Love and Trust

Wesiati Setyaningsih

 

Ada meme yang bilang gini, “nyuruh orang tua nggak nguatirin anak, sama aja nyuruh ikan nggak boleh basah.” Apa iya?

Ada seorang anak yang terus menerus marah pada Ibunya karena dia tidak diijinkan sekolah kejuruan seni setingkat SMA di luar kota. Alasannya, dia anak pertama dan cucu pertama. Jadi harus dijaga benar jangan sampai ternoda. Udah deh frontal aja saya ngomongnya, orang tuanya takut anaknya dihamili cowok lantas drop out.

Saya jadi ingat diri saya sendiri. Ibu saya sangat mengkuatirkan saya. Kekuatiran yang sama bahkan sejak saya belum punya pacar. Apalagi ketika saya punya pacar. Kekuatirannya makin besar. Kekuatiran yang sangat besar ini terasa di saya dan nggak enak banget rasanya. Apa-apa jadi salah. Padahal saya juga belum terlalu paham masalah sex. Bahkan ciuman bibir saja waktu itu masih takut.

Akhirnya banyak larangan. Nggak boleh keluar lebih dari jam 9 malam. Kalo bisa pacar ngapel aja di rumah. Nggak usah keluar, boro-boro nonton. Cuma muter-muter aja dilarang.

Dan apa yang terasa oleh saya? Hilangnya banyak kesempatan untuk bersenang-senang dengan teman-teman. Ketika teman-teman kemah bareng-bareng, bukan kegiatan sekolah, saya nggak boleh ikut. Bahkan main bareng naik motor juga nggak boleh. Saya anak rumahan yang tenggelam dalam buku dan lagu-lagu.

Ibu saya bangga karena merasa berhasil mendidik saya dengan cara seperti itu. Tapi saya tidak mau mendidik anak-anak saya dengan cara yang sama. Mengkuatirkan anak saya terjebak dalam pergaulan merusak? Buat apa? Kalo saya sudah memberikan kasih sayang sebesar2nya, kebebasan seluas2nya, dan kepercayaan setinggi2nya, kenapa mereka mesti merusak diri sendiri? Saya tahu anak-anak punya batasan norma sendiri.

Itulah kenapa ketika Dila ijin mau ke Bandungan bareng teman-temannya, saya bolehkan. Saya percaya dia tidak akan dengan begitu saja membiarkan dirinya disentuh laki-laki yang dia tak cinta. Dia juga pasti bisa memilih teman yang baik sesuai batasan yang dia buat sendiri.

Sempat kami bertukar pesan di WA. Saya bilang kalo saya dulu nggak bakal dibolehin pergi kaya dia begini. Saya katakan juga kalau saya percaya sama dia. Memulai sebuah hubungan sex kan nggak semudah itu. Dia bilang, “iya sih. Jelas nggak bisa gitu aja.” Lalu dia berterima kasih karena sudah saya ijinkan pergi. Itulah si Dila yang bahkan pacaran saja belum pengen.

Sementara adiknya yang baru SMP malah sudah pernah punya pacar. Waktu itu dia pernah nanya, “boleh nggak aku ciuman sama pacarku?” Saya yang waktu itu sedang minum es campur, hampir tersedak.

Tapi saya bilang, “boleh.” Dia menatap saya, berusaha meyakinkan. Saya menambahkan, “but you have to make sure that he is the right one.” Tak lama setelah obrolan itu, malah dia putus karena bosan. Pacarnya nggak bisa mengimbangi obrolan dengan dia. Masak anak saya diajak bicara flat earth? Jelas nggak nyambung. Sekarang kalo saya tanya sudah punya pacar lagi apa belum, dia bilang, “ntar ah..Pacaran bikin bodoh.” Maksudnya dia mau konsen belajar karena sudah kelas 9.

Jadi, mengkuatirkan anak-anak terlibat dalam hubungan sex yang belum waktunya, rasanya malah malah merendahkan anak sendiri. Kaya nuduh anak sendiri murahan. Lagian mereka tak akan jadi anak yang haus cinta lantas menyediakan dirinya untuk siapa saja atas nama cinta, kalo di rumah sudah cukup cinta.

Jadi, apakah orang tua itu harus selalu kuatir? Enggaklah. Jadi orang tua itu HARUS belajar percaya. Love them, then trust them. Gitu aja.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Love and Trust"

  1. James  7 October, 2017 at 15:15

    betul Love and Trust asala jangan Love and Rust saja

  2. Lani  7 October, 2017 at 15:09

    Wesi: Tidak tahu hrs urun komentar apa? Krn tdk punya anak, tdk pernah turun tangan mendidik anak……….

    Jadi menurut pendapatku yg penting diajak bicara, dikasih kepercayaan, dikasih tanggung jawab utk mempertanggung jawabkan kepercayaan yg telah diberikan oleh orang tuanya……….kira2 begitu hampir sama dgn alinea paling akhir dr tulisanmu

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *