Walk Around Putrajaya (1)

Putri Ariffani

 

Jadi, ceritanya ini adalah trip dadakan, dikarenakan ajakan dari my Bestfriend yang sedang dinas di KL, dia meminta saya untuk menemaninya di hotel, wahh… siapa yang bisa menolak kan? Hahahaha.. akhirnya pergilah saya untuk mengurus paspor, secara memang saya belum punya paspor. Setelah 5 hari jadilah paspor saya dan saya berangkat ke Malaysiasia tanggal 11 Februari kemarin, beruntungnya saya dapat tiket PP yang promo. Kebetulan my BF menginap di Hotel daerah Putrajaya.

Figure 1 selfie dulu di pinggir danau samping hotel

Ini adalah perjalanan pertama saya keluar negeri dan beberapa hal norak pun jelas terjadi, apalagi jika pergi sendirian tanpa teman hanya mengandalkan Tourism Map dan bertanya. Pokoknya saya jalan ke Malaysia modal nekat saja. Dimulai dari masih di Indonesia, yang seharusnya jam 12 siang saya sudah berangkat malah asyik bersihin rumah dan akhirnya harus ngebut, sesampainya di bandara harusnya langsung check-in dan antri imigrasi malah asyik turun ke lantai 1 lalu naek ke lantai 2 dan turun lagi cari makan di lantai 1, begitu lihat jam langsung ingat kalau antri imigrasi, dan buru-buru ke imigrasi ternyata antrinya panjang. untungnya tak terlalu lama antrinya. Selain itu saya yang sudah buat daftar perjalanan dan tempat mana saja yang harus saya kunjungi, akhirnya banyak yang dilewati. Lalu bodohnya saya saat baca peta tapi masih gak ngerti juga, ujung-nya bertanya tetap saja masih nyasar. Tapi tak apalah toh perjalanan ini tetap seru buat saya.

Ternyata daerah Putrajaya ini sepi sekali, lengang, tidak seramai di KL, tapi saya suka karena trotoar lebar dan banyak pepohonan.

Saya sendiri sudah memutuskan untuk berjalan kaki mengandalkan peta dan bertanya pada orang, meskipun ternyata di sepanjang jalan ini yang saya jumpai hanya petugas kebersihan yang rata-rata orang India yang saya sendiripun tak yakin apakah mereka bisa berbahasa Malaysia atau tidak.

Di dekat hotel ada beberapa taman dan saya mengunjungi Taman Seri Empangan, kebetulan saat itu hari Minggu tanggal 12, taman sedang ramai oleh keluarga yang bersantai dan berolahraga.

Figure 2 Jembatan Taman Sri Empangan, tapi tidak bisa dilewati

Figure 3 Jembatan Sri Gemilang

Figure 4 Pusat Convention Antarbangsa Putrajaya

Lanjut jalan kaki menuju kawasan perbadanan, di sana terdapat  masjid Tuanku Mizan Zainal, Istana kehakiman, serta bangunan cantik antara modern dan tradisional.

Figure 5 Istana Kehakiman diambil dari halaman masjid Besi

Figure 6 Masih Istana Kehakiman

 

bersambung…

 

 

9 Comments to "Walk Around Putrajaya (1)"

  1. Swan Liong Be  29 August, 2017 at 17:50

    Alvina, statementmu ada benar juga, memang harus agak lama tinggal disana, dalam hal ini aku gak ada kesempatan, tapi yang aku tau sebagaimana kamu juga , hanya dari percakapan² dengan orang dcins dissana sewaktu aku mengunjungi anakku yang pernah tinggal 2 tashun diKL. Memang mereka juga pernah complain bahwa ada isu disikriminasi disana tapi dipihak lain mereka juga gak mengerti mengapa keturunan cina “dianjurkan” ganti nama diIndonesia. Na ya , aku makin lama makin tua dijerman sini sebetulnya sudah gak gitu mikirin hal itu, karena merasa tentram dan nyaman tanpa merasa didiskriminasi, seperti kamu tentu juga diCanada.

  2. Alvina VB  29 August, 2017 at 04:39

    Oom SLB, musti tinggal di Malaysis dulu yg lamaan, baru dah ngerasain didiskriminasi itu kaya apa.
    Temen saya udah puluhan thn jadi wakil kepsek di sekolahan negri yg paling bagus di KL, dia mah dilewatin terus kl ada promosi kenaikan pangkat, gak yg tue, setengah tue, muda pokoknya dipromosiin jadi Kepsek (kl kepseknya retired/dipindahin ke sekolah yg lain). Ternyata yg menganjal dia naik jadi kepsek, cuman 2, dia Chinese dan Kristen. Anak2nya sama aja, gak diterima masuk ke sekolahan Universitas di Malaysia, padahal mereka punya nilai yg tertinggi di sekolahannya, dgn alasan yg sama, mereka bukan bumi putera, lah anaknya malah dpt scholarship di McGill Univ. di sini, satu dah jadi specialist tulang dan kerja di RS di US, ogah balik lagi ke negaranya.

  3. Lani  28 August, 2017 at 10:35

    SLB: setuju

  4. Swan Liong Be  27 August, 2017 at 17:53

    Satu contoh aja, diIndonesia orang mendirikan gubug tanpa izin dibiarkan aja,malah jadi korban pungli; nanti kalo sudah kebanyakan dirombak penghuninya jerat-jerit. Di malaysia orang mau bangun gubug liar langsung distop. Di Malaysia kan gak ada gubug liar seperti diIndonesia. Memang aku kira penegakan hukum disana jauh lebih konsekwen ketimbang diIndonesia. Sebetulnya menurut hukum kaum keturunan cina,india dsb. lebih “didiskriminasi” diMalaysia, dairpada indonesia, tapi dalam kenytaannya malah kebalikan.

  5. Linda Cheang  27 August, 2017 at 14:04

    aku mau koq, travelling lagi. mau juga menemani, tapi bisa, nggak, aku minta untuk nggak norak?
    hahaha

  6. Alvina VB  26 August, 2017 at 07:37

    Wah, baru nongol lagi nich penulis satu ini. Thank you for sharing….
    James, orgnya jauh lebih sedikit dari Indonesia dan yg bersih2 banyak armadanya, he….he…..

  7. Lani  26 August, 2017 at 04:13

    James: aku kira mmg benar dugaanmu krn negara jiran itu lebih teratur………mungkin krn Hukum benar2 ditegakkan dan masyarakatnya ora ngeyel spt sebagian orang di Jakarta/Indonesia

  8. Didik  25 August, 2017 at 12:56

    Empuuuuuuuttt…
    kapan kita traveling berduwa saja..
    kita keliling keliling eropah yaaa..

    hahahhaa…

  9. James  25 August, 2017 at 09:28

    mengapa Malaysia selalu terlihat lebih bersih dan teratur dibanding Indonesia yah ? apakah disiplin dan hukumnya lebih baik ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *