Menjenguk Ahok, 13 Oktober 2017

JC – Global Citizen

 

Seminggu sebelumnya, saya mendapat info dari seorang sahabat yang ujug-ujug menginformasikan bahwa akan ada kunjungan menjenguk Ahok di tahanan Mako Brimob Kelapa Dua, Depok. Tak pakai mikir lama, langsung saja iya, apapun hari yang ditentukan, kapan lagi kesempatan begini?

Tak terasa waktu menjenguk semakin dekat. Ketua Kelas kami – biasa dipanggil Oma – mengeluarkan ‘fatwa’, seragam bagian atas warna putih, bawah bebas pakai jeans ok, bahan yang lain juga ok (tentu saja dilarang keras untuk cowok mengenakan rok). Ditentukan tempat berkumpul adalah di McD Kelapa Dua, berjarak sekitar 200 meter lebih dari gerbang Mako Brimob, kumpul jam 12! Saya sepakat menjemput dua sahabat peserta di CITOS. Paginya masih sempat meeting urusan kerjaan di dekat CITOS. Setelah bertemu dengan dua sahabat di CITOS, mobil yang sudah didaftarkan sebelumnya (jenis, warna, nomor) melaju menyusuri siang Jakarta yang menyengat hari itu.

Perjalanan lumayan lancar. Tepat beberapa menit sebelum jam 12 siang kami sampai di McD Kelapa Dua Depok. Parkiran penuh sesak. Mobil kami diarahkan oleh si tukang parkir untuk memarkir rada nyelempit dekat pintu keluar. Keluar dari mobil, saya disambut dengan hangat oleh si tukang parkir, yang jujur saja sangat mengherankan. Katanya: “Pak, hari ini bapak adalah kloter pertama.” Saya terheran-heran masih belum klik antara kuping dan otak. Si tukang parkir meneruskan, “Biasa hari Jumat memang siang mulainya, pak. Itu beberapa teman sudah ada yang datang di dalam.” Barulah saat itu saya sadar apa yang dimaksud si tukang parkir. Saya hanya bisa tergeragap menjawab: “Oh gitu ya pak, terima kasih ya.” Mau jawab apa lagi coba?

Sambil masih terheran-heran saya ngeloyor masuk ke McD. Betapa kuat pengaruh seorang tahanan berjarak sekitar satu kilometer (sampai ke dalam ruang tamu tempat menjenguk) dengan lingkungan sekitar. Bahkan sampai tukang parkir di McD juga bisa mengenali tampang-tampang tamu pengunjung yang akan menjenguk sang tahanan politik. Memasuki McD, siang itu yang sedang bersantap berjubel memenuhi seluruh penjuru meja dan kursi; quick scan – sekitar 99% adalah para mahasiswa/i dari kampus sekitar situ. Di tengah-tengah sana, sahabat kami nampak berbeda dengan rambut pendek rapi berwarna putih bersama dengan istrinya sedang duduk menikmati sajian di depan mereka.

Singkat cerita, sembari mengisi perut di saat jam makan siang dan menunggu para peserta lain tiba kami ngobrol ngalor ngidul. Tak terasa waktu terus berlalu dan tiba saatnya kami berangkat dengan dua mobil yang sudah didaftarkan sebelumnya. Kami beriringan menuju ke Mako Brimob Kelapa Dua. Sampai di gerbang besarnya, kami memasuki gerbang dan menepi. Kami mengumpulkan seluruh tanda pengenal (KTP atau SIM) dari semua peserta hari itu untuk diserahkan ke pos jaga di depan. Seorang petugas meneliti apakah nama dan wajah sudah cocok dengan tanda pengenal masing-masing.

Kami melanjutkan memasuki kompleks Brimob yang luar biasa besar dan luas. Itulah pertama kalinya saya memasuki tempat itu. Mobil di depan sepertinya sudah sangat hapal dengan belokan sana sini karena di dalamnya ada Bapak Pendeta yang sudah beberapa kali menjenguk dan mengiringi tamu lain. Kami sampai di pelataran parkir dengan banyak mobil dinas Brimob berbagai jenis dan ukuran. Kami memarkir mobil dan melangkah masuk ke ruang tunggu berpintu kaca. Ruang tunggu persegi empat dengan kursi sederhana dan ada juga sofa sederhana. Beberapa orang sudah menunggu di dalam. Tertulis dengan jelas di dinding larangan berfoto-foto, foto bersama dan swafoto. Kami duduk menunggu.

Tampak dari pengamatan saya dan cerita bapak-bapak Brimob di situ, para pengunjung datang dari berbagai kalangan, dari berbagai kota, dari berbagai agama, bahkan dari berbagai negara. Yang mengajak saya berbincang adalah pengunjung dari Amerika! Hah? Amerika? Benar, Amerika! Saya terperanjat lagi! Menurut keterangan, banyak sekali pengunjung yang datang hanya untuk menjenguk sesaat, mendoakan atau berdoa bersama (dari berbagai agama) dan kemudian berlalu. Sungguh luar biasa sang tahanan politik yang satu ini!

Sekitar setengah jam menunggu, waktu kamipun tiba. Semua handphone harus ditinggal dititipkan di pos jaga situ. Tidak boleh ada alat komunikasi atau alat elektronik apapun masuk ke dalam ruang tamu. Pintu terbuka dan nampaklah sosok fenomenal itu. Yang selama ini hanya nampak di layar televisi, layar laptop ataupun smartphone, sekarang nampak menjulang di depan mata. Suaranya yang khas menyapa, menyilakan duduk. Raut mukanya bersih, bercahaya seperti namanya, badannya nampak lebih kekar dibanding masa sebelumnya. Setelan kaos polo biru tua bersimbol buaya di dada kiri dipadukan dengan celana warna khaki. Setelan warna ini cukup khas dan banyak dipadupadankan oleh para bule, setelan padu padan warna ini merupakan salah satu favorit bule.

Saya mendapat tempat duduk tepat di sebelah kanannya. Matanya menyorot tajam, suaranya mengalir lancar membuka percakapan. Dia menceritakan bagaimana proses vonis, apa pendapat dan analisanya tentang kasusnya. Cerocosannya mengalir tak ada jeda sembari tangannya sibuk menggoreskan tanda tangan dengan pen sederhana warna biru karena permintaan kami menandatangani buku #KamiAhok yang kami tulis ramai-ramai berdelapanbelas. Dia mensyukuri berkat dan pengaturan tangan Ilahi untuk menuntunnya ke dalam penjara itu. Dia menceritakan betapa penganggurannya di dalam penjara sampai-sampai seluruh otot tubuhnya mengeras karena latihan fisik tiap hari dengan intensitas tinggi, sit-up, push-up, lift-up sehari ratusan kali sudah menjadi kesehariannya. Tak heran nampak postur tubuhnya yang memang sudah tinggi besar semakin kekar terutama nampak di dada dan seluruh lengannya. Bagaimana dia lebih sabar yang tercermin dari lebih rapi dan teraturnya tulisan tangan, semua diceritakan tanpa jeda.

Tuturnya lagi bahwa dalam penjara adalah saat pendinginan dan refleksi diri. Banyak yang diceritakan seputar kesehariannya, dengan rapi ditulisnya yang per hari ini sudah mencapai lebih dari 145 halaman A4 tulis tangan dan juga ada semacam jurnal kehidupan. Ditambah lagi dia menyuruh salah satu stafnya untuk mengetik penuturannya tentang segala jenis kebijakannya semasa menjabat memimpin Ibukota Republik Indonesia yang sangat singkat itu. Berbagai kebijakan dan rapat-rapat yang terdokumentasi rapi di Youtube disarikannya dengan seksama. Kebijakan-kebijakan yang mendapat penghargaan, keberhasilan aplikasi ataupun implementasinya. Dia menuturkan bahwa tiap kebijakan yang diputuskan pasti ada filosofi tertentu, cerita tertentu atau kisah tertentu di baliknya. Bisa dari Alkitab agama yang diyakininya, bisa dari kisah masa kecil mendapatkan tempaan hidup dari ayahandanya, bisa dari Confucius, bisa dari keseharian sekitarnya dan masih banyak lagi.

Dia banyak juga menceritakan tentang keluarganya, justru di dalam tahanan itu komunikasi intens dan kualitas komunikasi yang lebih baik dengan istrinya terjalin dibandingkan saat bekerja siang malam memimpin Jakarta. Cerita tentang ukuran kacamatanya juga mengalir. Katanya belakangan dia baru sadar bahwa ukuran kacamata yang dikenakannya pasti sudah tidak pas lagi. Salah satu pengunjung yang menengoknya adalah pemilik salah satu optik besar di Indonesia menyampaikan bahwa ketidaknyamanan yang dialaminya bisa dipastikan karena ukuran kacamatanya yang sudah berubah. Ternyata terakhir kalinya dia memeriksa ukuran kacamatanya adalah di tahun 2013 saat masih sebagai Wakil Gubernur sampai hari ini dia “lupa” memeriksa ukuran kacamatanya lagi.

Loncat sana loncat sini penuturannya mengalir dan memimpin pembicaraan hari itu. Energi dia sepertinya tak ada habisnya. Menulis, menandatangani tumpukan buku, menatap satu per satu mata para tamu, bercerita, bertutur, berbagi, berfilosofi dilakukannya secara simultan, mencerminkan selarasnya isi hati, isi kepala dan isi hati. Ledakannya masih ada, emosinya masih terasa, aura kuatnya melingkupi orang-orang sekitar terasa kuat. Energi positif terus memancar terlepas dari kekecewaan yang juga masih terasa. Secara keseluruhan kunjungan ini adalah pelajaran berharga untuk saya pribadi. Pengalaman berharga yang sungguh luar biasa.

 

 

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

17 Comments to "Menjenguk Ahok, 13 Oktober 2017"

  1. Sumonggo  17 October, 2017 at 11:26

    Semoga memperoleh pencerahan, seperti halnya Miyamoto Musashi yang bermeditasi dan mendamaikan diri di bawah bimbingan Takuan setelah kekalahan di pertempuran Sekigahara.

    Manusia tak pernah meninggalkan rasa cinta dan benci selama hidupnya. Dunia ini selalu penuh dengan bunyi gelombang. Gelombang perasaan datang dan pergi, bersama seiring waktu. Ikan-ikan kecil menyerahkan diri mereka kepada gelombang. Menari. Menyanyi dan bermain. Siapakah yang bisa mengenal hati laut di bawahnya? Siapa yang kenal akan kedalamannya. (Eiji Yoshikawa)

  2. James  17 October, 2017 at 08:05

    kesempatan yang sangat indah untuk ulasan artikel ini, thanks JC, benar-benar kesempatan bagus dapat bertemu dengan Ahok

    Jakarta khususnya dan Indonesia Umumnya kehilangan kesempatan besar yang dapat dilakukan dikerjakan oleh seorang Putra Bangsa seperti Ahok yang Nasionalis ini menegakkan Keadilan demi Indonesia ini, kapankah Bangsa Indonesia mau menyadari demi Kesejahteraan dan Kemerdekaan Indonesia seutuhnya ?

  3. Palupi  17 October, 2017 at 05:36

    Luar biasa kuasaNya cara Tuhan menunjukan kpd kita semua bahwa mengalah adalah awal dari kemenangan.

  4. Saras  16 October, 2017 at 19:59

    Lahir di Jakarta, 54 tahun hidup di Jakarta…..baru kali ini bangga dan mengertinya saya punya Gubernur yang bekerja dengan sungguh buat warganya.

    Seperti yang dia goreskan pada balasan suratnya kepada saya bahwa dia katakan : Saya baik2 dan YANG PASTI TIDAK PERNAH KAPOK UNTUK MEWUJUDKAN KEADILAN
    SOSIAL

    Love u Pak Ahokkkkk…

    Makasih bro JC for share nya yah

  5. JOKO PRAYITNO  16 October, 2017 at 17:33

    Mantaaap

  6. Sierli FP  16 October, 2017 at 17:22

    Luaaarrbiasaaa…
    Bisa bertemu dgn bp. Ahok.

  7. Tammy  16 October, 2017 at 16:58

    Pingin nangis tiap kali baca ttg Ahok. Bukan hanya menangisi ketidakadilan yg dia terima, tapi sedih lihat Indonesia yg begini.

  8. Linda Cheang  16 October, 2017 at 15:31

    Wuih. Ikut senang walau hanya membaca kisahnya. Ahok luar biasa.

  9. Hennie Triana  16 October, 2017 at 15:04

    Pengalaman yang luar biasa JC. Terima kasih sudah berbagi.

  10. Handoko Widagdo  16 October, 2017 at 14:50

    Berbahagialah Indonesia pernah memiliki pemimpin seperti Ahok. Saya berharap beliau bisa kembali memimpin Indonesia.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *