The Artist

Wesiati Setyaningsih

 

Meyakinkan seorang anak bahwa dia hebat bisa sangat susah kalau sepanjang hidupnya dia dibilang “nakal” sama Mamanya. Beruntung dia belum menyerah dengan memilih nakal sekalian seperti ‘doa’ Mamanya.

Sore tadi karena debat sudah dilatih sama couch dari Undip, niatnya saya mau pulang. Lumayan hari Selasa bisa pulang gasik, jam 4. Kemarin2 pulang jam 5. Di depan ruang guru, anak itu menyapa saya. Anak yang kemarin dulu Mamanya datang dan mau dibawa ke psikiater, katanya. Mungkin maksudnya psikolog.

Kalau saya dibilang suka mengatakan orang hebat biar dia menjadikan dirinya hebat, saya perlu kasi tau apa saja yang sudah dilakukan anak ini.

Dia ini suka melukis. Lukisannya bagus. Kadang ada yang pesan lukisannya. Dia dapat duit. Lain kesempatan dia merias. Bahkan menang jadi juara lomba merias pengantin dan dapat hadiah. Kadang dia melukis tangan pake hyena untuk pengantin. Jelas dapat duit lagi.

Anak SMA lho, di saat anak lain cuma kepikiran minta duit, dia susah melakukan dua hal: mengembangkan bakatnya dan menjualnya. Kurang keren gimana?

Sayangnya dia terus menerus bilang, “tapi kata Mamaku aku nakal.” Akhirnya saya nggak jadi pulang. Saya bicara banyak sama dia tentang self appreciation sampai self love dan rasa syukur. Ketika selesai, wajahnya mulai cerah. Saya lihat sudah jam setengah lima.

Butuh waktu setengah jam hingga akhirnya dia bisa bilang, “aku tu sebenernya sering kepikiran sih.”

“Kepikiran apa?” tanya saya.

“Kepikiran bangga sama diri saya sendiri.”

“Nah..itu sudah bener.”

“Tapi aku dibilang nakal terus itu tadi.”

“Ambil yang manfaat buat hidup kamu. Sortir aja suara yang kamu dengar. Kalo bikin sebel, buang. Kalo bikin senang, ambil.”

Dia mengiyakan, tersenyum dan pergi.

(pic : lukisan dia yang di’share Mamanya di grup orang tua)

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

One Response to "The Artist"

  1. James  22 September, 2017 at 16:22

    anak yang berbakat melukis

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *