Marxisme, Komunisme dan PKI

Chandra Sasadara

 

Marxisme adalah ajaran tentang ekonomi, sosial, dan politik Karl Marx. Penganut ajaran ini disebut kaum marxis. Istilah Marxisme diciptakan oleh Friedrich Engels dan Karl Kaustky, bukan oleh Kalr Marx sendiri. Komunisme adalah salah satu tafsir monopolistik terhadap Marxisme oleh W.I Lenin, karena itu Komunisme juga disebut Marxisme-Leninisme. Komunisme kemudian menjadi ideologi politik partai-partai di Rusia sejak Revolusi Oktober 1917 yang tergabung dalan Komunis Internasional (Komintern). Sebelum istilah “Komunisme” diambil dan dimonopoli oleh Lenin, istilah itu telah dipakai untuk menggambarkan cita-cita utopis masayarakat; di mana segala hak milik pribadi dihapus dan semua menjadi milik bersama. Sedangkan PKI adalah partai politik yang awalnya hanya berupa perserikatan bernama Perserikatan Komunis di Hindia yang didirikan oleh Semoen, Darsono, Bergsma, Dekker, dan Kraan pada 23 Mei 1920 sebagai bentuk perubahan Indische Sociaal Democratiche Vereeniging (ISDV).

Pertanyaannya; apakah seorang marxsis selalu komunis? Apakah kaum komunis melulu tak bertuhan? Apakah komunis selalu PKI? Mari kita tengok sejarah pergerakan Indonesia pra-kemerdekaan!

Mintz dalam buku “Muhammad, Marx, dan Marhaen: Akar Sosialisme Indonesia” menyebut bahwa Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda memiliki warna Marxisme sangat kuat, tapi kebanyakan anggotanya justru tidak bergabug dengan partai komunis, termasuk Hatta dan Syahrir. PI tidak anti PKI, terbukti pada 5 Desember 1926 PI diwakili oleh Hatta dan PKI diwakili oleh Semoen menandatangani kesepakatan yang berisi kerja sama mendirikan partai nasionalis untuk mencapai Indonesia Merdeka; pucuk pimpinan partai dipegang oleh orang-orang PI sedangkan cabang-cabang PKI tunduk dan mendukung perjuangan untuk mewujudkan kemerdekaan. Namun kesepakatan itu berakhir tragis setelah Semoen menarik diri dari kesepakatan!

Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dikenal nasionalis dengan ideologi Marhaenis pun tak bisa lepas dari pengaruh komunisme. Syahrir dalam “Indonesian Socialisme” menyebut bahwa sejak awal PNI sudah dimasuki kencenderungan revolusioner sosialis dalam propagandanya dan dengan bebas meminjam konsep-konsep resmi komunisme, terutama Komintern. Mintz secara eksplisit bahkan menyebut PNI memilik ketergantungan kuat pada Komintern dalam kerangka teoritisnya, terutama untuk melihat Kapitalisme dan Imperialisme. Pertanyaanya; apakah selain PNI yang menggunakan komunisme sebagai kerangka teori, partai-partai pra-kemerdekaan juga menggunakan komunisme sebagai konsep dan ideologi?

Partai Republik Indonesia (Pari) yang didirikan oleh Tan Malaka pada 1927 di Bangkok adalah oraganisasi politik kriptokomunis. Pemimpin Pari seperti Sukarni dan Adam Malik adalah orang-orang nasionalis komunis seperti Tan Malaka. Namun mereka justru penentang paling keras Komintern sejak konggres ketiga dan musuh utama “PKI ilegal” yang didirikan Musso pada 1935 ketika kembali di Indonesia. Jadi bukan hal aneh, jika saat itu ada komunis yang memusuhi komunis lain, bahkan memusuhi Komintern.

Selain Pari, Partai Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang berdiri pada 1937 juga merupakan partai campur aduk yag dirikan oleh para nasionalis dan komunis. Mereka yang mendirikan parti ini antara lain; Sartono bekas tokoh PNI dan Partai Indonesia (Partindo), Wikana salah satu tokoh di “PKI illegal”, dan Amir Syarifuddin tokoh PKI.

Komunisme di Indonesia memang aneh! Kaum komunis bisa bekerja sama dengan kaum nasionalis, komunis bahkan bisa lekat dengan agama dan kepercayaan. Syahrir dalam “Out of Exile” menyebutnya “Komunisme yang benar-benar aneh”: komunisme Hindu-Jawa, komunisme Islam Minangkabau, atau komunisme Islam-Banten dengan kecenderungan anismistik. Dia menambahkan, dengan keanehan itu tak akan banyak kaum komunis Eropa yang akan mengenali varian komunisme Indonesia!

Mungkin hanya di Indonesia ada istilah “komunis religius” atau “Islam Komunis”, istilah yang disematkan kepada anggota PKI seperti Haji Misbach Solo, Z. Muhamad Pekalongan, Sudiro Semarang, Haji Ahmad Khatib alias Haji Datuk Batuah di Sumatera Barat dan lain-lain. Fakta itu secara telak menolak penilaian bahwa komunisme sama dengan ateisme. Komunisme di Indonesia memang unik. Komunis kok religius! Bhuahahaha

 

#Ayomeleksejarahindonesia

 

 

2 Comments to "Marxisme, Komunisme dan PKI"

  1. James  14 October, 2017 at 05:35

    Politik hanya Rubbish semua, bikin kacau keadaan saja

    lebih basik Politik Kenthirs saja damai di Baltyra

  2. Alvina VB  14 October, 2017 at 04:28

    Jadi kesimpulannya Komunis di Indonesia lain dgn komunis di China/Rusia; Org Komunis di Indonesia beragama, cuman ideologinya aja yg diambil, krn rohnya punya agama. Menarik kan? Nungguin para kenthirs muncul, mumpung lagi turun gunung….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *