Selaksa Kisah dari Lasem – Sayonara Masa Lalu

Dwi Setijo Widodo

 

Saat menulis tentang Rembang dan Lasem, tiba-tiba malam ini saya ingin mengontak Mas Pop, teman di Rembang yang menemani blusukan di Lasem dan aktif di Lasem Heritage Society.

Dengan Mas Pop yang salah satu kegiatannya adalah mengenalkan wisata di Lasem, saya dikenalkan dengan Mama Lena saat beliau sedang berdiri mencari angin di depan dinding luar rumahnya, sebuah bangunan tua khas keluarga Tionghoa di sana. Sesaat tadi saat ngobrol via WA dengan Mas Pop, saya sempat menanyakan kabar Mama Lena dan adiknya, Mama Lenen, dan mendoakan kesehatan keduanya.

Ayo nek arep mlebu kene. Arep leren opo arep turu, yo terserah,” demikian Mama Lena dalam Bahasa Jawa beraksen halus mempersilakan kami masuk ke rumahnya dengan ramah. Mas Pop memang telah lama mengenal Mama Lena.

Gerbang rumah Mama Lena dilihat dari dalam.

Mama Lena saat itu sedang berdiri di depan rumahnya dan Mas Pop menyapanya. Kami berdua masuk ke dalam rumah setelah diundang beliau.

Mama Lena mengajak saya berkeliling hingga di beranda belakang yang berfungsi sebagai ruang makan dan tempat meletakkan perabotan.

Kami berdua pun masuk, disusul Mama Lena. Mas Pop yang terlihat memang sliyat-sliyut kelelahan sejak tadi segera mencari tempat untuk merebahkan diri di lantai beranda rumah yang teduh dinaungi pohon kelengkeng.

Aku dhewe sing nandur kuwi,” jawab Mama Lena saat saya tanya kedua pohon rimbun di sisi kiri halaman rumahnya. Katanya, beliaulah yang menanam. Saya menyukai rumah Mama Lena. Rumah lama dengan beranda, naik beberapa undakan dari pekarangan depan, cukup luas dimana di sebelah kiri dan kanan tertata masing-masing satu set meja dan kursi. Cukup nyaman dengan semilir angin dari rimbunnya pohon kelengkeng dan mangga di pekarangan.

Sementara Mas Pop tertidur kelelahan setelah setengah hari naik motor mengajak saya keliling Lasem, Mama Lena, rupanya tahu apa yang ada dalam pikiran saya, mengajak saya melihat-lihat ke dalam rumahnya. Mulai ruang tamu, ruang tengah dimana ada patung di kiri dan kanan, hingga ke dapur dan beranda belakang yang dipakai juga sebagai ruang makan. Saya melihat gentong air besar, kulkas yang sudah tidak terpakai karena, menurut Mama Lena dengan tertawa, “Wis tuwo kabeh.” Sudah tua semua. Ya, semuanya yang di rumah itu usianya memang tidak lagi belia. Saat di ruang tengah, di situlah saya berjumpa dan berkenalan dengan Mama Lenen, adik Mama Lena. Kami bersalaman dan tersenyum.

Setelah berkeliling dan bercerita tentang kisah hidupnya, Mama Lena, diikuti Mama Lenen, mengajak saya duduk-duduk di beranda depan yang perabot meja kursinya seumur dengan rumahnya. Kami mengobrol tentang banyak hal dengan kedua kakak-adik ini. Makanan dan minuman pun dikeluarkan. “Aku yo nduwe nek jajan-jajan.” Saya juga punya kue-kue, demikian Mama Lena menawarkan saya mencoba beberapa kue dalam toples, lalu menyodorkan dua gelas air mineral. Keramahan khas masyarakat kita. Serasa saya datang “unjung-unjung”, berlebaran, di rumah nenek saya. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dan tak terlupakan!

Hari ini, melanjutkan percakapan via WA dengan Mas Pop, saya memperoleh kabar, “Mama Lenen sampun kapundhut, Mas. Besok dikremasi. Ini saya lagi di rumah duka.” Saya tertegun. Semua kenangan di rumah itu tiba-tiba datang kembali. Ah, Mama Lenen ternyata sudah pamit lebih dulu, mendahului kakaknya, Mama Lena. Firasat saya ternyata benar. Saya kembali pandangi foto itu dan beberapa foto yang lain di laptop saya. Memang kita tidak pernah tahu kapan waktunya kita menyudahi tugas kita di dunia. Selamat jalan Mama Lenen, tempat terbaik untuk Mama di sisiNya.

 

Batu Bulan, 2 Agustus 2017

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

4 Comments to "Selaksa Kisah dari Lasem – Sayonara Masa Lalu"

  1. Alvina VB  10 October, 2017 at 07:15

    Thanks mas Dwi buat tulisannya. Wow, masih ada rumah spt itu ya….duluuuuu banyak di Jakarta rumah spt itu, ttp banyak yg digusur dan dibuat ruko dan bangunan yg lainnya.

  2. Lani  10 October, 2017 at 04:49

    Rumah model spt itu mmg sgt umum pd zamannya…….mirip spt hotel

  3. Dwi Setijo Widodo  22 September, 2017 at 18:33

    Banyak yang terawat, tapi lebih banyak yang tidak terawat, Om James. Salah satu sebabnya adalah bahwa rumah tersebut adalah milik keluarga besar. Bila ingin merenovasi dan melibatkan keluarga besar, ada berapa lapis keturunan yang harus diajakin rembugan. Bila satu saja tidak setuju, sulit dilaksanakan. Demikian juga bila akan dijual. Jadi, tak heran pada akhirnya banyak rumah terkesan tak dirawat dan terlantar. Demikian cerita dari seorang bapak Tionghoa di Rembang.

  4. James  22 September, 2017 at 16:14

    indahnya rumah keturunan Tionghoa di kota kecil memang sangat menarik perhatian dan perawatannya itulah mengagumkan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *