Anak Berprestasi atau Anak Berbudaya?

Didik Winarko

 

Tulisan ini sudah cukup lama dan inspirasinya nongol akibat pendengaranku menangkap obrolan gengnya -ibu-ibu kompleks yang lagi pada bahas rapotan anak masing-masing dan kebetulan ada yang “curhat” karena putranya yang gak pernah masuk 10 besar dan di-judge dengan segala serapah kecil sebagai anak yang tak membanggakan.

Memang yang namanya hari rapotan itu buat sebagian orang tua atau anak-anak (siswa) sendiri mungkin jadi hari deg-degan nasional. Bahkan mungkin ada yang sampai di level stress ringan saking terbawa suasana tegang dalam kekhawatiran yang cukup tinggi

Tapi sepertinya tidak buat kami – aku+anak mertua (istri) dan juga anak-anak. Tidak ada yang sangat istimewa. Semua serba seperti biasanya saja.

Entah benar atau salah caraku mendidik anak-anak dalam hal ini karena aku dan ibunya anak-anak jelas tak memiliki basic sebagai psikolog apalagi praktisi dunia pendidikan, tapi untuk urusan ini memang aku membiasakan diri untuk tak memasang target ranking, peringkat atau apapun itu.

So far anak-anak sepertinya nyaman dengan ini dan justru prestasi akademik mereka mengalir tanpa beban karena tak pernah ada tuntutan target dari kami.

Ranking itu cukup diperlukan iya! Tapi as for me itu hanya salah satu pencapaian saja dari apa yang dipelajari di lingkungan sekolah.

Akhlak, kebiasaan baik, perkembangan empati, cara pandang terhadap masalah di sekitar, pola pikir, dan hal positif semacamnya itu jauh lebih penting menurutku.

Dan saat anak-anak kemudian dapat peringkat karena nilai akademik mereka baik, ya anggap aja itu bonus tambahan saja lah.

Nah, saat anak-anak dapat peringkat atau prestasi akademik apakah kami merasa senang? Bangga? Ya iya lah..! Orang tua mana yang tak bangga punya anak-anak yang berprestasi.

Tapi sejujurnya kami jauh lebih bangga saat lihat hal-hal kecil sekecil si kakak yang saat buru-buru berangkat sekolah justru kembali pulang dan memilih terlambat hanya karena lupa pamit (salim dan cium tangan) –meskipun untuk beberapa keluarga modern, mungkin ini ada yang menganggap udah gak jaman, tapi kebetulan aku mendidik anak-anak bahwa prosesi “cium tangan” ini sesuatu yang penting untuk memupuk hubungan emosional-

Atau lihat si bungsu yang ribet nyari tempat sampah setelah selesai minum susu kemasan kesukaannya dan lebih memilih tas ibunya atau kantong celananya jadi tempat penampungan sementara.

Hal-hal kecil seperti ini menurutku justru sesuatu yang kadang membuat kami tersenyum lebih lebar jika dibandingkan prestasi akademis yang diperoleh pada rapot mereka.

Salam hangat buat ayah-ibu hebat di belakang anak-anak berprestasi…

 

 

About Didik Winarko

Asal Purworejo – Jawa Tengah, yang saat ini menetap di Tangerang, Banten. Cukup lama saya menjadi penikmat “pasif” di Balytra. Artikel-artikel dan tulisan-tulisannya membuat saya tak pernah bosan kembali dan kembali lagi ke sini. Belakangan saya coba "pensiun" jadi silent reader dan coba menulis.

Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

10 Comments to "Anak Berprestasi atau Anak Berbudaya?"

  1. Linda Cheang  31 August, 2017 at 14:47

    Yup. Lebih asyik punya anak yang tahu peraturan seperti antri daripada anak yang pintar akademis tapi perilakunya, waduh.

  2. Lani  30 August, 2017 at 01:20

    @Mbak Lani
    Hai mbak… Ngaturi sugeng..!
    Mbak kangen sama gebleg, lanthing sama oblok oblok khas Purworejo mboten?
    hahahaha..
    ++++++++++++++

    Lo nyasar nangken sampeyan? Wing pas mudik mangan Geblek, campur pecel dan dicocol dgn sambel pecel, bikinan dr warung adikku yg sdh terkenal sampai ke manca Negara, skrng kangen meneh sambel pecelnya msh ada sisa tp Gebleknya yg tdk ada………

    Oblok2 godong telo wuiiiiiiiiih amit2 dah wuenaaaak bangeti, dimakan dgn ikan teri goreng…….

    Mangan karo merem melek, setan lewat dicuekin kkkkkkkkk

    Lanthing yo jelas doyan banget, semuanya doyan hehehe nggragas banget yo????????

  3. Didik  29 August, 2017 at 17:59

    @Mbak Alvina
    Matur tengkiyu untuk opininya mbak..
    Setidaknya saya bahagia bahwa ada yang memiliki pemikiran yang sama dengan saya sehingga tidak selalu menekan putra-putri tercinta melulu untuk mendapatkan ranking tertinggi di sekolahnya dan mengabaikan nilai-nilai budaya yang seharusnya ada di barisan paling atas sebagai prioritas untuk merubah wajah negeri ini menjadi negeri yang berbudaya.
    Sering miris saat misalnya di jalanan menyaksikan anak putih abu-abu aka anak setingkat SLTA yang dengan muka tanpa dosa melemparkan sampah berbagai bentuk ke sembarang tempat dengan begitu saja, seolah hal ini sudah menjadi habbit dan menjadi hal yang sangat biasa.

    Jadi suka mikir, kalau untuk kebiasaan-kebiasaan kecil seperti ini tidak sejak kecil ditanamkan ke putra-putri kita, apalagi kita sendiri sebagai generasi sebelum mereka sudah menganggap bahwa ini bukan sesuatu yang penting, lantas kapan negeri ini akan memiliki masyarakat dengan standard budaya yang baik?
    Ya, untuk seorang saya mimpi itu mungkin terlalu tinggi, tapi setidaknya kalau bukan kita yang memulai terus siapa lagi yang akan memulai?

  4. Didik  29 August, 2017 at 17:59

    @Kangmas Sumonggo
    Yess..! itu yang setidaknya bisa saya terjemahkan dari apa yang saya perhatikan day to day-nya, bahwa di negeri ini yang namanya kompetisi dan tolok ukur keberhasilan sebuah proses pendidikan hanya dilihat dari seberapa tinggi pencapaian nilai akademis, including ranking juga termasuk part yang ada di situ.

    Sayangnya, pola pikir seperti ini sudah mendarah daging di sebagian besar para orang tua siswa itu sendiri.
    Kita sering lupa bahwa ada hal yang jauh lebih penting untuk diperhatikan sebagai tolok ukur keberhasilan instisusi pendidikan dalam mencetak generasi penerus bangsa ini selain prestasi akademis, yaitu mental yang baik.

    Terlepas dari beberapa instisusi pendidikan yang sudah menerapkan sistem tanpa ranking dan lebih menitikberatkan pola pendidikan di sisi moral atau kebiasaan baik, tapi tetap saja itu hanya minoritas dan secara umum belum bisa merubah paradigma yang sudah terlanjur menancap terlalu dalam di sebagian masyarakat kita.

  5. Didik  29 August, 2017 at 12:59

    @Mbak Lani
    Hai mbak… Ngaturi sugeng..!
    Mbak kangen sama gebleg, lanthing sama oblok oblok khas Purworejo mboten?

    hahahaha..

  6. Didik  29 August, 2017 at 12:57

    @ Om James
    Kenthirs-nya lagi pada kondangan di mantenannya mantan…

    * kesurupan Alma-nya mbak Dian

    Hahahahaha..

  7. Alvina VB  29 August, 2017 at 12:13

    Saya setuju dengan tulisan ini, berbudaya lebih ada bobotnya dari pada berprestasi ttp gak berbudaya, kl anak berbudaya dan berprestasi juga itu jauh lebih baik/bonus bagi kita sbg org tua.

    Lestarikan budaya luhur di tanah air, tentang budaya luar yg barbar dan tidak sejalan dengan budaya Indonesia yg jauh lebih luhur, setuju gak mbakyu Lani?

  8. Sumonggo  29 August, 2017 at 11:31

    Hidup bukan melulu soal menang atau kalah. Mungkin pendidikan kita saat ini terlalu sibuk mengajarkan anak suka berkompetisi tapi lupa bekerjasama. Dari perpolitikan, dunia kantoran, sampai orang jualan, penuh dengan jegal-jegalan.

  9. Lani  29 August, 2017 at 11:11

    Kentir Kona mencungul………apakabar James? Lagi sibuk ya, nampaknya tdk pernah mencungul

  10. James  29 August, 2017 at 10:07

    hadir menantikan para Kenthirs

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *