The Nonstop Flight

Dian Nugraheni

 

(Kisahnya akan sangat panjang…)

Beberapa kali pulang kampung, aku dan anak-anak menumpang pesawat dari perusahaan Cathay Pacific yang basenya adalah di Hongkong. Jadi, terbang dari USA, melalui North Pacific Ocean, lalu transit di Hongkong, setelah itu baru ke Jakarta. Ada beberapa keluhan ketika naik Cathay, salah satunya adalah, perasaan sih, pesawatnya enggak kukuh, enggak mantep. Dari mana nyimpulin pesawat enggak kukuh, enggak mantep..? Yaa, susah ngejelasinnya, bukan teknisi sih, cuma ya bisa bedain gitu kalau umpama kita naik mobil baru, dibanding dengan mobil lama. Belom lagi kalau udah nunjuk merek, naik BMW sama naik yang kelasnya di bawah BMW, gitu deh misalnya.

Juga ada keluhan tentang attitude dari para penumpang. Kalau pas musim libur panjang, summer, gitu, penumpang Cathay juga full, terutama yang memang tujuan akhirnya adalah Hongkong, dari nenek-nenek yang masih berkain kebaya encim, sampai anak cucu yang udah berpakaian internasional. Mereka ini kalau di pesawat cukup heboh. Anak-anak lari-larian ke sana sini seperti di tanah lapang. Banyak juga para orang tua yang main handphone, dan ketika dikasih tau untuk dimatikan, mereka masih ngeyel dan curi-curi kesempatan untuk kembali menghidupkan smartphonenya.

Lalu kali kemaren ini, akhirnya aku dapet pesawat Emirates, yang terbang dari bandara Dulles, Washington DC, menuju Dubai, melewati North Atlantic Ocean.

Pas berangkat, tanggal 21 Juni 2017 dengan Emirates, penerbangan terasa cukup menyenangkan. Pesawatnya berasa mantep. Meski di kelas ekonomi, jarak antara kursi satu dengan depannya cukup lebar, sehingga dengkul nggak harus nyesek ke kursi di depannya kayak kalau naik Cathay.

Tapi ya namanya penerbangan, nggak bakalan sama antara satu dengan yang lainnya, meski juga pakai maskapai yang sama sekali pun.

Kemaren pas pulang ke Amrik pakai Emirates, routenya adalah, dari Soekarno-Hatta, menuju Dubai. Udah diceritakan ya, yang kami dapet bonus pramugara-pramugara cakep overloaded, kiyut ramah dan helpful…foya-foya banget rasanya. Nah, kita transit di Dubai sekitar 3 jam, lalu lanjut dari Dubai ke Washington, DC, ganti pesawat.

Masalah baru terasa, ketika penerbangan 13 jam lebih non stop, dari Dubai ke bandara Dulles Washington, DC. Aku terpisah jauh seatnya dengan Alma. Udah gitu, di depanku adalah, nampaknya sebuah keluarga yang berisi enam orang, menempati 3 kursi di depanku, dan deretan kursi di seberangnya. Dari gayanya, aku melihat ada remaja perempuan anggota keluarga itu, yang kalau bicara sambil geleng-geleng kepala, alias pacak gulu, ciri khas banget dari kelompok mana mereka berasal.

Bukan itu masalahnya, tapi anggota keluarga yang di depanku, pas banget yang di depan kursiku, seorang Bapak sebaya usiaku mungkin, dia “menjeglekkan” (apa sih bahasa Indonesianya menjeglekkan ini..) kursinya yang reclining seat itu dengan mantap ke belakang, sehingga mengganggu pemandanganku ketika menatap layar TV di balik punggung kursi si Bapak, yang adalah jatah untuk entertainmentku selama penerbangan panjang. Ketika dengan sopan kubilang, “Bapak, maaf, apakah kursinya bisa dimajukan sedikit, ini sangat dekat dengan mukaku…”

Kubilang begitu, dia menatapku galak, sombong. Kulitnya yang legam mendukung sikapnya yang keras itu. Kepalanya yang plontos, enggak rata buletnya, penjol-penjol, pengen kujitak. Dia meremehkan aku, tanpa merubah posisi kursinya. Malah kemudian dia kayak usil dengan sengaja, dia enjot-enjot kursinya sehingga gerak-gerak mlulu ke arah mukaku.

Satu jam, dua jam, aku pengen memaklumi dia yang dengan seenaknya menjeglekkan kursinya ke belakang tanpa toleransi terhadap penumpang di belakangnya, dengan berpikir, ohh, mungkin dia gendut, sehingga butuh space lebih lebar. Ohh, mungkin dia pangku anaknya yang lagi tidur, sehingga akan lebih nyaman bila kursinya dijeglekkan sedemikian rupa.

Tapi aku tersiksa. Dan salahku memang ga lapor ke pramugari, karena masih mikir banyak hal, antara tenggang rasa, kasihan, juga ga mau ribut. Ribut di pesawat itu yang udah-udah aku lihat di mana-mana, hasilnya nggak enak. Jadi memang aku mencoba menahan diri.

Tapi, itu penerbangan tigabelas jam lebih, non stop. Dan jelas siapa pun penumpangnya, akan bosan. Dan kalau udah bosan, cuma bisa main game atau liat film yang disediakan lewat layar kecil di depan kita yang tertempel di punggung kursi depan kita. Nah kalau layarnya itu hampir nempel di hidungmu, bisa bayangin kan, kamu liat ke layarnya itu gimana..yang ada, mata berasa makin “jereng” aja.

Dalam tigabelas jam lebih penerbangan itu, berkali-kali aku mengutuk, marah, dan sumpah-sumpahin lelaki di depanku yang telah semena-mena menjeglekkan kursinya sedemikian rupa sehingga menggangguku.

Sumpah-sumpahin, dalam keadaan terpepet itu, sungguh membuatku menjadi sangat tidak adil, bahkan sejak dalam hati dan pikiran..(uuh, maafkan aku Oom Pramudya Ananta Toer, yang mengatakan bahwa adil itu harus ada sejak dalam pikiran…).

Ketidakadilan hati dan otakku merajalela. Aku menilai lelaki dan keluarganya yang ada di depanku, dari penampakan fisik. Yang item lah, kepala botak penjol-penjol. Yang minta makanan dan minuman mlulu di luar jadwal, sehingga pramugari sibuk sekali melayani mereka.

Juga istrinya, atau aku duga sebagai istrinya, yang berpakaian gombrang serba hitam dengan penutup wajah sehingga cuma keliatan matanya doang, itu pun nggak luput dari bidikan ketidakadilan yang ada dalam hati dan pikiranku. Dengan tega aku bilang dalam hati, “pantesan…, begini inilah mereka, pasti mereka adalah kelompok orang-orang yang biasa pikir bahwa mereka yang paling baik, paling benar, dan seterusnya, sehingga mereka sering abai dengan hal-hal yang bersifat kewajaran umum…”

Anaknya ada beberapa, yang anak perempuan, lari-lari dengan kaki digajug-gajugin ke lantai, sehingga menimbulkan suara gaduh. Anak lelakinya, juga gendut, makan mlulu, berkali-kali datangi dapur minta makanan, minuman, snack, dan lain-lain dengan tergopoh-gopoh. Dan orang tuanya ga mengingatkan apa pun tentang tingkah laku anak-anaknya ini, seolah itu semua adalah normal.

Ampun deh, pokoknya hati dan pikiranku menjadi se-evil-evilnya evil.

Ya itu tadi, hati dan pikiran pengen bisa memaklumi keegoisan mereka, tapi nyatanya, aku nggak mampu. Aku merasa sangat terganggu, dan merasa sangat marah selama penerbangan lebih dari tigabelas jam dari Dubai ke Washington, DC.

Aku tetep nonton movie, tetep main game, tapi ya ga nyaman. Aku ga mau menjeglekkan kursiku ke belakang, karena akan sama efeknya, rasa orang di belakangku, akan terganggu, kayak aku terganggu oleh orang di depanku. Aku menahan diri untuk ini.

Bla..bla..bla..
Pesen aja sama teman-teman yang terbang di kelas ekonomi, ya memang begitu keadaannya. Kursi memang reclining seat, tapi mbok ya jangan kebangetan. Ingat penumpang lain di belakangmu. Sama-sama menahan dirilah.

Kalau ada yang nyeletuk, “kalau mau nyaman, ambil kelas bisnis, kek…”

Amiin, moga-moga lain kali duit bisa buat beli tiket kursi pesawat kelas bisnis.

So, well…, kali ini aku nggak naik kelas, lagi, ya Gusti Allahku yang Maha Penguji..?

Okay.., baik…, aku akui lagi…, kali ini aku gagal, nggak naik kelas uji kesabaran….

Maturnuwun…

 

 

4 Comments to "The Nonstop Flight"

  1. Lani  5 October, 2017 at 06:26

    James: mmgnya ada Air Pacific via Kona? Belum pernah dengar……….

    Dian: aku bs memaklumi kejengkelanmu sampai ke ubun2 dan umep hahaha………..penerbangan jauh ngadepin penumpang yg super kurang ajar……..sehrsnya kamu lapor ke flight attendantnya

  2. Linda Cheang  4 October, 2017 at 16:12

    Ah, payah! Nggak ada fotonya pramugara yang katanya cakep overload. Hoax, kali?

    Hehehehe

  3. Swan Liong Be  2 October, 2017 at 14:34

    Dian,lumrah kan, bagi mereka wanita itu statusnya bawah pria. Kamu sbg.wanita kok berani menegur “majikanmu”;pantesan kamu dipelototi.

  4. James  1 October, 2017 at 17:25

    Cathay Pacific itu adalah Mantan The Best Airline in the world jadi sudah kadaluwarsa, enakkan naik Air Pacific dari Kona saja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *