Memandirikan Anak

Wiwit Sri Arianti

 

Memandirikan anak-anak, mungkinkah itu?

Putriku cerita kalau ditawari pindah ke kantor pusatnya di Jakarta. Alhamdulillah…ini tawaran yang kesekian, ketika beftanya ke aku, gimana menurut ibu? Seperti biasa, aku tidak pernah memutuskan urusan anak-anak kami, sejak kecil mereka sudah belajar mengambil keputusan sendiri. Kami hanya memberikan beberapa pandangan jika memilih A resikonya ini dan jika memilih B resikonya ini, dan pilihan2 lainnya.

Sejak aku bekerja di beberapa organisasi untuk anak-anak dan belajar banyak tentang anak-anak, maka aku berusaha meyakini bahwa anak-anak juga bisa mengambil keputusan. Itu level partisipasi anak tertinggi ketika anak-anak bisa memutuskan sendiri dengan sadar dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya. Tugas orang tua dan orang dewasa di sekitarnya hanyalah memberikan pandangan dan memfasilitasi untuk memastikan keputusan yang diambilnya tepat sesuai kebutuhannya, bukan keinginannya. Beda ya hehe…

Apalagi putriku pernah belajar tentang analisa SWOT, jadi kusarankan agar dia mencoba menganalisanya dengan SWOT. Jika dia menerima tawaran pindah ke Jakarta, coba dianalisa kekuatannya apa, kekuranganya apa, peluang yang ada apa dan ancaman yang akan menghalangi apa? Hasilnya apa nanti kita diskusikan lagi.

Sejak awal pernikahan kami sepakat untuk mempersiapkan anak-anak bisa mandiri karena area kerja kami adalah Nusantara, suatu saat aku tinggal di Jakarta, suami di Papua, Putri kami di Surabaya dan jagoan kami di Malang. Bisa dibayangkan gimana ribetnya jika anak-anak tidak mandiri.

Waktu anak-anak masih SD dan SMP, aku tinggal di Makassar, mereka tinggal dengan bapaknya di Sidoarjo tapi juga tidak selalu di rumah. Maka sejak itu, kami sepakat uang saku anak-anak ditransfer setiap bulan melalui rekening pendidikan atas nama masing2 cq namaku. Pada awalnya sih ragu juga kira2 bisa gak ya, tapi harus kami coba apapun hasilnya. Alhamdulillah mereka bisa. Dari keputusan ini anak-anak belajar tentang menejemen keuangan supaya cukup untuk satu bulan, mereka juga belajar bertanggung jawab dan yang keren mereka juga belajar tentang disiplin. Yang surprise buat kami, ternyata mereka mencatat semua pengeluaran. Jika harus bayar iuran di sekolah atau beli peralatan sekolah, mereka akan memberikan catatannya ke aku dan bulan depan aku harus transfer uang sakunya ditambah pengeluaran yang bukan jajan. Subhanallah… Jadi mereka reimburse hahaha…

Ketika teman2nya sudah pada punya HP, anak-anak bilang ke kami pingin punya HP juga supaya u mempernudah komunikasi. Menurut kami bener juga karena waktu aku di Makassar tahun 2003 pernah tagihan telepon rumah mencapainya 1,2 juta, gila ya kayak kantor aja. Tapi yang gimana lagi itu resiko yang harus kami bayar yang penting anak-anak tetap bisa berkomunikasi dengan kami. Namun kami tidak langsung OK aja, kami bilang: “Ok, ibu akan belikan HP dan no perdana tapi untuk isi pulsa setiap bulan pakai uang sakumu yang ada sekarang”. Waktu itu mereka sempet kaget dan minta waktu untuk berpikir. Setelah hampir 2 minggu mereka kasih tahu kami kalau mereka OK beli pulsa sendiri. Akhirnya dengan ini kami dapat surprise lagi bahwa anak-anak belajar komitmen karena ketika disms gak pernah menjawab, kami jadi tahu kalau mereka habis pulsa dan mungkin habis uang saku juga tapi gak berani minta karena sudah sepakat beli pulsa sendiri hehe…

Kami sangat bersyukur ketika jagoan kami lulus dari Universitas Brawijaya dengan IP di atas 3, aku bilang ke suami bahwa: “Alhamdulillah kita bisa membuktikan bahwa kualitas komunikasi pada anak-anak lebih penting dari kuantitas komunikasi”. Selama ini kegagalan anak-anak ditimpakan pada orang tua yang sibuk terutama pada ibunya. Sekarang, alhamdulillah anak-anak sudah lulus kuliah semua dari Universitas Negeri dengan IP yang tidak mengecewakan meskipun aku sebagai Ibunya tidak selalu ada di sampingnya. Sementara itu, banyak anak-anak yang selalu bersama orang tuanya tapi tidak sukses sekolah maupun perilakunya.

Pengalamanku, meskipun jauh aku berusaha “hadir” untuk anak-anak meskipun tidak secara fisik, sehari aku bisa telpon anak-anak beberapa kali. Pagi bangun tidur aku pasti telpon menyapa anak-anak untuk memastikan mereka sudah bangun, sudah subuhan, dan siap2 ke sekolah. Siang aku akan telpon untuk memastikan mereka sudah pulang sekolah dan makan. Sore aku telpon untuk memastikan mereka tidak lupa pergi mengaji dan malamnya akan telpon lagi untuk memastikan mereka sudah di rumah, tidak lupa belajar dan menyiapkan peralatan sekolah untuk besuk paginya. Terlalu ya, nggak ah hehe…

Waduh, kok jadi panjang nih critanya. Gpp ya, sharing pengalaman nih, Alhamdulillah.. saat ini aku sudah merdeka dari membiayai sekolah dan sedang menunggu hasil analisa SWOT apakah putriku memutuskan untuk pindah ke Jakarta apa tetap di Surabaya.

Trimakasih untuk Babe Warno Hadi sudah jadi partner yang keren dalam mendidik anak-anak,

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

6 Comments to "Memandirikan Anak"

  1. Wiwit  11 September, 2017 at 09:32

    Aamiin…makasih mbak Vina, sepertinya sih begitu mbak, tapi belum secara eksplisit dia sampaikan.

  2. Wiwit  11 September, 2017 at 09:30

    Betul Pak James, anak2 kalau sudah dibiasakan sejak kecil, jadi lebih mudah ngarahinnya or mudah diajak bicara.

  3. Wiwit  11 September, 2017 at 09:28

    Trimakasih mbak Tami…emang FC apaan sih mbak? hehe…

  4. Alvina VB  8 September, 2017 at 00:11

    Wow, congrats mbak Wiwik yg telah memandirikan anak2nya dengan sukses. Kl menurut pengalaman temen2 saya yg org Surabaya yg duluuuu pindah ke Jakarta, mereka kebanyakan lebih suka di Surabaya krn Jakarta katanya lebih ribet/ruwet, sosialitas dan keamanan tergantung pribadi masing2 dah. Semoga putrinya memilih yg terbaik.

  5. James  7 September, 2017 at 17:36

    seharusnyalah Memandirikan Anak sejak masih kecil seperti di kebanyakan LN

  6. Ag. sarwi Utami  7 September, 2017 at 13:44

    Bukan karena aku kenal kalo aku memang SALUTdengan apa yg sdh aku nikmati /baca. Smg makin banyak keluarga yg berprinsip seperti ini meskiiiii tidak akan persissss sama . . . .emang FC. . . . .

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *