Bila Usia Senja Tiba (1)

Erna Manurung

 

Lestari membuat sebuah keputusan besar!

Di usianya yang masih 40-an ia keluar dari pekerjaannya, menghilang dari beberapa komunitas intinya, dan melamar menjadi Ibu Asrama di Pondok Usia Indah, tidak jauh dari kediamannya. Pondok Usia Indah adalah sebuah wisma atau asrama bagi para lansia berumur 65 tahun ke atas. Semacam panti wreda.

Keputusan Lestari menimbulkan banyak pertanyaan dari teman-teman dan keluarganya. Mengapa mengurusi lansia? tanya ayahnya. Kamu masih muda dan belum menikah. Bagaimana bisa menemukan jodoh kalau ketemunya sama orang-orang tua?

Lestari cuek saja. Hidup sebagai anak perempuan satu-satunya, tidak otomatis membuat ayahnya mengenal anaknya dengan baik. Bukan jodoh yang diinginkan oleh Lestari saat ini, melainkan teman. Dengar Papa, saya membutuhkan teman-teman.

Sang ayah belum paham. Masak cari teman di lingkungan lansia? Tetapi ibunya sedikit lebih mengerti. Ia tahu, anak perempuannya sejak muda suka sekali bergaul dengan ibu-ibu, sesekali dengan bapak-bapak. Tapi ia masih menyimpan pertanyaan, betulkah itu satu-satunya alasan bagi Lestari untuk bekerja di panti wreda?

***

Lestari berusaha santai menghadapi interview dengan ibu Yani, pemilik Yayasan Insani yang menaungi Pondok Usia Indah.

“Adik serius mau bekerja di sini?” tanya ibu Yani.

Lestari mengangguk. Agak heran dengan sebutan ‘adik’ yang dialamatkan padanya. Kenapa tidak dipanggil ‘Anda’ saja karena ini merupakan interview formal. Apakah karena ia masih muda? Sementara peran yang ingin didapatkan adalah sebagai ibu asrama yang umumnya seorang yang sudah sepuh?

“Adik akan menghadapi orang-orang tua yang banyak maunya.”

“Tidak apa-apa bu. Saya siap.”

Ibu Yani diam sejenak. Ia kemudian membaca beberapa bagian dari berkas yang terhampar di mejanya.

“Mengapa keluar dari kantor lama?”

“Saya merasa sudah cukup puas bekerja di sana. Saya ingin mencari pengalaman kerja di tempat lain, bu.”

“Iya, tapi kenapa Adik tertarik bekerja di sini? Apakah orangtuamu sudah tidak ada?”

“Tidak. Masih lengkap.”

“Mereka mengizinkan?”

Aduh bu! Saya perempuan dewasa. Bukan anak belasan tahun yang harus minta izin ayah dan ibu saya dulu untuk menjadi pekerja sosial, protes Lestari dalam hati. Oke, saya paham mengapa Yayasan meragukan niat saya bekerja di tempat ini. Saya mungkin masih terlihat muda. Perawakan sayapun kecil, mana pantas jadi Ibu Asrama. Tapi kan, posisi itu yang sedang kosong di sini? Sudahlah bu. Tunjukkan saja bagaiman saya harus bekerja, harap Lestari. Bibirnya terkatup, tapi berharap ibu Yani mengizinkan dia menjadi Ibu Asrama bagi sekumpulan Opa dan Oma di sini.

Tahukah bu, saya ingin sekali menjadi orang yang dibutuhkan. Tidak seperti di kantor lama saya. Tidak ada lagi teman-teman sebaya. Semua pegawai anak baru, dan mereka semua bergaya posmo. Punya dunia sendiri dan tidak tertarik bersahabat dengan perempuan lajang 40-an seperti saya.

Lestari masih ngedumel dalam hatinya ketika ibu Yani menawarkan pekerjaan sebagai staf redaksi buletin. “Anda pegang buletin saja dulu. Nanti kita lihat, apakah tugas sebagai Ibu Asrama bisa Anda jalankan,’ pungkas ibu Yani. Kali ini ia sudah memanggilnya dengan ‘benar’.

***

Lestari menghembuskan napas panjang ketika keluar dari ruangan ibu Yani. Staf redaksi! Itu lagi, itu lagi. Tapi baiklah. Ia akan mencobanya. Bukankah untuk menulis perlu bertemu dengan orang-orang yang tinggal di asrama ini?

Akan aku tunjukkan bahwa aku mampu menjadi ibu asuh bagi Opa dan Oma itu.

Namun Lestari merasa geli ketika menyadari bahwa ia yang masih berumur 40 tahun akan menjadi ‘ibu’ bagi para lansia 65 tahun ke atas.

 

(bersambung)

 

Note Redaksi:

Erna Manurung, selamat datang dan selamat bergabung di keluarga besar BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu sambungannya dan juga artikel-artikel lainnya.

 

 

8 Comments to "Bila Usia Senja Tiba (1)"

  1. Alvina VB  13 November, 2017 at 08:11

    Erna, selamat bergabung di sini….

  2. Erna  8 November, 2017 at 14:09

    Pak SLB, saya jg jengkel dengan ibu Yani, kenapa dia belum trust sama si Lestari

  3. Erna  8 November, 2017 at 14:06

    Ibu Lani: terimakasih sudah mampoir dan turut masuk dalam cerita ini, meski kisah ini sebatas rekaan. Tapi saya mmg pernah berkunjung ke salah satu panti wreda, juga berbincang banyak dengan bbrp teman yang sedang merencanakan tinggal di panti lansia. Iya, memang idealnya yang bekerja di panti lansia orang yang masih sehat dan kuat ya, supaya maksimal. Tapi sepertinya ibu Yani punya alasan khusus kenapa dia belum memberi lampu hijau kepada Lestari. Mungkin mau ngetes gitu, hehe. Tapi kita lihat nanti bgm akhir ceritanya.

  4. Lani  8 November, 2017 at 02:16

    Erna: Selamat datang dirumah Baltyra dan salam kenal.

    Membaca cerbung mu, aku merasa heran saja mengapa dan kenapa klu org msh muda tdk pas, tdk boleh, atau berkesan meremehkan utk bekerja di panti wredo/assisted living home/nursing home atau apalah sebutannya…….

    Justru menurutku klu dipimpin oleh org muda, msh kuat, aktif, akan lebih berhasil drpd dipimpin oleh orang2 yg disebutkan oleh yg berkomentar disini “sudah bau tanah” blaik……..pemimpin dan penghuninya sama2 pikunnya hahaha………..

    Aku sdh mulai bekerja dilingkungan lansia ktk usiaku msh boleh dikatakan muda juga hampir 40 tahun dan berlanjut hingga usiaku 55 tahun……….

    Yg dipentingkan bukan berapa usiamu?????? Akan ttp apakah dirimu mampu, compassionate, patience, and care, loving person

  5. Swan Liong Be  7 November, 2017 at 17:27

    Oh gitu ya, tapi itu bukan hal yang mustahil bahwa rumah jompo dipimpin oleh seorang yang umurnya sekitar 40-50 tahun. Kalo rumah jompo dipimpin oleh orang diatas 65 tahun dan siap² bau tanah seperti komentar dari James diatas dan kemudian sama² pikun , wah berabe dong!
    Btw, umur diatas 65 tahun siap² bau tanah itu mulai umur berapa ya? Kasian yang meninggal dibawah 65 tahun, belum juga bau tanah sudah dimasukkan tanah!

  6. James  7 November, 2017 at 08:24

    bila usia senja tiba diatas 65 an, yah siap-siap saja bau tanah…..ha ha ha

    tugas di rumah Lansia itu Mulia, soal jodoh itu takkan lari gunung di kejar

  7. Erna  7 November, 2017 at 01:56

    Pak SLB, haha ini cerita fiksi (rekaan) lho, tp sy lupa mencantumkan keterangan di pojok tulisan. Trims, jadi diingatkan untuk memberi keterangan genre di tulisan2 berikut.

  8. Swan Liong Be  6 November, 2017 at 17:31

    Erna, ditempat kerjamu dikantor banyak karyawan baru yang masih muda seperti apa yang kamu tulis, kamu merasa tua kan, nah ditempat Pondok Lansia ini kamu malah muda sekali, 40 tahun itu kan belum tua, aku pribadi senang dan gak keberatan kok berteman dengan wanita semuda kamu; mungkin bisa berkenalan dengan “opa” yang baik dan ganteng diPondok tsb., who knows??

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *