Jangan Terlalu Percaya dengan Foto

Dewi Aichi menyampaikan tips-tips dari Janto Marzuki

 

Hahaha..ini asli tips-tips keren yang dilontarkan oleh bapak Janto Marzuki. Jangan diragukan lagi hasil jepretan beliau sudah mendunia…

Sayang sekali jika tips-tips ini lewat begitu saja, jadi lebih baik saya abadikan di tulisan ini…dan saya jelaskan bagi yang membaca, ini asli saya kutip dari komentar-komentar pak Janto Marzuki…saya mana tau teknik-teknik dunia foto-foto…kalau difoto saja pengennya gaya…sayang…tak bisa haha…hasilnya sangat tidak TOP. Musti kursus dengan pengarah gaya nih…eh pakdhe….bisa buka kursus sebagai pengarah gaya juga nih hahaha..

Begini nih kalau mau foto-foto… make up untuk keperluan dipotret juga berpengaruh besar lho, terutama bedake nek iso digawe kandel ben ora mantulke sinar (bedaknya kalau bisa dibikin tebal agar tidak memantulkan cahaya), yang kalau dilihat sebenarnya atau kenyataannya menjad sedikit ‘medeni’ (menakutkan).

Belum fasilitas edit yang sekarang cukup canggih dan mumpuni yang ada sebagai perangkat lunak. Sing asline irung koyo dasar njobo bagian ngisor panci lan kulit bocel-bocel (yang aslinya hidungnya seperti bagian luar bawah panci dan kulit bocel-bocel) dengan mudahnya disulap menjadi bening serta halus mulus…).

Dari pengalaman saya yang sering motret, ya tentunya ada ‘kerja sama’ yang pas, antara si model dan juga ‘tukang moto’-nya. Biasanya kalau motret (wajah) orang, yang sering saya mengambilnya atau menjepretnya di saat itu beruntun beberapa kali, lebih dari satu jepretan, biasa sampai lima atau lebih. Ini di antaranya untuk menghindari si model merem atau pas angop (posisi mulut/bibir kurang menarik). hahaha… Demikian juga, sayanya mencoba motretnya dari berbagai sudut pandang. Terus juga saya usahakan posisi ketinggian kamera (dan lensa) sejajar dengan mata si model.

Saya kalau motret wajah atau jenis portrait akan memilih memakai lensa tele pendek, saya hindari memakai wide lens. Dengan wide lens, wajah menjadi tembem, mesake modele… (kasihan modelnya hehe).. Mbuh piye carane (entah gimana caranya), jangan begitu gabrus lagi petuk terus dipotret (jangan begitu ketemu langsung difoto), tunggu beberapa saat diakali supaya si model relax, nyaman tidak kaku. Nek perlu diitik-itik disik, hehehe…. (kalau perlu dikitik-kitik dahulu).

Lagi-lagi, dari pengalaman saya, sedikit njengkelke (menjengkelkan) jika; – sewaktu moto grup terus ada salah satu ada salah dua yang mlengos tidak melihat kearah lensa kamera. – masih motret dari grup usrek karepe dewe, ngoceh opo riweh dengan hp-nya – nuding-nuding dengan tangan, yang jari-jarinya dengan simbol V lah, atau lebih parah lagi nuding atau membuat gerakan tangan di kepalanya teman dari belakang atau atasnya. Blas ora lucu. – Hahaha… dan ini kelihatannya tipikal sekali orang-orang kita (terutama wanita, sorry ya… ) kalau dipotret di grup, yang posisi bagian pinggir hampir 90% memiringkan tubuhnya ke arah tengah! Wedi mengko ora katut yo? Kan kamera ada namanya wide angle lens? Coba perhatikan, mengko rak akeh benere. – Tips dari saya yang banyak motret, kalau lagi berada di grup dan dipotret, hindari berada di posisi pinggir. Kenapa, kalau si fotografer menggunakan wide angle lens, anda atau mereka yang berada di posisi pinggir akan kelihatan melebar atrau gendut!

Belajar OJO MRENGUT nek pas arep difoto (jangan cemberut kalau difoto). Coba cepet-cepat mbayangke (membayangkan duit (red) haha.. sesuatu sing nyenengke ati (sesuatu yang menggembirakan). Cukup mesem sediiiikit saja, kalau perlu bibir (lambe dibukak sitik bae, gigi boleh kelihatan sedikit saja, jangan mbukake terlalu lebar, sampai gigi atas dan bawah ketok kabeh apalagi ngakak koyo singo! Dan coba arahkan pandangan ke arah (dimana letak) tengah-tengahnya lensa. Nek hasile tetep elek, yo pancene dasare elek! Hahahaha… tak mlayu aku…

Note: wahhhh pakdhe….saya mau menterjemahkan paragraf ini malah ngakak sendiri)….

Belum yang ngaku-ngaku, sampai berani nulis profesi di akun FB sebagai fotografer, hihihi… potret-potret yang ada di akun cuma foto selfie, atau motretnya hanya pakai HP. Susah jadinya untuk mendapatkan jepretan fotogenik, hihihi…

‘Fotogenik bukan penghalusan dari tidak cantik’, tetapi muka bolong_bolong bisa ‘ditembel’ selain dengan make up juga dengan bantuan editing pakai software. Tentunya berlaku juga sebaliknya, seperti yang saya tulis diatas, yang aslinya alus dengan bantuan software menjadi bolong-bolong, pipi menjadi melar juga mungkin, hehehe…

Nah sekian tips-tips dan saran dari pakdhe Janto Marzuki, mari segera praktekkan gaya-gaya berfoto rame-rame…..biar hasilnya indah dipandang mata.

Yang mau nambahin tips dan saran silahkan…

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

3 Comments to "Jangan Terlalu Percaya dengan Foto"

  1. Lani  5 October, 2017 at 06:38

    James: Betul wajah sejelek apapun bisa diubah jd cantik krn kecanggihan technology/photo shop di utak atik semuanya diubah agar jd kelihatan TOP

  2. Linda Cheang  26 September, 2017 at 16:56

    pembaca yg tidak bisa berboso Jowo, yo, mboten ngertos sedoyo…

  3. James  22 September, 2017 at 16:19

    karena jaman koputer maka foto jaman sekarang bisa di edit gini gitu, dah lama tidak menikmati hasil foto pak Janto Marzuki, semoga sehat selalu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *