Sengketa Tiada Putus

Handoko Widagdo – Solo

 

Judul: Sengketa Tiada Putus

Judul Asli: Muslim and Matriarchs – Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism

Penulis: Jeffrey Hadler

Penterjemah: Samsudin Berlian

Tahun Terbit: 2011

Penerbit: Freedom Institute

Tebal: xli + 372

ISBN: 978-979-19466-5-0

 

Banyak suku yang dulu berbudaya matriarkat. Namun dengan datangnya Islam dan Barat budaya matriarkat ini kemudian surut dan tergantikan dengan budaya patrilineal. Hanya Minagkaulah satu-satunya suku bangsa yang masih bertahan dengan sistem matriarkat. Mengapa budaya matriarkat di Minangkabau bisa bertahan? Padahal budaya ini mendapat serangan yang hebat oleh Islam reformis dan peradaban barat? Apa pula hubungan antara perjumpaan budaya matriliarkat, Islam reformis dan pendidikan barat di Minangkabu dengan munculnya tokoh-tokoh pergerakan dari Sumatra Barat? Jeffrie Hadler membahas dan menarik kesimpulan yang sangat menarik dalam buku ini. Sengketa nan tiada putus dari ketiga sistem budaya inilah yang membuat Negeri Minang menghasilkan tokoh-tokoh pergerakan. Tokoh-tokoh yang bukan hanya laki-laki, tetapi juga para perempuan.

 

Adat dan Islam Reformis

Selaras dengan munculnya aliran Wahabi di tanah Arab pada akhir abad 18, gerakan pemurnian menyebar di banyak bagian bumi. Gerakan pemurnian Islam ini pun muncul di Tanah Minang. Sistem pewarisan yang tidak sesuai dengan hukum Islam dan kebobrokan kehidupan masyarakat yang tidak sesuai dengan standar Islam (Quran dan Hadist shahih) telah membuat gerakan pemurnian Islam merebak di Tanah Minang. Kehidupan masyarakat adat saat itu dinilai banyak kemaksiatan.

Perjumpaan Islam reformis dengan adat matriliarkat di Minang disikapi dalam tiga cara. Pertama adalah meninggalkan tanah Minang dan memutuskan hubungan dengan adat. Tindakan seperti ini diantaranya dilakukan oleh Akhmad Khatib al Minangkabawi. Akhmad Khatib al Minangkabawi mengutuk praktik hukum waris matrilineal di Minangkabau dan meninggalkan Tanah Minang untuk bermukim di Arab (hal. 35). Sikap kedua adalah sikap toleran terhadap adat dan lebih fokus untuk memerangi maksiat secara damai melalui khotbah-khotbah seperti yang dilakukan oleh Tuanku nan Tuo.

Sikap ketiga adalah melakukan pemurnian dengan kekerasan seperti yang dilakukan oleh kelompok Haji Miskin dan Tuanku Imam Bonjol. Kelompok yang bekerja sama dengan para pengikut Tuanku nan Tuo ini berupaya untuk menyembuhkan kemunduran dan kebobrokan moral orang sebangsa mereka—orang Muslim asal-asalan yang berpuas diri memakai bayangan mesjid untuk adu ayam, judi, dan mengisap Opium (hal. 77). Para Padri memilih untuk membangun perkampungan sendiri, dimana setiap rumah hanya diisi keluarga inti. Mereka berpakaian sederhana, lelakinya bekerja keras dan perempuannya hampir tidak pernah keluar rumah, tetapi bekerja keras di dalam rumah seperti perempuan tradisional pada umumnya (hal. 78). Namun tindakan mereka lebih lanjut adalah melakukan pembunuhan kepada para bangsawan Pagarruyung yang dianggap melindungi adat.

 

Masuknya Belanda dan Kebudayaan Barat

Pertikaian antara Islam reformis dengan adat matriarkal ini mengundang Belanda untuk ikut campur. Dalam banyak narasi sejarah, pihak Padri dikalahkan oleh pihak adat yang disokong Belanda. Namun kesaksian Imam Bondjol sendiri, dalam memoarnya mengatakan bahwa gerakan pemurnian agama ala Wahabi telah dihentikannya sejak keponakannya dan Tuanku Tambusai pulang dari berhaji ke Mekah dan mengatakan bahwa ajaran Wahabi sudah ditinggalkan di Arab Saudi. Tuanku Imam Bondjol segera saja mengadakan rapat besar dengan mengundang kaum adat. Mereka, kaum Padri dan kaum Adat memproklamirkan “Adat bersadi syarak, syarak bersadi adat” yang segera diterima secara luas oleh masyarakat Minangkabau (hal. 46). Perdamaian kelompok reformis Islam dengan kelompok adat ini diikuti dengan penyerahan benteng Bonjol kepada Belanda. Namun kekurang-ajaran tentara Belanda dan Jawa di Benteng Bonjol menimbulkan kemarahan orang Minagkabau. Maka perang berkecamuk lagi. Belanda akhirnya bisa memenangkan perang pada tahun 1837.

Masuknya Belanda dalam pertikaian ini membawa budaya barat, penindasan melalui pajak dan tanam paksa serta sistem pendidikannya ke Tanah Minang. Setelah Belanda menguasai Minangkabau, maka sistem tanam paksa diberlakukan. Belanda mengangkat tokoh adat baru yang diberi gelar Tuanku Laras. Tuanku Laras adalah kepala rumah gadang yang bertanggung jawab untuk mensukseskan panen kopi. Rumah Gadang menjadi semakin penting artinya, karena rumah gadang menjadi simbol kekuasaan baru, yaitu tempat administrator sistem birokari Belanda tinggal. Bentuk Rumah Gadang menjadi semakin terkenal karena banyak orang Eropa yang berkunjung selalu mendapatkan tour ke rumah gadang dengan kegiatan pemotretan yang sering.

Pada awalnya Tuanku Laras diambil dari mereka yang mempunyai hak secara matrilineal untuk menjadi kepala rumah gadang. Namun dalam perjalanan selanjutnya, pengangkatan Tuanku Laras tidak lagi patuh kepada aturan matrilineal sehingga mendapat protes dari banyak pihak. Selain dari pemilihan Tuanku Laras yang semena-mena oleh Belanda, para Tuanku Laras ini adalah orang-orang penjilat dan korup. Sifat korupnya telah menimbulkan pemberontakan anti pajak berbasis tarekat pada tahun 1908 (hal. 92).

Intervensi Belanda tidak selesai dengan menggunakan rumah gadang sebagai pusat administrasi pemerintahan dengan dipimpin oleh seorang lelaki bernama Tuan Laras. Dengan alasan masalah kesehatan, moral dan keamanan, intervensi Belanda juga masuk ke dalam interior rumah yang berarti menyentuh tubuh penghuni rumah gadang. Intervensi kekuasaan Belanda berakibat pada pelemahan sistem matriarkal di Sumatra Barat adalah aturan tentang pembuatan dapun di luar rumah gadang. Seperti diketahui bahwa setiap keluarga inti di rumah gadang memiliki dapur sendiri-sendiri. Untuk mencegah kebakaran, Belanda melarang rumah gadang memiliki dapur di dalam. Akibatnya para keluarga ini memilih untuk membangun pondok yang bentuknya mirip rumah gadang di samping rumah utama tersebut. Berpisahnya keluarga inti ini menyebabkan sistem matriarkal di rumah gadang berubah.

Intervensi kedua adalah program pemberantasan penyakit cacar. Program yang menggunakan para lelaki sebagai mantri cacar telah membuat para lelaki merasa dirinya menjadi pelopor kemajuan. Belanda menggunakan berbagai pendekatan, termasuk silsilah agung para mantri cacar supaya suaranya didengar. Tapi silsilah adat yang agung, dukungan pemerintah, dan janji-janji kesehatan tidak selalu menjamin penerimaan menteri cacar oleh rakyat (hal. 117).

Hal ketiga yang perlu dicatat adalah penerapan sistem legal kolonial Belanda saat masa Tanam Paksa. Peraturan-peraturan yang dikeluarkan Belanda telah memasuki wilayah kamar-kamar perempuan Minang. Belanda mengeluarkan aturan larangan aborsi dan hukuman terhadap perempuan yang melakukan persetubuhan dengan lelaki yang bukan suaminya.

Hadirnya Belanda di Tanah Minang membawa sistem pendidikan baru. Sekolah-sekolah model barat mulai hadir di Tanah Minang. Bahkan sekolah-sekolah yang berbasis Islam pun memakai sistem pengajaran ala barat. Pendidikan ala barat ini membawa nilai-nilai baru ke masyarakat Minang.

 

Sengketa nan membawa berkah

Perjumpaan tiga sistem kebudayaan ini menimbulkan sengketa nan tiada ujung. Baik Islam reformis maupun negara kolonial lebih menyukai patriarki tapi keduanya saling bercuriga satu sama lain. Matriarkat mencari jalan di antara kedua kekuatan ideologis ini (hal. 145). Sikap pragmatis dan kemampuan bermusyawarah, budaya matriarkal bisa bertahan berdampingan dengan Islam dan nilai-nilai barat. Sistem pewarisan matriarkal setidaknya masih bertahan. Demikian pun dalam identifikasi diri orang-orang Minang masih menggunakan sistem matrilineal.

Sengketa tiga sistem budaya ini juga berdampak pada generasi yang hidup di masanya. Anak-anak perempuan dan laki-laki mendengar tentang matriarkat di rumah, belajar tentang Islam di surau, dan menerima pendidikan Eropa di sekolah-sekolah “pribumi” yang didirikan Belanda. Seorang anak, terutama anak laki-laki hidup dalam tiga sistem budaya. Semasa kecil, sebelum akhil balik, anak-anak ini dididik di rumah gadang dengan aturan-aturan metriarkal. Setelah akhil balik anak-anak lelaki tinggal di surau dan mendapatkan pendidikan agama Islam. Sementara mereka juga pergi ke sekolah yang mengajarkan pendidikan model barat. Jika sudah cukup umur, mereka akan merantau mencari pengalaman atau berdagang di luar Minang. Sistem ini membuat anak-anak, terutama anak lelaki Minang mengalami perenungan terhadap hal-hal yang paling penting dalam nilai-nilai hidup. Pengalaman semacam inilah yang kemudian menciptakan generasi yang kritis dan menjadi tokoh-tokoh pergerakan.

Hadler menyimpulkan bahwa generasi dari masa ini secara politis bermacam ragam dan dinamik karena tumbuh dewasa dalam suatu dunia di mana setiap kebenaran suci dipertanyakan. Bahkan di kampung pun, gagasan akan rumah, keluarga, wewenang orangtua, dan pendidikan ditantang oleh reformis-reformis Islam dan negara kolonial. Lebih daripada di mana pun di Indonesia, di Sumatra Barat tidak ada apa pun yang bisa diterima bersih begitu saja-pun tidak gagasan-gagasan akan keluarga, rumah, kampung, agama, atau bahasa (hal. 15).

Hadirnya pendidikan barat, penggunaan metode pedagogi baru di madrasah yang saling bersaing, kebudayaan merantau sehingga menyerap gagasan baru adalah faktor-faktor yang membuat generasi hebat Minangkabau di era pergerakan dan awal kemerdekaan. Saat pertentangan antara adat, Islam dan kolonialisme terjadi dan orang Minangkabau kehilangan keseimbangan akan kebenaran telah membuat mereka mencari hal baru untuk mewujudkan kemungkinan-kemungkinan tersebut (hal. 15). Kondisi tersebut menyebabkan Minangkabau pada abad 19 menghasilkan generasi yang bisa menjadi pemimpin bangsa Indonesia. Seperti halnya Agus Salim dan Muhamad Radjab, Muhammad Natsir, yang kemudian menjadi perdana menteri dan pemimpin politik Islam, mengalami pedagogi kontradiktoris (hal. 185). Tanah Minang juga menghasilkan tokoh-tokoh perempuan seperti Rohani Kudus.

Kesimpulan Hadler ini lebih dalam daripada apa yang dikatakan oleh Taufiq Abdullah. Taufiq Abdulah berargumen bahwa tradisi merantau para lelaki Minang yang menyebabkan orang Minang terbuka untuk gagasan-gagasan dari luar. Ternyata bukan hanya karena budaya merantau saja yang menimbulkan sikap kritis orang Minang, tetapi sengekta tiga sistem budaya nan tiada ujunglah yang menjadi pemicunya.

 

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

5 Comments to "Sengketa Tiada Putus"

  1. Alvina VB  12 September, 2017 at 01:33

    Understand Han, memang betul banget utk penduduk lokal aja, terutama yg fanatik abis ttp bukan utk para pemikir yg kritis dan para pendatang waktu itu. Makanya jadul banyak org Sumatra Barat yg sangat kritis pada keluar immigran dari kampong nya krn pemikirannya berbenturan dgn pemuka agama di sana. Gak tahu kl sekarang sudah ada perubahan ya? Ttp kl angin budaya arab berhembus lagi di sana, apa gak balik kaya dulu lagi?

  2. Handoko Widagdo  11 September, 2017 at 20:17

    Avy, Sumatra Barat justru tempat yang masih bertahan dengan Islam yang rahmatan lil alamin.

  3. Handoko Widagdo  11 September, 2017 at 20:16

    Mas Sumonggo, sepertinya sekarang ini sudah sampai kepada keseimbangan yang matang. Tapi tentu saja keseimbangan ini akan terus berubah sesuai dengan angin budaya global. Bukankah tidak ada budaya yang tetap?

  4. Alvina VB  7 September, 2017 at 23:59

    Han, thn 80an saya dan kel. mengunjungi tanah Minang utk pertama kalinya dan betulan spt cerita buku ini, benturan antara agama dan adat istiadat masih ada pada thn 80an, masuk ke pedalaman kampung pun musti sama org lokal yg tahu adat istiadat setempat, krn kl gak abis dikatain anak2 kampong pas kita lewat. Enggak tahu saat ini sudah berubah/gak. Kita masuk ke goa Jepang sama org lokal dan lanjut ke Ngarai Sihanok yg indah dgn jalan yg berkelok-kelok. Kl gak salah inget, dari Padang, kita ke Solok lewatin danau Singkarak, Padangpanjang, Bukittinggi yg ada jam Gadangnya di sana trus naik ke daerah garis equator (lupa namanya), baliknya ke Payakumbuh, Sawahlunto lewat Solok lagi kemudian balik ke kota Padang, mengunjungi Teluk Bayur. Yg pasti selama perjlnan, pemandangannya yg indah dengan gunung dan sawah dimana-mana serta kulinernya yg makyussss, keamananan waktu itu masih so-so, di beberapa tempat masih fanatik bangets. Gak tahu saat ini dengan kebudayaan arab yg gencar masuk lagi ke tanah air, apakah daerah ini bertambah fanatik? Han pasti udah ke sana, gimana saat ini?

  5. Sumonggo  7 September, 2017 at 17:27

    Mungkin suatu saat segala “benturan” tersebut akan mencapai titik keseimbangan. Bukan soal menang dan kalah.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *