kondisinya sudah seperti di film Hunger Games, tidak jelas siapa kawan dan siapa lawan, semuanya saling menikam demi kepentingannya. Kita harus tetap disini. Kepada siapalah negara ini berharap kalau tidak kepada generasi mudanya? Bukan! Bukan kamu cabe-cabean! Bukan kamu juga anak muda yang hobi mabuk-mabukan, tawuran, vandal gak jelas!

Juga bukan kamu anak muda yang memilih putus sekolah atas nama kebebasan padahal cuma karena kelihatan anti mainstream, malas-malasan di rumah, dugem sampe mabok, belajarlah dulu apa arti kebebasa supaya kamu bisa bicara kebebasan! Bukan kamu juga anak-anak muda yang pengen sekedar eksis tapi nggak tau apa intisari dari apa yang kamu lakukan! Ya, kamu anak-anak muda yang saat ini berjuang mengejar masa depannya, mampu menjadi pribadi yang bebas dan benar, dan kamu yang punya ambisi besar beranjak dari keprihatinanmu melihat bangsa ini.

Indonesia sudah cukup tua. Tapi kita tidak pernah terlalu muda untuk memulai. Siapapun berhak memulai kembali, bayi yang lahir sekalipun. Tidak ada kata “menunggu tua/matang” untuk memulai. Memulai apa??? Memulai hal-hal yang benar dalam hidupmu! Simple, lakukan hal yang benar, biasakan diri melakukan hal yang benar. Berdisiplin! Pakai sepatu ya di kaki, bukan di tangan. Pakai topi ya di kepala, bukan di leher. Buku tulis ya dipakai menulis, bukan buat bikin pesawat terbang. Naik motor ya di jalan raya, bukan di trotoar. Sein ke kanan ya beloknya ke kanan.

Yang sudah berjuang, teruslah berjuang. Jangan menyerah melihat Indonesia yang menua ini. Jangan bertanya “Dibayar apa sama negara??”. Tidak, negara tidak akan pernah membayarmu untuk beribu-ribu kebaikan yang sudah kamu lakukan di negara ini. Tapi, kamu akan melihat dengan bangga bahwa negara kita menjadi negara yang maju segalanya, berdiri dengan tegap di bawah Sang Saka Merah Putih dan kemudian meneriakkan dengan lantang dan bangga sembari menepuk dada: NKRI HARGA MATI!

 

 

About Herluinus Mafranenda

Kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga 2010-2014. Mahasiswa Profesi Kedokteran Gigi sekarang - 2015. Anda sakit gigi? Ada gigi berlubang? Gigi sakit tiba-tiba nggak sakit lagi? Gigi goyang? Mau dibuatkan gigi tiruan? Ada sariawan, gusi bengkak-bengkak mudah berdarah, atau gangguan kesehatan mulut lainnya? Tenang saja, hubungi saya di 081802760016 atau mention di Twitter @herluinusTND khusus daerah Surabaya, Jatim dan sekitarnya. Kualitas terjamin, harga bersaing, perawatan di RSGMP FKG Unair Surabaya. Karena kesehatan Anda yang utama...

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

4 Comments to "Pancasila Setelah 72 Tahun Indonesia Merdeka"

  1. djasMerahputih  20 August, 2017 at 19:58

    Saya sih optimis dengan kebanyakan anak muda Indonesia. Hanya saja sisi negatif yang lebih sering diviralkan. Tinggal diberi dukungan dan kesempatan maka generasi emas itu pada saatnya akan tampil memimpin di segala bidang.

    NKRI HARGA PAS..!! Ngga bisa ditawar lagi, Om Tante..!!

  2. James  19 August, 2017 at 06:46

    Bumi ada dibawah Telapak Kaki Ibu…….Pancasila ada dibawah Telapak Kaki Radikalisme dan Koruptor

  3. Alvina VB  19 August, 2017 at 03:39

    Sayangnya banyak politician yg tidak mengamalkan Pancasila. Yg mengamalkan Pancasila malah ditumbangkan/dirongrong dengan berbagai masalah.

  4. Lani  18 August, 2017 at 11:59

    Artikel yg mencerahkan, semoga semakin banyak orang tersadarkan dan mengerti dan semakin banyak orang waras terutama yg suka menghujat, asal njeplak, terutama pengguna med-sos (jelas ora gubyah uyah)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *