Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora

Editor: I Made Geria

Tahun Terbit: 2015

Penerbit: Gadjah Mada University Press

Tebal: xv + 142

ISBN: 978-602-386-032-6

 

Letusan Gunung Tambora di Sumbawa pada tahun 1815 telah menimbulkan bencana yang luar biasa. Bukan saja bencana di sekitar gunung atau di Pulau Sumbawa saja, tetapi bencana ini telah mengubah iklim pada tahun berikutnya di belahan barat bumi. Eropa dan Amerika Utara mengalami tahun tanpa musim semi (Baca: The Year without Summer karya William Klingaman dan Nicholas Klingaman yang ditulis pada tahun 2014). Hilangnya musim semi tersebut mengakibatkan gagal panen sehingga terjadi kelaparan dahsyat di dua bagian dunia tersebut. Namun sayang, letusan dan dampaknya tak terlalu dikenal di Indonesia. Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang lebih kecil lebih banyak dibicarakan orang di Indonesia (hal. 15).

I Made Geria menghadirkan buku ini untuk memberikan gambaran betapa dahsyatnya letusan gunung tersebut sehingga mengubur sebuah peradaban tinggi di kaki gunung. Singkapan-singkapan fakta arkeologis yang ditampilkan dalam buku ini membuka mata kita tentang peradaban seperti apa yang musnah karena letusan Tambora. Geria menyampaikan gagasannya tentang Tambora sebagai daerah ekowisata dalam bentuk geopark di dua bab terakhir bukunya (lihat Bab 6 dan Bab 7 hal. 95-135).

Di Bab 2, Geria memaparkan bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar Tambora dan lingkungannya. Geria menyimpulkan bahwa karena kondisi alam yang keras, masyarakat sekitar Gunung Tambora menjadi kelompok masyarakat yang kuat. Masyarakat Gunung Tambora tidak saja mengandalkan kehidupannya kepada alam, tetapi juga perniagaan dan industri. Bukti-bukti arkeologi yang ditemukan dari penelitian pasca letusan menunjukkan bahwa wilayah ini telah berhubungan niaga dengan berbagai negara melalui laut (hal. 33). Negara-negara lain tertarik untuk berniaga dengan Kerajaan Tambora untuk mendapatkan sejumlah barang yang dihasilkan kerajaan ini, sementara mereka membawa bahan pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat Tambora.

Di bab 3, Geria memaparkan bentuk kampung dan arsitektur rumah orang-orang Tambora. Ia juga menggambarkan bekas Kesultanan Tambora yang hancur karena letusan (hal. 36). Paparan Geria ini didukung dengan hasil penelitian pelacakan situs letusan dengan menggunakan metode Ground Penetrating Radar (GPR) yang dilakukan oleh Indyo Pratomo dan Mohammad Ervan di bab 4 (hal 59).

Di bab 5 dibahas tentang temuan barang-barang dan kerangka manusia yang masih memakai keris di punggungnya. Barang-barang seperti keramik Cina, cincin permata dan botol-botol minuman keras dari Eropa menunjukkan bagaimana kehidupan para bangsawan saat itu. Para bangsawan ini adalah orang-orang yang hidup sejahtera dan telah berhubungan dengan intens dengan pusat-pusat kebudayaan lain di belahan dunia yang berbeda.

Dengan keindahan Gunung Tambora pasca meletus, lerengnya yang dipenuhi dengan vegetasi yang eksotik dan kalderanya yang luar biasa besar, wilayah ini bisa dijadikan tujuan wisata. Tambora memiliki berbagai obyek seperti kebun kopi yang sudah ada sejak sebelum letusan, Pura Hindu, Pulau Satonda dengan danau kawahnya, Pantai Nangamiro. Belum lagi peninggalan peradaban yang terkubur yang pasti menarik para wisatawan. Tambora juga memiliki produk khusus kerajinan yang dulu pernah menjadi incaran para pelaut yang berdagang dengan Kesultanan Tambora sebelum kerajaan ini terkubur letusan. Namun menjadikan wilayah ini sebagai tujuan wisata yang tidak dirancang dengan baik justru akan menghancurkan situs yang indah ini. Geria mengusulkan untuk menjadikan kawasan ini sebagai site museum (hal. 105) dengan zona-zona yang jelas.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

8 Comments to "Menyingkap Misteri Terkuburnya Peradaban Tambora"

  1. Evi Irons  12 September, 2017 at 07:16

    Ya, di Amerika pernah diputar kisahnya tentang meletusnya gunung Tambora 2x di tv.

  2. Handoko Widagdo  3 September, 2017 at 11:31

    James, katanya sih kawahnya sangat menarik.

  3. Handoko Widagdo  3 September, 2017 at 11:30

    Lani, yang dipakai sebagai latar cerita itu Bukit Menoreh, Jogjakarta.

  4. Handoko Widagdo  3 September, 2017 at 11:26

    Avy, saya pernah ke kaki Gunung Tambora menonton balap kerbau.

  5. James  1 September, 2017 at 13:20

    Gunung Tambora belum pernah kesana hanya dengar dalam pelajaran Sejarah Nasional saja

  6. Lani  1 September, 2017 at 09:55

    Han: Klu tdk salah ada crita silat dgn latar belakang gunung Tambora tp aku klalen judule apa?

  7. Alvina VB  1 September, 2017 at 04:18

    Han, sebetulnya site G. Tambora bisa dijadikan Pompeiinya Indonesia.

  8. Alvina VB  1 September, 2017 at 04:15

    Bedah buku yg menarik. Apa Han dah pernah ke gunung Tambora?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *