LILLAHI TA’ALA

Wesiati Setyaningsih

 

Dulu sekali teman saya cerita ada seminar tentang solat yang sempurna. Salah satu yang dibahas adalah tentang posisi yang benar saat solat. Bayarnya lumayan mahal. Komentar teman saya,

“Kalo gitu caranya, yang solatnya sempurna cuma yang punya duit aja, dong.”

Saya jadi mikir, iya juga.

“Ah, saya gini aja. Terserah Allah mau terima apa enggak. Lillahi ta’ala,” katanya.

Tadi malam saya dan Ibu berbantahan masalah haji. Beliau masih memaksa saya mendaftar haji. Sementara saya ogah. Salah saya, sih. Mestinya iyakan aja, masalah selesai. Tapi saya sedang ingin bicara.

Saya sudah googling, untuk naik haji reguler, daftar tunggunya bisa sampai 17 tahun. Ibu saya bilang, pake yang plus aja, bisa langsung berangkat.

“Jadi biayanya berapa kali haji plus?”
“Sekitar seratus juta,” kata Ibu. Ndak tau bener apa nggak. Saya belum ngecek, Ibu saya juga cuma kira-kira.
“Tapi kalo kamu mau pasti bisa. Tinggal gimana niatnya aja.”

Memang saya nggak niat. Terbayang orang-orang sepuh yang pengen sekali berangkat haji, tapi duitnya cuma cukup buat daftar haji reguler. Itupun hasil mereka nabung seumur hidup. Tapi kudu nunggu 17 tahun lagi.

Apa nggak langsung lemes? Keburu mati. Kalopun masih hidup, secara fisik pasti udah mundur banget. Apa ya kuat?

Sementara saya dadah-dadah berangkat duluan karena duit saya lebih banyak, jadi bisa daftar haji plus. Rasa keadilan saya berontak luar biasa.

Untuk menghibur Ibu saya yang sedih karena mengira saya sudah membenci ritual ibadah agama saya sendiri, saya bilang,

“Aku nggak benci ibadahnya. Aku cuma nggak suka sama sistim pengelolaannya. Nanti siapa tau sistimnya jadi lebih fair buat semua orang, aku pasti daftar.”

Iya, kalo saya nggak keburu mati duluan. Kayanya saya mending gini aja. Lillahi ta’ala.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

3 Comments to "LILLAHI TA’ALA"

  1. Alvina VB  22 October, 2017 at 11:11

    He…he….Wes, jadi inget temen yg org Syria muslim moderat banget, belajar semua agama sampe temen dan kel. sangka dia udah murtad. Dia bilang ritual agama gak pentinglah yg penting lihat hati di hadapan Tuhan aja.

  2. James  21 October, 2017 at 05:43

    yakin Tuhan Allah tidak memerlukan yang Rumit Kerumit tapi yang sederhana rapih bersih

  3. Lani  21 October, 2017 at 04:19

    Baca artikelmu kali ini aku jd tersenyum sendiri……… coba klu kamu jawab “injih” (walau inggih2 mboten kepanggih) persoalan selesai…….tdk berpanjang lebar

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *