Idul Adha Pagi Tadi

Dian Nugraheni

 

Mau shalat Iedul Adha, bersyukur karena si Eyang selalu punya stok baju baru. Selalu punya itu hitungannya banyak. Kalau cuma sepuluh biji, pasti ada dengan segala model aneka rupa, dari atasan, bawahan panjang, kaos, baju muslim, dan lain-lain. Dan bagusnya lagi, Eyang selalu punya ukuranku.

Jadi intinya, pagi ini aku bisa ikutan shalat Iedul Adha dengan pakaian yang “menyesuaikan” keadaan, dengan cukup manis, dan ga perlu ribet beli di toko.

Sampai di alun-alun, duduk menunggu jamaah memenuhi shaf-shaf yang telah ditata rapi. Mendengarkan laporan ketua penyelenggara shalat Iedul Adha dan penyembelihan kurban.

Lalu sambutan Bupati kepala daerah. Suaranya ga ada gregetnya, cuma kayak baca teks pidato yang udah dibikinkan oleh stafnya. Malah pidato semangat berkurban dan seterusnya ini dikait-kaitkan dengan menyanjung junjungan sealiran dalam politiknya. Nggak cuma satu kali, tapi berkali-kali, berpoint-point soal yang berkaitan dengan keagamaan, dibilang “ini sesuai dengan apa yang dicanangkan oleh beliau di tingkat nasional, bla..bla..bla..”

Aku bukan ga sepaham dengan pemerintah pusat atau apa, tapi aku hanya mengkritisi soal pidato Bupati, yang “njawil” kemana-mana, sedang kaum yang berjamaah di alun-alun untuk shalat Iedul Adha ini, aku yakin, ga semua satu paham dengan para beliaunya yang ada di kursi pemerintahan. Dan terutama, karena ini moment shalat Idul Adha, sangat mungkin pidato dibikin dengan tidak membumbuinya dengan masalah pemerintahan.

Lalu shalat Ied…bujubuneng surat yang dibaca setelah surat Al Fatihah begitu panjang, sehingga kemampuan dasarku sebagai pelamun yang telah mendarah daging, mengambil alih peran kesadaran yang sedang dipakai untuk mengerjakan shalat ied. Ya, jadilah ketika si imam shalat baca surat panjang, sepanjang itu pula lamunanku mengembara kemana-mana, dan terkaget ketika orang-orang serentak membungkukkan badan untuk rukuk pertama. Jeleknya lagi, aku sempat mengumpat, “sompret..!” ketika surat yang dibaca itu mulai berasa kepanjangan bagiku, karena entah kenapa mataku agak kunang-kunang dan pengen cepetan duduk.

Bersiap pulang, aku lipat koran bekas alas shalat sebelum ditumpangi sajadah, Eyang bilang, “wes ga sah dilipet, nanti ada yang ngambilin…”

Aku, “enggak ahh, if you make a mess, you have to clean up by yourself…”

Lalu aku dan Alma kemasi koran bekas kami.

Pulang shalat Ied, harus kilat masak buat sarapan ala rumah sakit buat Alma. Ehh, Maknya masak, dia sama sepupunya sudah lari ke komplek rumah bagian belakang, “Liat sembelih sapi…”

Aku, “Whaat..? Ngapain liat-liat…ngeri…”

Alma, “penasaran aja…”

Huft…

Semangat Iedul Adha, adalah teladan tentang keimanan, kepatuhan, dan seterusnya…, tapi kalau boleh, kalau aku punya duit pembeli hewan kurban, aku akan alihkan buat charity ke anak miskin yang ga bisa bayar sekolah aja deh…ga mau on purpose sembelih-sembelih. Sembelih-sembelih mah udah kerjaan rutin pejagalan hewan sana, kalau kita butuh sekerat dua kerat daging, tinggal beli…

GustiAllah, kula nyuwun gunging samodra pangaksami….aku tau, aku nggak naik kelas melewati ujian Iedul Adha kali ini…

 

 

4 Comments to "Idul Adha Pagi Tadi"

  1. James  6 September, 2017 at 05:45

    Ya dong ci Lani sy kan ketinggalan terus, ya ngintil aja

  2. Lani  6 September, 2017 at 05:00

    James: kamu ngintili aku doang

  3. James  5 September, 2017 at 11:53

    mengekor mbak Lani doang

  4. Lani  5 September, 2017 at 10:51

    Dian: aneh bin ajaib atau mmg begitulah sekarang sedang model dan yg terjadi pidato utk acara apapun sll dikaitkan dgn politik/kampanye? Ora nyambung apalagi dlm upcara keagamaan……..disangkut pautkan dgn politik………..ora nyambung blassssssss

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *