Kwan Kong – Antara Supremasi dan Persepsi

Asrida Ulinnuha

 

Beberapa dari anda mungkin masih ingat dengan peristiwa penolakan patung Kwan Sing Tee Koen atau Kwan Kong yang berdiri setinggi 30 meter di Tuban. Patung tersebut diresmikan awal Juli lalu dan sempat diklaim sebagai patung panglima perang paling tinggi di Asia Tenggara. Namun di kisaran bulan Agustus menjadi isu ramai, bahkan dengan tambahan bumbu dan kalimat-kalimat intimidatif. Sejumlah asumsi muncul disertai perdebatan hangat terutama dikalangan warga net yang entah apakah memahami sosok Kwan Kong atau tidak. Silang pendapat yang beredar sempat membuat resah para pengurus Klenteng Kwan Sing Bio Tuban, tempat dimana patung tersebut berada. Patung super tinggi ini akhirnya ditutup dengan kain putih sementara.

Walaupunn dalam pemberitaan kita bisa menangkap keributan dan nuansa yang cukup tegang, nyatanya di Tuban suasananya kondusif dan tenang-tenang saja. Diakui oleh para pengurus klenteng ini, kehebohan yang beredar sedikit banyak menguntungkan bukan hanya pihak klenteng namun juga Tuban itu sendiri. Rasa penasaran yang tinggi ditambah faktor musim liburan, menjadi alasan membludaknya pengunjung, bahkan bisa mencapai 300 (tigaratus) orang sehari. Apapun alasan pengunjung datang melihat dekat patung Kwan Kong tersebut, secara langsung juga meningkatkan laju perekonomian di Tuban saat itu.

Mungkin bila polemik pendirian patung tidak muncul ke permukaan, banyak orang tidak mengenali Kwan Kong selain bahwa ia adalah sekedar figur yang disembah dan dihormati. Sebetulnya bukan hanya masyarakat non-Tionghoa yang tidak memahaminya, sejumlah orang Tionghoa pun ada yang tidak mengenali Kwan Kong. Oleh karenanya Forum Diskusi Budaya Tionghoa Indonesia didukung oleh EIN Institute dan Yayasan Budaya Widya Mitra, menyelenggarakan bincang-bincang bertema: “Memahami Pemujaan Figur Kwan Kong: Supremasi Cina atau Teladan Moral?” pada 28 September lalu, bertempat di Gedung Widya Semarang. Hadirin diajak mengenal lebih dalam mengenai siapa Kwan Kong, mengapa ia dipuja, serta korelasi terhadap permasalahan yang belum lama terjadi di Tuban.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Ibu Widjajanti ‘Inge’ Dharmowijono yang sangat menyentuh. Setiap kata yang diungkapkan oleh beliau mengesankan kehangatan dan kehalusan perasaan. Bahwa persepsi dan stigma bisa sangat menyesatkan akan tetapi saya tidak menangkap adanya kesan menyalahkan akan semua hal tersebut. Bila ingin mengetahui secara persis apa yang dikatakannya dalam sambutan, saya sarankan anda untuk meminta link atau video acara pada penyelenggara atau mungkin meminta Bu Inge mengunggah dalam bentuk tulisan.

Hadir para pembicara yang bernas dalam diskusi malam itu, seperti Bapak Ardian Cangianto yang merupakan pemerhati budaya Tionghoa. Ia mengungkapkan “Konsep Pemujaan Orang Berjasa dan Nasionalisme dalam Budaya Tionghoa”. Bahwa Kwan Kong bisa hadir dalam beragam bentuk kepahlawanan. Kwan Kong juga begitu dipuja dan dihormati tanpa dikultuskan. Ada fakta menarik yang diungkapkan mengenai mengapa sebuah figur dipuja di atas altar. Beliau memaparkan dengan gamblang, dewa-dewa yang disembahyangi tersebut rupanya adalah manusia riil, kasat mata dan pernah hidup. Adat orang Tionghoa yang diajarkan untuk selalu mengingat jasa baik dan menghormati leluhur menjadi dasar utama seorang pahlawan disembahyangi dengan penuh hormat, sepanjang masa. Ada keyakinan bahwa jalan mencapai keabadian harus ditempuh lewat bakti di dunia nyata. Diyakini pula bahwa kebajikan itu universal, berlaku oleh siapa saja – untuk siapa saja.

Ada kebijaksanaan sederhana yang diajarkan di kalangan orang Tionghoa di masa lampau, yaitu mengingat tiga hal yang tidak akan lapuk. Tiga hal tersebut dijabarkan sebagai berikut:

  1. Membangun Kebajikan. Orang-rang yang selalu berbuat baik tentu akan terus dikenang oleh orang di sekelilingnya. Berbuat baik secara istiqomah atau terus menerus secara konsisten bukanlah hal mudah. Sebab itu hukum alam yang bijak juga akan berlaku pada orang bajik.
  2. Membangun Jasa. Ini dapat diistilahkan dengan ‘hablum minannaas’ atau menjalin hubungan baik dengan manusia lain selain diri sendiri, memberi bantuan, memberi jasa pada orang lain yang membutuhkan.
  3. Membangun Kata. Membangun kata ini rupanya bukan hanya tentang apakah kita sudah berkata cukup baik atau tidak. Membangun kata juga dapat meliputi pengajaran. Ilmu yang bermanfaat tentu akan dikenang juga dipakai sepanjang masa.

Terkait jasa dan penghormatan, ada kenyataan yang mungkin unik bagi orang diluar budaya Tionghoa adalah adanya figur dari bukan kalangan Tionghoa atau tidak beragama Konghucu yang turut disembahyangi di altar. Salah satu contoh yang banyak dikenal adalah Sam Poo Tai Djin atau Jendral Ceng Ho yang beragama Islam namun disembahyangi dengan penuh hormat dalam Klenteng Besar Sam Poo Kong. Figur lainnya adalah Raden Pandji Margono yang patung atau ‘kimsin’nya berada di Klenteng Gie Yong Bio Lasem. Ia adalah seorang Raden atau bangsawan Jawa beragama Islam yang wafat di tahun 1750. Raden Panji turut berjasa bersama Oei Ing Kiat, Tan Kee wie, dan masyarakat sekitaran Lasem, berjuang melawan gempuran tentara VOC dalam Perang Kuning.

Tokoh lain yang masih hangat di ingatan adalah Gus Dur atau Presiden RI ke-4, Abdurahman Wahid. Oleh Klenteng Tay Kak Sie Semarang beliau ditetapkan menjadi Bapak Pluralisme, Bapak Persatuan Bangsa, dan Bapak Tionghoa Indonesia. Bahkan oleh Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong Semarang, dibuatkan sinchi atau papan arwah. Sinci adalah semacam papan nisan sekaligus sertifikat kematian yang diletakan di atas altar sebagai penghormatan kepada leluhur yang telah meninggal dunia. Sinci berisi keterangan singkat mengenai tanggal lahir, tanggal kematian, data istri dan anak serta hal lainnya yang menjadi informasi penting mengenai si almarhum/almarhumah. Gus Dur menjadi istimewa akibat aksinya yang fenomenal membuat masyarakat Tionghoa atau Peranakan di Indonesia menjadi kembali terlihat serta merasakan haknya sebagai sesama bangsa setelah digerus habis-habisan sejak tahun 1700-an. Contoh-contoh di atas mestinya menjadi hal yang terang benderang mengenai sebab Kwan Kong dipuja. Ia, yang juga populer dengan nama Samkok, hidup di zaman pengujung Dinasti Han. Pada masanya dikenal sebagai pendekar mumpuni dan taat mengamalkan kebenaran, kejujuran, kepatuhan, dan kesetiaan. Semua itu rela dilakukannya meskipun menjadi susah bahkan tewas di tangan musuh.

Pembicara lainnya adalah Dr. Turnomo Rahardjo yang merupakan pakar komunikasi antar budaya Universitas Diponegoro. Dalam paparannya yang bertajuk “Urgensi Komunikasi Antar Budaya untuk Meminimalkan Konflik Horizontal”, ia mengungkapkan betapa terlihat dengan jelas ganjalan komunikasi antar budaya, dalam hal ini pemahaman tentang figur Kwan Kong yang dipersepsikan dalam ragam opini yang tidak sejalan dengan kesejatian tokoh itu sendiri. Pada hadirin ia mengatakan bahwa ‘communication gap’ ini tampak begitu jelas. Penjelasannya adalah, karena komunikasi juga dipengaruhi oleh etika yang tumbuh dalam setiap budaya, mau tak mau gap atau jarak antar komunikasi pasti terasa. Terutama bila diiringi dengan pemahaman serta pengetahuan yang tidak sejalan.

“Manusia adalah pencipta lambang, ia-pun hidup di dalamnya. Maka pemahaman itu menjadi subyektif, tidak obyektif.” Ungkap Bapak Rahardjo. Sehingga pengertian konsep dewa dan tradisi pemujaan terhadap Kwan Kong menjadi lintang pukang akibat belum banyak yang mengetahui jati diri si-tokoh. Orang-orang non-Tionghoa perlu menelisik lebih dalam ketika memaknai sesuatu terkait budaya Tionghoa sehingga tidak menilai berdasarkan asumsi kosong. Sementara itu, di sisi lain, etnis Tionghoa juga perlu belajar mengkomunikasikan budaya mereka dengan baik pada masyarakat non-Tionghoa. Kemauan untuk “saling” ini yang pada akhirnya akan memunculkan ‘mutual enrichment’, saling memperkaya pemaknaan masing-masing pihak, saling menguntungkan kedua belah pihak.

Pembicara ketiga yang dihadirkan dalam diskusi adalah Bapak Ahmad Fauzan Hidayatullah yang merupakan pengajar resolusi konflik dan studi perdamaian di UIN Walisanga. Beliau membuka ikatan catatan mengenai “Berbagai Model Resolusi Konflik dan Strategi Penerapannya di Semarang”. Dengan bahasa yang lugas dan kadang kocak, ia mengungkapkan mengenai permasalahan riil yang ada di dalam tubuh Klenteng Kwan Sing Bio Tuban. Mulai dari konflik internal antar pengurus sampai kesalahan ijin amdal yang membuat patung Kwan Kong dibangun asal tinggi hingga terlihat kurang ‘mbois’ atau kurang gagah dari seharusnya. Ia mengatakan bahwa Kwankong seharusnya dibuat gagah seperti ksatria, bukannya dengan pundak yang terlalu naik atau patung yang asal besar saja. Ada persoalan lainnya, penggiringan opini oleh orang di luar wilayah Tuban yang tidak memahami duduk permasalahan, bahkan oleh orang yang tidak mengerti sama sekali siapa sosok Kwan Kong. Hal-hal tersebutlah yang sebetulnya membuat isu semakin menghangat.

Jujur saja, saya hampir lupa dengan apa yang diungkapkan oleh Mas Fauzan ini (begitu orang-orang mengenalkan ke saya). Kalimat-kalimatnya yang kadang agak ‘cablaka’ beserta penggunaan istilah yang bikin ‘gerr’ kami yang hadir malam itu, membuat saya lupa menuliskan poin penting apa saja yang disampaikannya. Namun, dari resolusi konflik antar etnis dan antar agama yang ia ungkapkan, membuat saya merasa sangat beruntung tinggal di Semarang. Orang-orang di sekitar saya tidak terlalu responsif dan terburu-buru dalam menyikapi letupan yang muncul. Orang Semarang lebih suka ‘wait and see’ dalam menanggapi permasalahan. Bukannya tidak pernah ada gesekan, agama-etnis-latar belakang ekonomi teramat beragam di Semarang, namun semua mau duduk dalam titik temu yang sama untuk menyelesaikan konflik.

———–

 

Disarikan oleh Asrida Ulinuha

Relawan pada Perkumpulan Sosial Boen Hian Tong Semarang

 

 

 

13 Comments to "Kwan Kong – Antara Supremasi dan Persepsi"

  1. Ulin  12 November, 2017 at 20:10

    Halo Mas Anton Pratikno,

    Salam kenal sebelumnya yaa…

    Iya benar sekali, Semarang memang kota yg heterogen dan plural. Hampir tidak ada letupan yang terpantik oleh SARA. Gegeran paling perkara bola, mas.

    Tidak dikenalnya Kwan Kong secara meluas di Semarang, kemungkinan besarnya karena tidak banyak altar dalam keluarga Tionghoa Konghucu yang memuja Kwan Kong. Disamping orang Tionghoa Semarang sebagian lainnya memeluk agama Kristen dan Islam. Yang Tionghoa saja banyak yang tidak kenal benar-benar, apalagi yang non-Tionghoa.

    Tapi sebetulnya, bagi orang Semarang, kenal atau tidak bukanlah masalah besar. Semarang hebat, dalam hal selalu lambat merespon cikal bakal konflik. Kita di Semarang lebih suka mengurus urusan sendiri atau yang terdekat, ‘wait and see’ sebelum gegabah bertindak. Begitu, kan?

    Salam dari Gang Pinggir.

  2. Anton Pratikno Wijaya  12 November, 2017 at 17:09

    @ Ulin
    aku juga orang Semarang koq. tapi gak begitu tau banyak ttg Sejarah heroisme Kwan Kong.
    Yang aku tau, bbrp kali kota Smg lolos dr kemungkinan meletupnya huru hara yg berbau SARA, karena penduduk nya yg Heterogen, mayoritas udah terjalin interaksi, relasi antar golongan, agama, etnis dll.

  3. Ulin  28 October, 2017 at 09:15

    > Ah…salah mengira, berarti. Kukira James saat ini ada di Belanda..haha.
    > Kak Linda Cheang….yes he is
    > djasMerahputih, well kalau ada yang mau rusuh di Semarang, banyak yang siap pasang badan kok, aku cuma salah satunya. Ayo selow aja, ayo damai aja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *