Kembali Berkunjung ke Timor Leste

Handoko Widagdo – Solo

 

Dili, 18-21 Juli 2017

 

Setelah empat tahun, akhirnya aku berkesempatan kembali ke Timor Leste. Kunjunganku terakhir ke Dili adalah tahun 2013 lalu. Saat itu Bandara Komoro – sekarang bernama Bandara Presidente Nicolau Lobato (PNL), masih dijaga oleh tentara PBB yang ditugasi untuk menjaga keamanan Timor Leste. Kini, tak terlihat lagi para tentara berwajah India dan bule. Polisi-polisi lokal telah menggantikannya. Bandara PNL tak lagi dipenuhi oleh pesawat-pesawat dan heli-heli dengan logo UN. Hanya tersisa beberapa heli yang bernaung di bawah gedung di sisi dalam bandara.

 

Kota Dili

Jalan-jalan Kota Dili sudah tampil lebih rapih dan beraspal mulus. Jalan-jalan kampung pun telah beraspal mengalir di antara pagar-pagar tembok bercat putih. Tak lagi ada sampah berserakan seperti empat tahun lalu. Mobil-mobil 4WD dan taksi-taksi kuning berseliweran di jalan-jalan Dili yang cerah.

Jika empat tahun lalu hotel-hotel dan restoran banyak dikelola oleh orang-orang dari Philippina, kini mereka entah kemana. Hotel-hotel, restoran dan supermarket kini dikuasai oleh orang China. Immigran China yang rata-rata masih muda membuka hotel yang disatukan dengan tempat hiburan dan supermarket. Konon cerita yang saya dapat dari sopir taksi yang kami pakai, orang-orang Philippina sudah pulang ke negaranya karena bangkrut. “Mereka suka berjudi,” kata sopir yang membawa kami menyusuri tepi pantai Dili. Kini orang-orang China menggantikan mereka. Para immigrant ini membawa kerangka bangunan dari China sekaligus dengan para buruhnya. Dalam waktu sangat cepat mereka membangun hotel, restoran dan supermarket, sehingga usaha mereka bisa segera beroperasi. Hanya restoran-restoran di tepi pantai yang masih dikuasai oleh para pengusaha bule.

“Kini hanya tinggal supermie yang masih berasal dari Indonesia. Barang-barang dari Indonesia sangat mahal dan macamnya terbatas. Berbeda dengan barang China. Murah dan pilihannya banyak,” sambung sopir taksi yang membawa kami. Betul saja. Saat sarapan pagi, saya menemukan bahwa telur yang disajikan adalah telur dari China. Daging ayam juga diimpor dari China. Sebuah perubahan bisnis yang sangat radikal.

 

Maliana

Saya berkesempatan untuk mengunjungi Maliana. Terakhir saya ke Maliana adalah enam bulan setelah referendum. Saat itu jalanan rusak dan hampir semua bangunan habis terbakar. Namun kini jalanan telah mulus sampai ke Maliana. Bangunan-bangunan baru telah berdiri. Bahkan toko-toko kelontong berjajar di sepanjang jalan ibukota Maliana.

Kunjunganku ke Maliana kali ini adalah dalam rangka melihat pelatihan pertanian yang kami selenggarakan. Minat masyarakat untuk bertanam sayur untuk dijual ke restoran-restoran di Dili sangatlah tinggi. Itulah sebabnya pelatihan teknik yang baik dalam bertanam sayur sangat diminati oleh banyak petani.

Dalam kunjungan ini saya menemukan banyak bangkai alat-alat pertanian yang pernah diperkenalkan oleh berbagai proyek. Seakan tidak belajar dari pengalaman Indonesia di tahun 70-an, proyek-proyek pertanian yang membawa teknologi dan alat-alat asing membanjir juga di Timor Leste di era awal kemerdekaan. Akhirnya alat-alat tersebut menjadi mangkrak segera setelah proyek berakhir. Tabung-tabung stenlis untuk menyimpan biji-bijian malah dimanfaatkan oleh penduduk setempat sebagai bak penampung air.

 

Museum Balibo dan Tugu Integrasi

Dalam perjalanan pulang dari Maliana kami mampir ke Benteng Balibo. Benteng Balibo adalah benteng yang dibangun oleh Portugis pada tahun 1755 masih megah berdiri. Di dalam benteng kini didirikan hotel yang dihiasi oleh foto-foto benteng jaman dulu. Satu Meriam menghadap laut masih utuh menghiasi dinding benteng.

Tepat di luar benteng ada Museum Balibo. Musium ini didirikan untuk mengenang wartawan Australia yang tewas ditembak milisi pro kemerdekaan. Rumah dimana para wartawan tersebut dieksekusi dibiarkan seperti saat peristiwa tersebut terjadi. Dinding yang bolong-bolong ditembus peluru menjadi saksi keganasan milisi.

Di tengah perempatan Tugu Integrasi masih tegak berdiri. Patung pemuda yang gagah perkasa dengan memegang bendera merah putih (yang kini lusuh) masih ada di sana. “Tugu ini kami pertahankan karena ini adalah bagian dari sejarah Timor Leste,” demikian penjelasan seorang yang kami temui di Balibo.

 

Patung Yesus

Empat kali mengunjungi Timor Leste (sebenarnya kunjungan saya yang pertama masih Timor Timur), saya baru kali ini berkesempatan mengunjungi Patung Yesus. Patung yang dibuat oleh Nyoman Nuarta pada era Suharto ini masih berdiri megah. Mendaki sampai di kaki patung tidaklah terlalu berat. Sebab jalur pendakian dibuat dua tahap. Sehingga ada tempat datar yang cukup luas untuk beristirahat. Bagi penganut Katholik, di tempat istirahat ini bisa melakukan persembahyangan di tempat doa kecil yang tersedia.

Patung Yesus berdiri megah di sebuah bukit. Patung menghadap ke pelabuhan sehingga tangan Yesus yang membentang seakan menyampaikan selamat datang kepada kapal-kapal yang menuju ke pelabuhan. Saat sunset, Patung Yesus menjadi sebuah siluet yang sangat indah. Patung menjadi berwarna hitam dengan sinar keemasan dari arah belakangnya. Indah.

Saya bertemu dengan mantan orang PU yang dulu bertanggung jawab dalam pembangunan Patung Yesus. Beliau menyampaikan bahwa patung dibuat di Bandung dan dikapalkan ke Dili. Dari pelabuhan patung diangkut dengan heli dan langsung dipasang di fondasi yang sudah dikerjakan sejak 6 bulan sebelumnya. Beliau agak kecewa dengan pengelolaan situs Patung Yesus. Sebab pemerintah sama sekali tidak peduli dengan ikon Kota Dili, bahkan ikon Timor Leste ini. “Saya mengerahkan anak buah saya untuk membersihkan lokasi ini setiap minggu,” jelasnya. “Seharusnya masuk ke lokasi ini harus membayar, supaya ada dana untuk merawat peninggalan sejarah yang penting ini,” demikian beliau berucap.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

9 Comments to "Kembali Berkunjung ke Timor Leste"

  1. Linda Cheang  19 September, 2017 at 17:09

    sayang aja beberapa “peninggalan” dari RI nggak terawat…

  2. James  19 September, 2017 at 05:08

    Sayangnya kematian 5 wartawan Ozi tidak pernah diungkap oleh Pemerintah Indonesia, itulah reputasi buruk Indonesia dimata Internasional srcara permanen

  3. Handoko Widagdo  17 September, 2017 at 19:49

    Om ODB, tidak lagi. Saya menginap di hotel milik orang China di kota. Turismo masih ada dan tetap seperti sedia kala.

  4. ODB  17 September, 2017 at 17:32

    Mas Han, apa masih menginap dihotel Turismo?

  5. Lani  15 September, 2017 at 10:54

    Hand: Wadoh dimana-mana cina merebut pasaran……..semua makanan jg diimpor dr cina…

    Patung Jesus ini spt mencontoh yg di Brazil ya……….

  6. Handoko Widagdo  14 September, 2017 at 20:45

    Timor Leste memang indah James.

  7. Handoko Widagdo  14 September, 2017 at 20:44

    Mari-mari kuta rebut kembali pasarnya.

  8. James  14 September, 2017 at 16:05

    indahnya Timor Leste

  9. Sumonggo  14 September, 2017 at 09:53

    Wah, di Timor Leste kita juga terdesak produk China. Mari Bung rebut kembali ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *