Gadget

Dian Nugraheni

 

Halah, sudah bosen ngomongin dampak negatif barang satu ini ya…

Biasanya aku akan ga peduli dengan bahasan soal ini, mungkin karena so far aku nggak punya masalah dengan kecanduan penggunaan gadget.

Tadi pagi, pas berangkat kerja, kan naik kereta ya, dan kereta jam segitu pasti penuh. Ada seorang Ibu, dengan anak usia setahunan lebih yang ditaruh di kereta bayi, dan seorang lagi anak perempuan usia sekitar 3 tahunan. Si Ibu dan si anak usia 3 tahunan, berdiri, adik kecil duduk di kereta bayi. Aku ga pasti, si adik kecil itu laki atau perempuan, karena penampakannya memang ga begitu jelas, dia laki atau perempuan.

Si Ibu asyik mainan smartphonenya. Flap..flap..flap…jemarinya mengelus layar sentuh smartphonenya. Aku lirik sekejap, sepertinya dia sedang buka-buka pesan.

Tiba-tiba si adik kecil nangis…didiemin aja sama si Ibu. Si Ibu tetep asyik dengan smartphonenya. Si adik kecil marah, sambil nangis, kepalanya ndeglak-ndeglak, sampai njedot dinding kereta, tangannya meraih-raih ke si Ibu.

Kemudian si Ibu memberikan smartphonenya pada adik kecil itu. Sigap, si adik kecil melakukan gerakan sama terampilnya dengan Ibunya ketika pegang smartphone. Aku merasa sungguh “wooowww..!” ketika melihat jemari anak sebayi itu demikian fasihnya memperlakukan smartphone. Jemarinya flap…flap..flap…mengelus layar sentuh smartphone. Tangisnya reda. Kulirik sekejap, ada semacam gambar kartun bergerak di sana.

Kemudian si kakak yang juga masih kecil, mendekat pada kereta si adik kecil, pengen ikutan liat apa yang sedang asyik dilihat oleh adik kecil. Tiba-tiba adik kecil marah lagi, nangis, nyaris tantrum.., didorongnya kakak perempuan kecilnya. Kakak perempuan kecil mendekat lagi ke adik kecil. Sambil teriak marah, nangis juga, tangan si adik kecil ngruwes muka si kakak perempuan kecil. Si adik kecil ga mau si kakak perempuan kecil ikutan menikmati smartphonenya. Si kakak kecil menangis kesakitan sambil memegangi mukanya.

Si kakak perempuan kecil dihalau oleh Ibunya, “minggir, jangan ganggu adikmu..”

Tiba-tiba, si adik kecil nangis lagi, marah, kepalanya dibentur-benturin ke dinding kereta, smartphonenya dilempar, jatuh ke lantai kereta. Lalu diambil si Ibu, dicoba buka lagi, diketuk-ketuk, di-flap..flap dengan jemari tangannya. Kulirik, gambar kartun tak bergerak, hang…

Ricau.., risau dan kacau keadaan. Kereta berhenti di stasiun Rosslyn, mereka bertiga akan turun, menerobos desakan manusia dalam kereta yang kemudian sigap minggir, dan keluar dulu dari kereta demi kasih jalan ke mereka.

Sekilas, kulihat baju si Ibu sobek-sobek.

Kuharap kehidupan mereka nggak sehitam kelam penampakannya…

 

 

3 Comments to "Gadget"

  1. Alvina VB  2 November, 2017 at 13:25

    Begitulah dunia kita saat ini, anak2 bukan dikasih buku eh malah dikasih gadget. James, betul banget….
    Sekarang di Canada, di beberapa kota besar, akan ada peraturan kl texting sambil nyebrang jln akan kena denda, spt kl nyebrang jln dan lampu masih merah kl ada polisi, pasti kena denda.

  2. James  2 November, 2017 at 09:30

    anak kecil jaman sekarang lebih pinter main atau menggunakan gadget dibanding orang dewasa, malah orang dewasa suka harus belajar dari anak kecil

  3. Lani  1 November, 2017 at 01:36

    Dian: Baca artikel mu yg ini aku nyumbang ngakak waelah…………lucu, tp juga prihatin

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *