Mimpi Remang-remang

Dian Nugraheni

 

Iya, kenapa sih kalau mimpi itu selalu dalam keadaan remang-remang, cenderung bersetting malam, atau kayak malam.

Beberapa menit lalu aku rebahan dan mulai ngantuk. Mataku merem, lalu langsung aku melihat kilasan bayangan mimpiku sekian tahun silam, kembali muncul.

Lalu aku ikutin saja mau kemana bayangan itu akan membawaku. Ternyata, mimpi yang “terulang” itu membawaku pada sebuah siang mendung, ketika aku melihat diriku yang usia sembilan tahunan, mengayuh sepeda mini berwarna hijau muda lembut. Siang itu aku disuruh mbah Utiku untuk mengambil pesanan ayam goreng di rumah Pak Marto. Pak Marto dan istrinya, bu Marto memang punya usaha memotong dan menggoreng ayam. Ya, ayamnya dijual matang. Gurih sekali masakan ayam goreng pak dan bu Marto ini, dan mbah Utiku pesan, bukan buat dimakan sendiri, melainkan untuk disajikan di warung nasi rames milik kami.

Meski rumah sepasang suami istri penjual ayam goreng ini agak jauh, jalannya menurun, alias nanti kalau balik, jalannya naik, bikin capek ngayuh sepeda, tapi aku selalu mau saja bila disuruh ke sana. Sebab, sudah pasti pak Marto atau bu Marto akan bilang, “nah, karena kamu datang duluan, berarti bu Marto nggak usah ngantar ke rumah Eyangmu ya…maka kamu akan dikasih hadiah sepotong ayam…pilih pupu sama ceker, atau sirah ayam, Nduk…?”

Pilihan yang sulit bagiku antara pupu yang dilekati ceker, atau kepala ayam. Dua-duanya bagian yang amat aku sukai. Ehh, juga swiwinya, sayapnya. Tapi sayapnya nemplek di bagian dada menthok, jadi nggak boleh dipotek begitu saja. Akhirnya, selalu dan selalu aku pilih kepala ayam, sebab terbayang sudah, bagaimana aku akan ngrikiti daging yang menyelempit-nyelempit di antara ruas tulang leher, lalu kulitnya yang gurih, matanya yang ada rasa kalsium ketika aku klethus, lalu yang terakhir kusantap adalah, otaknya. Sudah…, ritual yang tiada duanya itu…

Maka, “Sirah aja bu Marto…, aku suka sirah ayam…”

Bu Marto, “Ya wes, ini, tak bungkus tersendiri ya, nanti bilang Eyangnya, yang ini bukan buat dijual, tapi buat kamu ya Nduk…”

Aku mengangguk, senang, bilang maturnuwun, dan pengen cepat-cepat sampai rumah warungku, ambil piring seng bergambar bunga oranye, nasi hangat, dan duduk bersila di amben dekat dapur, makan siang dengan sepotong goreng sirah ayam…

Lalu, barusan aku terbangun lagi, buka facebook, dan baca beberapa pesan teman. Mimpi yang terulang, terpenggal…

(embryo cerpen)

 

 

3 Comments to "Mimpi Remang-remang"

  1. Lani  16 October, 2017 at 13:12

    James: wuiiiiiiiiiiiiih nggilani…………aku tdk makan kepala, mata, mata, ceker ayam………..termasuk semua jeroan tidak doyan……..apalagi dideh…….

  2. James  14 October, 2017 at 05:45

    ayam masak Bali juga uenak, tanya saja mas DJ

  3. James  14 October, 2017 at 05:43

    artikel yang membuat tersenyum, memang asli Otak dan Mata Ayam itu uenak kalau disantap

    para Kenthirs sudah menyantap Mata Komodo gak ? atau mata cicak ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.