Himbauan Buat Para Jomblo

Wesiati Setyaningsih

 

Hari Minggu berarti malam Minggu yang dianggap masa mengerikan bagi para jomblo sudah lewat.

Padahal apa salahnya jadi jomblo dan tetap bahagia? Saya malah prihatin liat jomblo yang mellow lantas bikin status menye-menye seolah jadi jomblo lebih mengerikan daripada berada di daerah konflik dan kekeringan.

Kenapa saya prihatin? Karena jomblo yang nelangsa akan mencari pasangan hanya untuk mengisi jiwanya yang setengah kosong. Maka ketika dia akhirnya ‘laku’ dia akan bilang, “kamu melengkapi hidupku.” Lah kalo pasangannya ini memutuskan hubungan atau meninggal, dia nggak lengkap lagi dong?

Seseoramg harus sudah ‘lengkap’ ketika dia memutuskan menikah. Bukan menikah untuk mengisi kekosongan. Kalo itu yang terjadi, maka pasangan akan terus menerus jadi pengisi kekosongannya. Itu melelahkan.

Akhirnya ketika pasangan mulai membosankan, dia jadikan anaknya pengisi kekosongan jiwanya. Iya, kalo bayi masih manut dan lucu, anak bisa menjadi pengisi kekosongan. Karena bayi sangat tergantung pada orang lain dan manut aja diapa-apain. Kalau sudah besar dan bisa apa-apa sendiri, juga punya mau sendiri, mulailah terjadi konflik.

Itulah kenapa ada emak-emak yang demanding sama anak, suka mengatur anak sesuai keinginan dia, nggak mau dibantah, sangat protektif, pokok mirip-mirip raja yang lalim. kenapa? Karena jiwanya setengah kosong. Jadi dia jadikan semua orang di sekitarnya pengisinya.

Jadi, sebelum menikah, jadilah jomblo yang bahagia dulu. Menikmati kejombloan dengan sepenuh hati, baru nikah (kaya Imam Purwodadi). Lengkapi dulu dirimu dengan cinta sampai penuh, baru cintai orang lain. Lakukan self love, baru love others. Kasian kalo kamu jadikan orang lain pengisi jiwamu. Kamu kan juga bukan galon isi ulang.

(dedicated to Ping Setiadi Yap yang selalu bangga jadi jomblo)

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "Himbauan Buat Para Jomblo"

  1. Alvina VB  13 September, 2017 at 23:16

    Se-7 sama mbakyu Lani dan James. Saya mah jomblo duluuuu super duper sibuk dan gak pernah mikirin/gak berasa kl gak punya pasangan, begitu dpt pasangan kok gak banyak bedanya waktu jumblo duluuuu, masukin suami dlm to do list aja, wkkkk…..Jonblo/gak jomblo nikmatin hidup to the fullest aja.

  2. James  13 September, 2017 at 10:45

    betol sukali mbak Lani, satuju banget deh, menikah jangan dipaksakan karena jomblo pun tetap dapat bahagia lho

  3. Lani  12 September, 2017 at 12:34

    Wesi: Hidup itu pilihan mau jomblo, mau menikah, atau mau kumpul kebo saja……..

    Jadi klu sdh memilih dan msh merasa kecewa yo salahe dewe…..lagian kenapa klu jomblo jadi melow……..sedih kesepian………….njur nabrak2 asal comot malah bikin sengsara diri sendiri…………

    Memang manusia kadang aneh…….betul James?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *