WELCOME HOME

Dian Nugraheni

 

Urusan imigrasi di bandara, itu selalu membuatku sedikit was-was. Sebab apa pun, salah satu huruf pun, misalnya pada nama, akan bikin masalah menjadi panjang lebar dan mungkin malah njlimet.

Belom lagi masalah yang akhir-akhir ini terdengar, tentang imigran yang dipersulit masuk kembali ke Amerika, meski yang bersangkutan punya dokumen legal dan lengkap. Yaa, itu sebatas apa kata berita TV, berita koran, dan orang berkisah. Makanya pas mau pulkam kali ini, aku sempet mikir juga soal ini, bagaimana kalau nanti ada kendala masuk kembali ke Amrik, karena kami bukan citizen, kami permanen residen, pemegang kartu hijau.

Juga, ketika akhirnya aku dan Alma, harus memperpanjang waktu liburan, karena Alma kurang sehat, sedangkan Cedar, sudah harus segera kembali ke Amrik, jadwal kuliahnya sudah menunggu di minggu ke tiga di bulan Agustus.

Ketika akhirnya diputuskan, Cedar akan pulang sendiri ke Amerika, aku sempat galau malau. Sebab, ini adalah akan menjadi pengalaman pertama Cedar untuk terbang ke luar negeri sendiri. Antar airport, aku meyakini, itu aman. Sampai di Amrik pun, banyak teman. Yang ada dalam pikiranku, bagaimana bila dia menemui masalah imigrasi di bandara Dulles, Washington, DC, ketika tiba dari Indonesia. Ya itu tadi, masalah dokumen dan lain-lain, meski lengkap juga mungkin ada masalah. Tapi syukurlah, waktu itu si Kakak aman-aman saja.

Tadi juga, pas aku sama Alma masuk badara Dulles, hal pertama yang harus kami lakukan adalah scan kartu identitas atau passpor, lalu ada print out keluar, dengan wajah kami masing-masing terfoto di dalamnya. habis itu, baru ngantri diperiksa identitas.

Pas diperiksa petugas imigrasi bandara, di antaranya kami ditanyain, berapa lama di Indonesia, bla..bla..bla..Juga Alma harus finger print dan rekam retina mata.

Sudah gitu, petugasnya yang orang putih itu bilang, “Ohh, my God, I really have to check one more time about this..look…”

Dia bilang gitu aja aku udah deg-degan, jantungku bum..bum…bum…!

Untunglah Alma tuh anaknya kalem, cool, bisa nanggapi omongan orang dengan nada datar, dan malah kadang dia bisa melucu, meski nampaknya diem gitu, jadi biasanya urusan juga akan baik-baik saja kalau dia yang maju.

Pas petugas bilang kayak tadi, aku dan Alma mendekat ke meja petugas imigrasi. Ternyata petugas imigrasi itu merasa amazed, katanya sambil menunjukkan hasil foto hitam putih ketika kami mencetak ID dan difotolah muka kami secara otomatis pakai alat yang ada di situ, “Look, you both…your eyes exactly have the same tone…, baik ketika aku melihat wajah kalian separuh ke atas (nampak dua mata), atau pun separuh ke samping (nampak satu mata)…benar-benar kalian sangat mirip…”

Duhh, plong deh sedikit pas denger dia bilang gitu, sambil menatap aku dan Alma dengan sedikit emosional. Kayaknya dia cukup tersentuh, entah karena apa..

Alma sambil tersenyum, “Yaa, thaank you, Sir…, itu membuktikan bahwa aku benar-benar anak Mamahku..”

Petugas imigrasi bandara, sambil tertawa nggleges, “You right, excatly…so, have a good day, Ladies…welcome home…”

Habis itu, aku yang mau nangis, rasanya gimanaa…gitu, setiap kami pulang dari liburan, di bandara Amerika, kami selalu disambut dengan kata manis ini, “welcome home…”

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

One Response to "WELCOME HOME"

  1. James  26 September, 2017 at 10:28

    Imigrasi Indonesia gak pernah ada welcome home, yang ada welcome isi kantongku, coba perhatikan kepulangan para TKI/TKW

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *