eKTP, Lika-Liku Mengurusnya dan Manfaatnya di Masa Depan

Ary Hana

 

Pulang dari perjalanan ke China, saya membawa oleh-oleh, kehilangan dompet berisi uang tunai, ATM BCA, dan eKTP yang sudah saya miliki sejak 2012. EKTP ini saya dapat setelah setahun proses perekaman data secara nasional, sekitar tahun 2011. Jadi memang barang berharga yang sulit didapat. Perkiraan saya, dompet cs ini bisa jadi tertinggal di kamar hotel terakhir di Yinchuan, jatuh atau diambil saat saya menitipkan barang di Stasiun Yinchuan atau Stasiun Xi’an. Yang jelas, begitu sadar kalau dompet hilang, dua jam setelah tiba di rumah saya membuat laporan kehilangan di kepolisian, lalu meluncur ke kantor cabang BCA untuk mengurus ATM, dan malamnya minta surat keterangan dari RT dan RW sebagai pengantar untuk mengurus eKTP keesokan harinya di kelurahan.

Saya mengurus eKTP berdasar penuturan petugas Dukcapil kodya Surabaya seperti yang tertera pada blog mereka sebagai berikut :

Hingga kelurahan, proses berlangsung sangat cepat. Ketika sampai kecamatan, masuk ke ruang 3(foto), pegawai kecamatan yang berurusan dengan eKTP hanya meminta fotokopi surat kehilangan dan 2 fotokopi kk lalu menyerahkannya kepada saya 1 lembar fotokopi kk plus tanda terima yang berisi tulisan cek maret. Begitu saja. Tak ada kata-kata sebaiknya langsung urus ke Dukcapil Surabaya, atau ini surat keterangan pengganti ektp yang hilang dan sebagainya. Saya bengong dan berpikir bagaimana menyelesaikan beragam urusan administrasi tanpa ektp. Itulah hal yang membuat saya posting di fb, mengeluh. Apalagi ibu saya dan banyak temannya tak memiliki ektp sejak pertama penerbitan ektp karena kesalahan pemasukan data. Tapi nasib ibu lebih baik, memegang ktp sementara berbentuk ktp lama yang cetakan kertas biasa.

Saat posting di fb, seorang kawan antropolog yang pernah penelitian layanan dasar (ktp, kk, dan akte kelahiran), juga pernah mewawancarai Pak Zudan Arif (dirjen Dukcapil sekarang), memberi saya no pengaduan berikut :

Jika Anda yang membuat eKTP dan mengalami kendala, dipersilakan mengadu ke Dirjen Dukcapil Kemendagri Zudan Arif, melalui SMS atau Whatsapp ke 081326912479. Silakan ditulis nama lengkap, NIK, kabupaten  dan kota, serta no. HP yang bisa dihubungi.’

ternyata no di atas sudah ditutup dan migrasi ke call centre 1500537.

Sebelum mengadu ke no hp di atas, keluhan di FB mendapat tanggapan pak dirjen, dan ajaib, 4 hari kemudian ektp ibu dan teman-temannya yang terkatung-katung sejak 2-3 tahun lalu, keluar dengan mudahnya. Padahal sebelumnya setiap mengecek ke kantor kecamatan, pasti dijawab belum jadi.. belum ada kabar, dan lain-lain.

gambar nyomot jakartainformer.com

Saya sendiri memilih pergi ke kantor Dukcapil Surabaya, mengurus seperti warga biasa. Pelayanan cepat, 10 menit, dari ambil no, ke loket 7/8, ambil cetakan surat keterangan laksana eKTP hingga menunggu stempel dan tanda tangan. Di akhir proses, saya tanyakan ke petugas di loket 15 -seorang lelaki yang lebih tua dan sopan menjawab pertanyaan- kapan ektp yang asli jadi. Beliau menjawab, “Ibu datang ke kecamatan 6 bulan lagi, membawa surat keterangan ini dan fotokopi KK. Saat saya tunjukkan komentar Pak Dirjen di fb, beliau berkata, “Ya yang dimaksud cetak lima menit jadi ya surat keterangan ini, Bu. Bukan eKTP.” Bla.. bla.. bla. Seolah ada salah persepsi proses eKTP antara dirjennya dan petugas pelaksana di bawah.

Saya tak ingin membahas hal ini lebih lanjut, dan cukup puas dengan surat keterangan itu, setidaknya buat 6 bulan ke depan. Meski, banyak kawan terus-terusan memperpanjang masa berlaku surat keterangan hingga dua, tiga, bahkan empat periode, alias dua tahun tak pernah memegang bentuk fisik eKTP.

Saya memang membutuhkan surat keterangan itu, untuk memesan tiket kereta api misalnya. Chek in ke stasiun dan bandara juga butuh eKTP walau mereka menerima paspor atau SIM. Masuk ke Pulau Bali juga cek eKTP, walau juga tak menampik paspor. Masuk kantor-kantor tertentu seperti kantor pengurusan visa harus meninggalkan identitas seperti eKTP (saya tak punya SIM). Masuk pelosok desa di Indonesia timur seperi Pulau Seram, Banda, Maluku Tenggara yang biasa jadi obyek penelitian juga harus menunjukkan eKTP kepada kepala adat di sana sebagai bukti saya orang baik-baik. Nggak mungkin menunjukkan paspor atau fotokopi KK, bisa dibalang teklek dan diusir dari kampung melebihi anjing nanti. Nah, itu fungsi dan manfaat eKTP atau KTP atau surat keterangan laksana eKTP yang selama ini saya rasakan di lapangan.

 

Belajar dari China

Kenapa saya menyebut China? Karena saya baru dari sana, dan melihat sendiri betapa efisiennya mereka hidup selama 2 minggu di sana, termasuk efisien menggunakan dan memanfaatkan electronic card ID alias eKTP china.Padahal penduduk Tiongkok kan lebih 1 milyar namun bisa diatur dengan sistematis begitu.

Dari yang saya baca, salah satu fungsi eKTP untuk mencegah pendataan ganda warga. Jadi dengan eKTP catatan kependudukan WNI terintegrasi di satu data kependudukan nasional. Saya ingat punya teman rekan wartawan yang memiliki 4 KTP (Surabaya, Depok, Banjar, dan Kodya Yogyakarta). Dia sempat menghubungi saya untuk menguruskan KTP saudaranya via jalan belakang dan saya tolak. Susah Mas, KTP sendiri saja berbelit mengurusnya

Lalu manfaat eKTP yang lain, karena berisi data bioritmik kita seperti sidik jari, keterangan nama, golongan darah cs, jika.. andai terjadi kecelakaan pada seseorang seperti ledakan pesawat, bus terbakar, hanya dengan melihat eKTP saja, kita tahu siapa dia dari rekam sidik jari yang tersimpan di chip, golongan darahnya apa, dimana dia tinggal dsb.. dsb.

Yang belum terpikir saat ini mungkin adalah, eKTP bisa jadi GPS untuk melacak posisi seseorang. Itu ya-ng diterapkan di China. Mau masuk stasiun -entah hanya memesan tiket atau naik kereta api- warga China wajib scan electronic ID Card di mesin khusus (selain juga barang bawaan dan tubuh dideteksi dengan detektor). Begitu juga saat masuk bandara, terminal bus antar kota, atau membayar pajak. Selalu scan ID card. Data hasil scan ini masuk ke pusat data nasional. Jika ada warga yang melanggar hukum, melakukan kejahatan kemudian melarikan diri, seorang teroris misalnya, mudah bagi pemerintah melacak dan menangkap penjahat itu berdarsar rekaman posisi dia selama ini. Di China susah melarikan diri dengan mobil pribadi, tak banyak orang punya mobil pribadi. Yang mudah ya naik bus antar kota, kereta api, atau pesawat, dan semua mesti scan ID card. Modar memang jadi penjahat di China. Makanya banyak penjahat di China yang akhirnya memilih meninggalkan negerinya dan menuju negeri dunia ketiga seperyi Indonesia, Vietnam, Filipina, ketimbang ditangkap di negerinya lalu di-dorrr. Di China, mudah sekali orang dijatuhi hukuman mati jika terlibat kejahatan serius.

 

Catatan:

Dengan berlikunya pengurusan eKTP ini saya tak hendak menyalahkan pemerintah yang sekarang. Ini mirip Dirjen Dukcapil dan stafnya harus membersihkan kotoran dan masalah yang ditinggalkan dirjen sebelumnya terkait masalah korupsi eKTP yang membuang duit negara trilyunan rupiah. Proyek pengadaan eKTP sendiri menelan dana 25 Trilyun rupiah, dana turun 2 periode, dan dalam pelaksanaannya banyak sekali masalah dan mis-management terjadi. Ini berdasar cerita kawan peneliti, beberapa kawan yang terlibat sebagai konsultan dll. Jadi walau cuma diberi kertas pengganti laksana eKTP saya sudah cukup bersyukur. Saya harap di masa depan pembuatan atau penggantian eKTP lebih efisien lagi, dan pemanfaatannya lebih maksimal. Jangan sekedar dibuat cek manual nama dan NIK di stasiun atau bandara. Nggak sebanding dengan proses dan biaya pembuatannya, serta perjuangan untuk menghasilkannya, termasuk perjuangan melawan korupsi

Oya, selama hanya memegang kertas A4, saya merasa tidak layak dan ‘wegah’ ikut pemilu, entah itu pilkada (walikota dan gubernur) atau pemilu nasional. Buat apa memilih pemerintah yang tak bisa bikin KTP buat warganya. Kalau bikin KTP saja susah, apalagi mau membangun hal lainnya. Ini sih pendapat pribadi, silakan kalau mengecam.

Kabar terbaru, ektp saya sudah keluar hari ini.Jadi saya mesti nyoblos pada pilkada dan pemilu nanti.

 

Salam introspeksi dan membangun

 

Bisa juga dibaca di:

eKTP, Lika-Liku Mengurusnya dan Manfaatnya di Masa Depan

 

 

13 Comments to "eKTP, Lika-Liku Mengurusnya dan Manfaatnya di Masa Depan"

  1. James  4 November, 2017 at 06:35

    Indonesia Maju ??? maju apanya ??? Korupsi sejak saya bocah cilik saja sudah ada malah sekarang semakin Hebat Melelaraja padahal ada KPK, yang belum ada adalah di Jedor Bedil

  2. Alvina VB  3 November, 2017 at 22:25

    AH: Ya, begitulah….sampe bahan kartunya aja dikorupsi, mungkin lebih murah ya…. jadi kualitasnya juga jelek. Kaya di sini aja, perbaikan jalan gak pernah beres2 krn kontraktornya pada korup, beli bahan yg lebih murah, jadi ya gak tahan lama, baru bbrp thn jalanan udah berlobang dan retak2, capek dech…..kl di sini ketahuan korupsi politicannya dicecer abis, suruh balikin duitnya/dijeblosin ke penjara, dan nama udah pasti jelek, ini spy jera. Di Indonesia kayanya para politiciannya gak punya malu lagi, rasa jera kayanya cuman ilusi kayanya. Negara yg banyak koruptornya gak akan bisa maju2 dah.

  3. Ah  3 November, 2017 at 20:19

    Swan LB : kalo ga didor, ya korupsi ga bakalan ada matinya, boro2 mo dijajah negara lain. Indonesia sdh dijajah koruptor

  4. Ah  3 November, 2017 at 20:17

    Lani : minum puyer bintang toejoeh no. 16

  5. Swan Liong Be  3 November, 2017 at 17:06

    @Ah: kalo koruptor perlu didor, maka aku tanya siapa yang akan menuntun perkembangan indonesia, lha wong semua koruptor, yang men”dor” pun juga. Yang gak mau ikut korupsi dipenjara atau dimusuhin, difitnah etc.etc…. Ah udahlah, lama² EGP!

  6. Lani  3 November, 2017 at 11:29

    AH: Hanya satu kata “mumet”

  7. Ah  3 November, 2017 at 10:27

    Alvina : itu juga yang kupikirkan. Makanya protes keras. Masalahnya kirupsi ektp th 2010-2011 dari agt dpr dan kroconya di lembaga itu gila3an, 25 T yang dikorupsi separo lebih. Blom lagi dana yg terbuang karena salah kirim pada cetakan ektp pertama, lalu sdm kecamatan yg ga siap nengiperasikan mesin perekam data dll. Pokoknya mawut. Ektp yg sekarang kuterima bahannya lebih jelek dp yg kuterima 5 th lalu.
    Selama indonesia ga bisa melawan korupsi jgn harapkan maju n tinggal landas. Makanya kofuptor perlu didor, merusak moral dan kemahuan bangsa.

  8. Ah  3 November, 2017 at 10:20

    James : sebetulnya sudah ada perintah memangkas birokrasi dari bbrp pejabat atas, spt ahok dlu ato bbrp mentri dan dirjen, tapi anak buah tulalit dan keenakan memproyekkan birokrasi.
    Sebagai contoh ngurus surat2 di kecamaran sekarang lama dan berbelit, syaratnya kadang dibuat mengada2 agar yg ngurus akhirnya menyerah lalu mau bayar. Banyaaak contohnya. Ngurus surat pindah bisa 3 bulan sendiri

  9. Alvina VB  3 November, 2017 at 08:33

    Kalau bikin KTP saja susah, apalagi mau membangun hal lainnya
    Se77777777……org kata, kasih yg kecil aja gak bisa dijlnin, masa mau dikasih yg gede??? (dlm hal apa aja dlm menjalani hidup ini).

  10. James  2 November, 2017 at 09:25

    di Indonesia bukan hanya mengurus E-KTP yang berliku-liku mengurusnya tapi segala sesuatu apapun surat apapun itu selalu Liku-liku mengurusnya, E-KTP hanya namanya doang keren, ngurusnya tetap saja cara lama berliku-liku, coba kalau diberikan Uang Pelicin Pasti cepat selesai, jadi namanya saja E-KTP (elektronik) tapi kan Kantongnya gak Elektronik ??? di LN itu ngurus apa saja cepat dan simpel Interview 5-15 menit paling lama maka baik itu Paspor, SIM ataupun surat apa saja Selesai ditangan dalam Satu Minggu, itu paling lama loh, kadang 2-3 hari selesai dan dikirim ke rumah atau alamat tinggal…..halah Indonesia begini terus sejak jaman baheula

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *