Setelah PKI, Siapa Lagi?

Chandra Sasadara

 

Selain Angkatan Darat (AD), kekuatan politik Islam memainkan peran kunci dalam menggulung PKI, pun dalam peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto, terutama kekuatan politik Nahdlatul Ulama (NU). Massa NU di akar rumput berjibaku menggilas kekuatan sisa PKI. Para intelektualnya, seperti Subchan ZE memobilisasi demonstrasi anti PKI di kota-kota besar. Mesin politik NU di parlemen memuluskan pengambilalihan kekuasaan Soekarno secara konstitusional melalui Memoradum Nurddin Lubis dan Djamaluddin Malik.

Saking besarnya sokongan NU kepada Jenderal Soeharto, Mayjen Mokoginto, Panglima Militer Sumatera saat itu mengatakan bahwa “Angkatan bersenjata ‘menyerahkan’ tentaranya kepada NU dan sebaliknya” (Berita Yudha, terbit 3-3-1966). Achmad Sjaichu, Wakil Ketua II NU mengibaratkan persekutuan antara Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI-sebelum berganti menjadi TNI) dengan NU seperti saudara kandung (Duta Masyarakat, terbit 13-8-1966).

Ali Moertopo, ahli strategi Soeharto juga melakukan mobilisasi faksi gerakan Islam yang lain dengan cara mengaktifkan sel-sel Darul Islam (DI) yang katanya untuk mengimbangi kekuatan PKI, kekuatan garis keras yang sebenarnya telah dilibas tiga tahun sebelum G30S, tahun 1962. Ali juga menghidupkan lagi Gabungan Usaha Perbaikan Pendidikan Islam (GUPPI) yang didirikan pada tahun 1950. Dua kelompok ini di kemudian hari juga digunakan untuk melibas lawan-lawan potensial Soeharto dalam Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) yang terjadi pada 1974.

Usaha Soeharto dan para pembantunya untuk merebut kekuasaan Soekarno terjadi setelah kemelut politik G30S berhasil menjadikan PKI sebagai musuh bersama dengan menjadikan kekuatan politik Islam sebagai penopangnya. Pertanyaannya, apakah pola-pola memobilisasi kekuatan politik Islam dan menjadikan isu PKI pada era Orde Baru itu ada kemiripan dengan peristiwa politik yang sedang terjadi sekarang? Silakan kleyan jawab sendiri! Biar awak lanjutkan cerita tentang Orde Baru.

Apa yang terjadi kepada kelompok-kelompok Islam pendukung setelah kekuasaan ada di dalam genggaman Sang Jenderal?

Keretakan NU dengan pemerintahan Soeharto mulai nampak di permukaan; Duta Masyarakat, media penerbitan NU yang biasanya moderat mulai bersuara keras. Semua itu dimulai saat peguasa Orde Baru itu mengulur waktu untu menyelenggarakan Pemilihan Umum (Pemilu). Subchan ZE, politisi NU mulai melancarkan kritik keras kepada Soeharto. Sayap organisasi NU, Ansor juga mendesak MPRS agar menyelenggarakan Pemilu paling lambat 1968. Menanggapi kritik dan desakan dari kalangan NU, termasuk dari kalangan media, Sang Jenderal balik menghardik “Jangan sampai saya bertindak!” (Duta Masyarakat, 30-12-1966).

Achmad Sjaichu, politisi NU yang berjasa membuka jalan Seoharto duduk sebagai presiden RI secara definitif juga tak lepas dari hardikan ketika mempertanyaakan proporsi susunan anggota baru di DPR-GR. Pada 1955 kelompok Islam mendapat 48% sedangkan pada saat perombakan keanggotaan DPR-GR hanya mendapat 28%. Keluhan ketua DPR-GR itu mendapat jawaban Soeharto “bukan hanya kyai saja yang tahu haram, saya juga tahu haram” (Feillard 1999 dalam NU Vis-à-vis Negara).

Pada saat Pemilu 1971, musim kampanye benar-benar membuat pesekutuan NU dan ABRI berakhir. Babinsa melakukan pengawasan politik secara ketat disertai intimidasi. Subchan bereaksi keras, dia akan membuka kantor-kantor pembelaan hukum cuma-cuma untuk anggota NU yang megalami intimidasi, bahkan ancaman-ancaman jihad juga dikobarkan. Namun Soeharta mengacam akan melakukan jihad yang sama sambil menuduh NU membentuk kelompok ekstrimis Komando Jihad dengan cara mengumpulkan pemuda-pemuda Islam, termasuk Ansor (Duta Masyarakat, 113-7-1971). Hasilnya NU hanya dapat 18% suara, sedangkan Golkar mendapat 62,8% suara.

Hasil Pemilu 1971 menjadi titik balik hubungan antara Orde Baru dan kekuatan politik Islam. Duta Masyarakat, media NU dilarang terbit. Subchan ZE, tokoh pemberani, penggerak massa anti-komunis, dan politisi brillian NU tersingkir dari induk organisasinya. Beberapa kalangan yang menyebut tersingkirnya tokoh hebat itu merupakan keberhasilan manuver Operasi Khusus (Opsus), sebuah organ intelijen Orde Baru. Subchan akhirnya meninggal di Makkah karena kecelakaan, penyebab kematian yang sangat diragukan.

Danu Muhammad Hasan tokoh DI/TII adalah salah satu orang binaan Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) pasca penangkapan Kartosuwiryo pada 1962 juga dimanfaatkan untuk membendung komunisme. Berhasil dengan upaya membendung PKI di Jawa Barat, pada 21 April 1971 orangtua Hilmi Aminuddin (tokoh PKS) itu juga berhasil mengumpulkan 3.000 pemimpin dan eks anggota NII untuk memenangkan Golkar dengan diiming-imingi duduk sebagai legislator (Rahasia-Rahasia Ali Moetopo, Tempo 2014). Hasilnya dia ditangkap, diadili dengan dakwaan mendirikan NII gaya baru. Dia menjalani hukuman selama sepuluh tahun dan meninggal beberapa jam setelah menghirup udara bebas. Kematian yang misterius sebagaimana kematian Subchan.

Setelah PKI tumpas kedudukan Pemerintahannya kokoh, Orde Baru berbalik menghantam sekutu-sekutunya. Kekuatan politik Islam dikebiri dengan cara fusi: NU, Parmusi, PSII, dan Perti digabungkan menjadi satu partai bernama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Soeharto juga memberlakukan politik massa mengambang agar kyai-kyai kampung tak bisa mempengaruhi jamaahnya untuk bisa memilih partai Islam. Kelompok radikal Islam yang sebelumnya mati, dihidupkan kembali, kemudian disikat habis: NII dan Komando Jihad. Sejak saat itu kekuatan politik Islam yang formal dan manifes tamat!

Pertanyaannya, apakah kalian tak belajar dari pendahulumu? Menjadi pendukung dan kemudian dilibas habis seperti Sang Jenderal melibas sekutu-sekutunya? JASMERAH!

 

#Ayomeleksejarahindonesia

 

 

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

One Response to "Setelah PKI, Siapa Lagi?"

  1. James  4 October, 2017 at 09:18

    Setelah PKI, siapa lagi ? setelah PKI ya FPI, kan sama-sama Perusak NKRI perusak Masyarakat Indonesia

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *