Poligami: Surat dari Ibu

Chandra Sasadara

 

Syukur Al Hamdi Anakku
Assalamu’alaikum Wr.wb…
.
Menjelang subuh tadi istrimu datang, menangis, dan bercerita tentang persoalan keluargamu. Meskipun kamu anakku tapi keluargamu adalah tanggung jawabmu “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun anra’yatihi”. Setiap pemimpin akan ditagih tanggung jawabnya tentang apa yang dipimpinnya, kelak Allah pun akan meminta tanggung jawabmu sebagai kepala keluarga. Namun sebagai seseorang yang ditangisi oleh menantunya, ibu merasa masih punya hak untuk menasehatimu.
.
Keinginanmu untuk menikah lagi itu hakmu, itu tanggung jawabmu. Namun kalau keinginanmu benar-benar akan kamu lakukan berdasarkan hujjah (argumentasi) agama maka ibu bisa membantu untuk memberikan sudut pandang lain tentang poligami. Jangan lupa, ibumu ini adalah anak kyai dan istri kyai. Ibu juga tahu, selain cucu kyai dan anak kyai kamu juga dipanggil jamaahmu dengan sebutan ustadz Syukur, pasti keputusanmu untuk menikah sudah berdasarkan pertimbangan syara’ (naqliyah) dan hujjah aqliyah (nalar rasional).
.
Ibu tahu dalil naqli yang kamu gunakan untuk poligami adalah Surah Annisa’ ayat tiga, namun pertanyaan ibu: apakah kamu juga membaca Annisa’ ayat dua? Annisa’ ayat dua itu memberikan konteks ayat berikutnya. Kalau kamu cermati ayat dua itu berkaitan dengan pengelolaan harta anak yatim. Ayat dua itu menegaskan larangan agar jangan memakan harta anak yatim. Dalam ayat tiga disebutkan “kalau kamu khawatir tidak bisa berbuat adil (dalam hal pengelolaan harta) kepada anak-anak yatim nikahilah perempuan-perempuan yang kamu senangi dua, tiga atau empat.”
.
Kalau pemahaman kamu utuh terhadap dua ayat dalam Surah Annisa’ tersebut maka akan mendapat sejumlah kesimpulan. Pertama, dua ayat itu terkait dengan pengelolaan dan perlindungan terhadap harta anak yatim, bukan semata terkait dengan perintah poligami. Kedua, poligami dalam ayat tiga itu bagian dari cara mengelola harta anak yatim. Kalau kamu tidak bisa mengelola harta anak-anak yatim karena khawatir tidak bisa berbuat adil maka nikahi perempuan-perempuan yang kamu senangi. Perempuan-perempuan dimaksud adalah ibu-ibu dari anak-anak yatim yang disebut dalam ayat dua. Ketiga, “wa’in kiftum ala ta’dilu fawahidah” kalau kamu tidak bisa berbuat adil menikahlah satu saja.
.
Pesan ayat itu bagi kita. Pertama, laki-laki boleh berpoligami selama dibutuhkan untuk menjaga dan mengelola harta anak yatim dari perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya. Kedua, pernikahan itu harus ADIL (adala). Pertanyaannya ibu, apakah perempuan yang akan kamu poligami itu trelihat butuh perlindungan untuk harta anak-anaknya atau nampak seperti seseorang yang tidak bisa mengelola hartanya?
.
Anakku, lihatlah betapa ketatnya Allah memberikan syarat poligami bagi laki-lagi. Surah Annisa ayat satu dan dua itu menggunakan kata “qosata” dan “adala”, keduanya berarti adil dalam bahasa kita. Namun keduanya memiliki makna adil yang berbeda. “Qosata” itu adil dalam hal pengelolaan harta kekayaan yang bersifat materiil sedangkan “adala” memiliki pengertian adil dalam hal perasaan, emosi, cinta, kasih sayang dll yang bersifat imateriil. Adil yang dituntut dalam poligami adalah adil dalam pengertian imateriil oleh karena itu Al-qur’an menggunakan kata dalam Bahasa Arab “adala”. Tegasnya ibu ingin mengatakan bahwa secara syar’i poligami itu bukan hal mudah bagi laki-laki, bahkan tidak mungkin. Coba baca Annisa ayat 129 “walan tastati’u anta’dilu baina annisa walau harastum,” kamu tidak akan bisa berbuat adil di antara istri-istrimu kalaupun kamu sangat ingin melakukan hal itu.
.
Syukur anakku, apakah kamu masih ingat Kitab Hadits Ibnu Atsir yang berjudul Jami’ul Ushul. Ibu sudah lama tidak membuka kita hadits peninggalan ayahmu itu. Ibu bersyukur, tangisan istrimu memaksa ibu untuk membuka kitab yang berisi kumpulan hadist dari Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Turmudzi, dan Ibnu Majah. Dalam kitab tersebut pada juz xii hadist nomor 9049 Nabi Muhammad mengatakan “Barang siapa yang mengawini dua perempuan, sedangkan ia tidak bisa berbuat adil kepada keduanya, pada hari akhirat nanti separuh tubuhnya akan lepas dan terputus.” Masya Allah, ibu tidak rela anak-anak ibu akan menderita seperti yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad itu.
.
Pada kitab yang sama hadist nomor 9026, Ibnu Atsir juga menulis bahwa Nabi pernah tersinggung ketika mendengar putri beliau, Fathimah akan dipoligami Ali bin Abi Thalib. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar mengatakan : “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.”
Pertanyaan ibu; apakah kamu merasa lebih baik dari Ali bin Abi Thalib yang dijuluki Nabi sebagai bab al-ilmi (pintu ilmu pengetahuan) dalam hal keimanan maupun ilmu pengetahuan? Kalau Ali saja tidak mendapat ijin dari Nabi, apalagi kita.
.
Dulu ibu pernah belajar kitab tafsir dari kakekmu. Menurut kakekmu, Syekh Muhammad Abduh pernah mengatakan dalam Tafsir al-Manar bahwa poligami adalah penyimpangan dari relasi perkawinan yang wajar dan hanya dibenarkan secara syar’i dalam keadaan darurat sosial, seperti perang, dengan syarat tidak menimbulkan kerusakan dan kezaliman. Kakekmu juga menguatkan pendapat Syekh Muhammad Abduh dengan pendapat Imam al-Alusi dalam tafsirnya Ruh Al ma’ani, bahwa nikah bisa diharamkan ketika calon suami tahu dirinya tidak akan bisa memenuhi hak-hak istri, apalagi sampai menyakiti dan mencelakakannya.
.
Syukur, tanpa bermaksud mengajarimu tentang sejarah Nabi. Ibu ingin sedikit mengingatkan tentang alasan-alasan Nabi berpoligami, sebab ibu yakin kamu pasti akan mengatakan bahwa poligami merupakan bagian dari ittiba’ Nabi, mengikuti cara Nabi.
.
Rumah tangga Nabi bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid berlangsung selama 28 tahun. Dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi menikah lagi dan berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Ketika masih hidup di Makkah, Nabi memilih monogami padahal poligami di kalangan penduduk Makkah pada saat itu adalah kehormatan bagi laki-laki. Poligami yang dilakukan oleh Nabi pada kurun delapan tahun sisa hidupnya karena alasan sosial. Sepanjang hidup di Madina, ada puluhan perang kecil-besar yang banyak meninggalkan janda. Janda-janda tua itu yang dinikahi Nabi. Hanya Maria Alqitbiya, seorang perempuan kulit hitam sebagai rampasan perang yang dalam sejarah disebut masih gadis saat dinikahi dan dimerdekakan oleh Nabi.
.
Dalam catatan sejarah, poligami yang diterapkan Nabi merupakan cara untuk meningkatkan kedudukan perempuan dalam tradisi feodal Arab pada abad ketujuh masehi. Saat itu, nilai sosial seorang perempuan dan janda sedemikian rendah sehingga seorang laki-laki dapat beristri sebanyak mereka suka. Nabi ingin mengingatkan dan memberikan pelajaran, bahwa perempuan juga manusia yang derajatnya setara dengan laki-laki. Hanya ketaqwaan kepada Allah yang membedahkan derajat orang manusia.
.
Syukur anakku. Ibu berharap kamu bisa menjadi manusia yang pandai bersyukur seperti namamu. Cukupkan dengan satu istri yang sekarang, syukuri apa yang kamu miliki dan jangan ikuti kemauan nafsumu. Ibu hanya bisa berdo’a untuk kebaikan keluargamu anakku.

 

Wasaalamualaikum Wr.wb

Ibumu
Ummi Habibbah

 

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

11 Comments to "Poligami: Surat dari Ibu"

  1. Alvina VB  29 August, 2017 at 23:48

    Menambahkan komentar sblmnya, saya punya kenalan org Afrika yg org tuanya juga berpoligami, jadi adik2 dan kakak2nya yg belasan jumlahnya bukan dari satu ibu. Dia bilang itu sudah culture di sana, gak ada sangkut pautnya sama agama krn kel. dia atheist. Satu yg bisa saya liat dia orgnya labil/moody dan tidak bahagia. Ia tidak bisa percaya pria seutuhnya, makanya dia kawin cerai dan kayanya lebih bahagia dengan kesendiriannya.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *