Solidaritas Salah Jalan

Ki Ageng Similikithi

 

Menjelang akhir tahun 1968. Saya mendaftar di Fakultas Kedokteran, di Kompleks Ngasem. Ujian masuk dilaksanakan serentak di berbagai lokasi, saya mendapat tempat ujian di Gedung BPA, yang megah dan modern untuk ukuran waktu itu.

Beberapa ratus peserta menjalani ujian tertulis dalam ruangan yang luas di lantai atas. Saya bersama dengan beberapa teman dari SMA St. Josef Solo, duduk berdekatan. Suasana hening, kami diam berkonsentrasi menunggu soal yang akan dibagikan. Ada beberapa pengumuman dari panitia. Di depan sebelah kiri saya duduk beberapa orang, Tidak tahu dari SMA mana mereka, nampaknya dari salah satu SMA favorit. Mereka sangat kompak, saling melempar senyum dan berbisik. Terutama seorang peserta putri dengan kawan pria disebelah kanannya.

Suasana begitu hening ketika peserta semua berkonsentrasi menggarap soal soal ujian. Saya lupa mata pelajarannya, kemungkinan fisika atau kimia. Kadang-kadang saya mengerling dua atau tiga teman dari Solo, semua berkonsentrasi menggarap soal soal ujian. Sudah terbiasakan oleh guru-guru kami untuk percaya diri memecahkan masalah yang dihadapi, sebagai bagian dari semangat berkompetisi. Suara agak berisik dari arah depan, peserta pria tadi kelihatan sangat bergantung pada teman wanitanya, hampir secara terus menerus menengok ke arah kiri untuk mencari jawaban dari teman wanita di sebelahnya. Saya sempat mendengar dan menyaksikan interaksi mereka, ketika semua soal sudah selesai terjawab, hanya meneliti ulang saja.

Yang membuat saya heran, peserta wanita tadi kok begitu sabar melayani pertanyaan-pertanyaan temannya. Pasti dia mengorbankan waktunya sendiri untuk berkonsentrasi. Kira kira setengah jam sebelum usai ujian, seorang pengawas berteriak nyaring ke arah dua orang peserta tersebut, dan mengambil kertas ujian mereka serta kartu tanda pengikut ujian. “Saudara berdua, saya minta keluar dari ruangan ini. Yang lain silahkan terus selesaikan soal soal ujiannya”. Saya ikut gemetar mendengarnya.

Usai ujian, di luar saya melihat peserta wanita itu menangis, seorang pengawas mahasiswa mencoba menenangkannya. Seorang pria, mungkin juga pengawas mahasiswa, sedang berbicara dengan peserta pria tadi. Perkataan yang sempat saya tangkap ” Lha piye mas, aku ora duwe koneksi”.

Waktu itu saya berpikir, kenapa peserta wanita itu begitu baik sampai mengorbankan cita2 masa depannya, dengan melayani pertanyaan temannya? Solidaritas berlebihan dan salah tempat. Kami berempat dari Solo pulang berjalan bersama sampai jalan Jendral Sudirman. Saya mencoba mengangkat insiden tadi, nampaknya mereka tidak berminat membicarakannya. Hanya bilang “kasihan….”. Akhirnya kemudian mereka semua kuliah di Fakultas Kedokteran, tiga di FKUGM dan satu di FKUI.

Kemudian ketika sudah duduk di bangku kuliah FKUGM, saya mendapat info dari teman temannya kalau peserta wanita tadi kemudian diterima di Fakultas Teknik. Dosen pengawas yang mengeluarkan mereka, saya juga kenal baik kemudian, pribadi yang lembut dan sangat membantu. Beliau salah satu atasan saya di lingkungan FKUGM, saat saya kemudian bertugas sebagai dosen sesudah lulus. Pengawas mahasiswa yang mencoba menenangkan peserta wanita tadi, kemudian bertemu saat perploncoan. Beliau kemudian menjadi tokoh dan ilmuwan handal di bidangnya sampai saat ini.

Yang saya belum pernah bertemu sampai sekarang adalah peserta wanita yang sedang sial itu dan kawannya. Jika berkenan ingin bertanya mengapa sampai mengorbankan cita2 hanya untuk solidaritas pertemanan? Dia pasti punya jawabannya.

Salam damai. Jangan bergantung kepada teman dan jangan memberi beban resiko kepada teman.

 

Ki Ageng BS Setrajaya

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

One Response to "Solidaritas Salah Jalan"

  1. James  1 October, 2017 at 17:26

    hadir sambil menantikan para Kenthirs yang pada masih absen

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *