Sunda Wiwitan Bukan Agama?

Chandra Sasadara

 

Surat Terbuka untuk Prof. Din Syamsuddin

Assalamualaikum wr. wb.

Menurut Pak Din—dalam pemberitaan tanggal 23 Agustus 2017 terkait polemik pencantuman Sunda Wiwitan dalam kolom agama di KTP—Sunda Wiwitan bukan agama dalam pengertian ilmiah! Suatu paham atau aliran bisa disebut agama apabila memenuhi syarat tertentu: ada wahyu yang diturunkan, memiliki kitab suci, dan menjalankan ritus.

Saat saya duduk di bangku SMA, saya pernah baca buku karangan Abujamin Roham terbitan Media Dakwah tahun 1991 berjudul “Agama Wahyu dan Kepercayaan Budaya”. Isi buku itu tak berbeda dengan kriteria agama yang disebut Pak Din. Pendeknya, buku itu ingin mengatakan bahwa kepercayaan hanya disebut agama jika berbasis wahyu, selebihnya adalah kebudayaan. Bagi saya, tak ada masalah dengan pendapat itu, namun itu bukan satu-satunya pendapat ilmiah. Ada sejumlah pendapat ilmiah selain pendapat itu.

Agama dalam perspektif sosiologi tak lebih dari produk budaya. Peter L. Berger (1991) dalam “Langit Suci: Agama Sebagai Realitas Sosial” (terjemahan dari “The Sacred Canopy”) menjelaskan realitas agama dengan kerangka dialektika eksternalisasi-objektifikasi-internalisasi. Pertama, manusia tidak mungkin “tinggal dalam dirinya sendiri”, makhluk biologis itu butuh “mengeksternal” dalam bentuk ekspresi dan eksistensi, dari sini lahirlah masyarakat sebagai produk manusia.

Kedua, masyarakat—dunia yang diproduksi oleh manusia itu—kemudian menjadi sesuatu yang berada di luar dirinya, “mengobjektif”. Dari sana lahir kebudayaan. Nilai-nilai adalah salah satu produk kebudayaan manusia yang bersifat immaterial yang dibuat untuk mencegah chaos dalam masyarakat. Agar Nilai-nilai itu memiliki daya cengkeram dan merasuk dalam kesadaran subyektif manusia, diberikanlah status keramat yang melampaui sekaligus meliputi manusia; kemudian dikenal dengan sebutan agama. Karena itu Rudolf Otto dan Mircea Eliade memberikan pengertian agama sebagai usaha manusia untuk membentuk suatu kosmos keramat. Ketiga, nilai-nilai yang telah memiliki status keramat itu diserap kembali, diinternalisasi, dan diyakini oleh manusia. Hal itu yang membuat orang memberikan pengertian agama sebagai perangkat keyakinan.

Agama dalam perspektif antropologi adalah bagian dari sistem kebudayaan. Geertz (1970) menyebut hal itu dalam “The Interpretation of Culture”. Menurutnya agama adalah pedoman yang dijadikan sebagai kerangka untuk menafsir tindakan manusia; menilai baik dan buruk, benar dan salah. Tak salah kalau dua antropolog Indonesia menyebut keyakinan Jawa sebagai agama. Mereka adalah Harsja Bachtiar (1973) dalam “The Religion of Java: A Commentary Review”, dimuat di Majalah Ilmu-Ilmu Sastra, dan Parsudi Suparlan (1981) dalam kata pengantar buku Geertz versi Indonesia yang berjudul “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa”. Suparlan menyebut agama Jawa bertumpu pada dua hal: konsep eksistensi dan kedudukan manusia di alam semesta dan kegiatan yang berkaitan dengan lingkaran hidup.

Pendapat para sosiolog dan antropolog yang saya sebut di atas adalah beberapa pendapat ilmiah selain pendapat Abujahim Roham dan Pak Din. Untuk menyebut kepercayaan sebagai agama para ilmuwan itu tak membutuhkan persyaratan wahyu dan kitab. Apa yang mereka sampaikan di atas tak berbeda dengan unsur-unsur penting agama yang disebut dalam “Ensiklopedi Islam” (Jilid 1 Huruf ABA-FAR). Menurut “Ensiklopedi Islam”, unsur-unsur penting agama antara lain: ada kekuatan gaib, ada keyakinan bahwa kesejahteraan di dunia dan akhirat berhubungan dengan kekuatan gaib yang dimaksud, ada respons dalam bentuk takut dan cinta yang diwujudkan dalam pemujaan, dan ada pemahaman tentang sesuatu yang suci. Maka tak heran jika “Ensiklopedi Islam” menyebut kepercayaan dinamisme, animisme, politeisme, dan henoteisme yang berkembang di masyarakat disebut sebagai agama.

Dalam filsafat Hindu, agama adalah sistem yang digunakan untuk memahami hakikat kebenaran yang berhubungan dengan Tripramana, tiga cara untuk mengetahui hakikat kebenaran secara objektif: Pratayaksa, pengenalan kebenaran melalui pancaindra; Anumana, pengenalan kebenaran melalui penafsiran induksi dan deduksi; dan Sabda, pengenalan kebenaran melalui orang lain yang mengetahui sebelumnya (“Ensiklopedi Indonesia” edisi khusus Jilid 1 Huruf A-CER).

Dari beberapa konsep dan kriteria tentang agama di atas, apakah Sunda Wiwitan dan keyakinan-keyakinan leluhur Nusantara lainnya masih tak bisa disebut sebagai agama secara ilmiah? Berdasarkan elaborasi konsep dan kriteria di atas, tak satu pun kriteria yang tak dimiliki oleh Sunda Wiwitan dan keyakinan-keyakinan leluhur Nusantara lainnya untuk disebut sebagai agama dan diakui oleh negara.

Demikian, Pak Din.

 

Wassamulaikum wr.wb

 

 

4 Comments to "Sunda Wiwitan Bukan Agama?"

  1. Dj. 813  20 September, 2017 at 01:25

    Jadi kalau bukan agama, lalu keyakinan itu disebut budaya . . . ? ? ?
    Apa agama tidak memerlukan keyakinan . . . ? ? ?
    Agama katakan, ada nya satu Allah, lalu itu apa . . . ? ? ?
    Bukan itu satu keyakinan , bahwa ada satu Allah . . . ? ? ?

    Maaaf, hanya sekedar pendapat orang Ndeso . . .
    Terimakasih .

  2. Linda Cheang  19 September, 2017 at 16:42

    Sunda Wiwitan bersama agama-agama lokal lain seperti Kejawen, Parmalim, Aluk To’dolo, Kaharingan, Marapu, dll agama lokal lainnya dipandang oleh negara RI sebagai BUKAN agama karena :

    – tidak ada kitab suci
    – tidak ada nabi
    – tidak ada pewahyuan

    Padahal sejatinya, semua agama lokal tsb menyembah 1 Tuhan seperti halnya agama-agama Abrahamik. Mereka lahir dari kearifan lokal dan umumnya selaras dengan alam.

    Entah kenapa sejak masuknya agama-agama Abrahamik, keberadaan agama-agama lokal tsb tersingkirkan, bahkan menjadi asing di tanah asal mereka sendiri.

    *hasil dari kursus ekstensi budaya dan agama di fakultas filsafat tentang agama-agama lokal di RI

  3. Lani  19 September, 2017 at 12:18

    James: Kenthir wiwitan hahaha……….nampaknya belum ada

  4. James  19 September, 2017 at 11:19

    lahir dan besar di Bandung tapi belum pernah dengar tentang Sunda Wiwitan ini

    apa ada Kenthirs wiwitan ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *