260 TAHUN PURA MANGKUNEGARAN 1757-2017: Jumenengan Dalem

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

 

SEJAK Indonesia merdeka, baru pertama kali mengalami sebuah suksesi di Kerajaan Mataram Islam di tahun 1988. Kerajaan yang mengisi perjalanan panjang sejarah negeri ini selama 400 tahun lebih, Kerajaan Mataram Islam meliputi Kraton Kasunanan (Solo), Kraton Kasultanan (Jogja), Pura Mangkunegaran (Solo) dan Puro Pakualaman (Jogja).

Pada 2 Agustus 1987, KGPAA Mangkunegara VIII mangkat setelah 43 tahun memerintah di Pura Mangkunegaran (1944-1987) dan merupakan yang terlama bertahta dalam sejarah 230 tahun keberadaan Kadipaten Pura Mangkunegaran. Beliau memiliki 7 anak dari permaisuri, yaitu:

1. Gusti Pangeran Haryo (GPH) Radityo Prabukusumo
2. Gusti Raden Ayu (GRAy) Retno Astuti
3. GRAy Retno Rosati
4. GPH Sujiwokusumo
5, GPH Saktyokusumo
6. GRAy Herwasto
7. GRAy Retno Astrini

Putra tertua yang dipersiapkan sebagai pengganti KGPAA Mangkunegara VIII meninggal dunia dan pilihan jatuh ke anak ke 4, yaitu GPH Sujiwokusumo, karena dua kakak beliau adalah perempuan. Dalam kurun usai mangkatnya KGPAA Mangkunegara VIII, Pura Mangkunegaran tidak memiliki raja. Barulah pada 9 Suro 1921 atau bertepatan 22 Agustus 1988, GPH Sujiwokusumo dinobatkan sebagai KGPAA Mangkunegara IX. Raja baru pertama dalam Kerajaan Mataram Islam di era Indonesia merdeka. Pada masa kolonial, setiap suksesi di kerajaan tersebut selalu ada campur tangan penguasa kolonial selama ratusan tahun.

KGPAA Mangkunegara IX hari ini dalam almanak Jawa, tepatnya 9 Suro DAL 1951 atau 30 September 2017, tepat 30 tahun bertahta di Pura Mangkunegaran.

Tradisi dan budaya nusantara Jawa sejak KGPAA Mangkunegara IX dinobatkan, dilestarikan dengan baik. Selama 30 tahun memerintah, KGPAA Mangkunegara IX bersejajar dengan pemerintahan 6 presiden RI, dari Soeharto hinga Joko Widodo, kecuali masa Presiden Soekarno yang pernah menjadi mertua beliau.

KGPAA Mangkunegara IX juga menjadi jembatan jaman dari sisa-sisa masa otoriter negara Indonesia hingga era milenial dalam perjalanan panjang Pura Mangkunegaran yang berpijak pada prinsip “Rumangsa melu handarbeni” dan “wajib melu anggondeli” (merasa memiliki dan wajib mempertahankan pamor kraton).

PS: Terima kasih Mas Bambang Sujarwanto atas foto Jumenengandalem SIJ Mangkunegara Kaping IX.

 

 

2 Comments to "260 TAHUN PURA MANGKUNEGARAN 1757-2017: Jumenengan Dalem"

  1. Lani  11 October, 2017 at 09:48

    Hadir juga James

  2. James  11 October, 2017 at 04:42

    H a d I r …..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *