Bila Usia Senja Tiba (2)

Erna Manurung

 

Artikel sebelumnya:

Bila Usia Senja Tiba (1)

 

Lestari sedang asyik menginput data, ketika matanya menangkap sesosok pria setengah baya melintas di depannya. Pria itu lalu duduk tidak jauh dari meja kerjanya.

Untuk aktivitas sehari-hari, ia memilih bekerja di ruangan semi aula ini. Meski disediakan meja kerja di kantor, ia memilih bekerja di tempat yang kerap dipakai untuk pertemuan. Balai pertemuan ini kerap dimasuki oleh kaum bapak yang setiap sore mengobrol berbagai hal. Mereka begitu bersemangat kalau sudah berbincang-bincang. Apalagi kalau bukan tentang masa lalu mereka masing-masing, terutama pekerjaan mereka.

Dalam diri para bapak itu Lestari melihat sosok ayahnya. Pak Sasongko adalah orang yang suka sekali mengobrol. Setiap hari ia akan didatangi para tetangga, yang juga para bapak.

Eh, kenapa bapak di depanku ini tampak sedih ya? Oh, kalau tidak salah namanya Pak Diman. Pensiunan guru 10 tahun yang lalu. Pak Diman dikirim oleh anak perempuannya ke Asrama ini 7 tahun silam. Lestari tahu itu karena semua riwayat penghuni asrama tertera dalam berkas.

“Sendirian saja, Pak Diman?” Lesari mencoba menyapa. Hari masih pukul 10 pagi, udara cerah di luar. Tapi mengapa Pak Diman tampak sedih? Apakah tidak dikirimi uang oleh anaknya? Sepengetahuannya, seluruh uang pensiun Pak Diman dibayar  untuk biaya bulanan di asrama ini. Lagi-lagi Lestari tahu soal ini dari berkas.

“Hmm, iya mbak.”

“Bapak kelihatannya sedih. Ada apa Pak?”

Pak Diman menoleh ke arah perempuan di depannya. “Saya besok mau ke Jakarta. Eeee … maksud saya, Tangerang. Menengok menantu saya. Ia kecelakaan motor.”

“Oohhh, saya turut sedih Pak.”

“Terimakasih.”

” …….”

“Hmmmm … saya sebetulnya ingin tinggal bersama anak. Tapi dia melarang.”

“Ohh, begitu ya Pak?”

“Dia tidak enak dengan suaminya kalau membawa saya tinggal dengan mereka.”

“Hmmm, kalau di sini memangnya kenapa Pak? Apa bapak tidak punya teman di sini?” Lestari menebak-nebak alasan Pak Diman merasa tidak betah tinggal di “Pondok Usia Indah” ini.

“Kalau teman sebaya banyak mbak. Tapi saya merasa dibuang kalau tinggak di panti jompo seperti ini…”

Eeehh aduh Pak, jangan gitu dong. Ini bukan panti jompo. Ini rumah besar tempat berkumpulnya para Opa dan Oma ….

“Saya lebih suka tinggal bersama anak dan cucu-cucu saya. Tapi karena menantu saya keberatan, akhirnya saya dikirim ke sini,”

Duh, kasihan sekali Pak Diman. Kalau aku jadi anaknya, aku akan paksa kedua orangtuaku tinggal bersamaku. Tapi, bukankah anaknya mau-mau saja bapaknya tinggal bersamanya? Suaminya yang tidak mau. Ya, ya, ya tapi ini privacy mereka.

Pak Diman akan berangkat besok sore, dijemput travel yang menuju Jakarta. Di Sumedang, nanti akan pindah mobil yang khusus mengangkut penumpang tujuan luar Jakarta (Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang dan sekitarnya). Ia tidak memberitahu berapa lama akan tinggal di rumah menantunya. Tapi kalau soal itu gampang. Ada bagian administrasi yang selalu mengupdate kegiatan asrama. Aku cuma mengerjakan buletin di sini, tapi hatiku sudah terusik dengan kisah bapak-ibu di sini.

Kemarin ia melihat tante Linda duduk termangu di depan kamarnya. Ia tidak hair di acara kebaktian di Aula. Mungkin susah kemana-mana kalau pakai tongkat. Tapi usia tante Linda kelihatannya masih muda. Kata Astry, tante Linda masih 56 tahun. Lho, kok sudah dimasukkan ke sini ya? Astry juga bilang, keluarga besarnya tinggal di Ambon. Jauh sekali jaraknya dengan kota ini. Apakah di sana tidak ada keluarganya?

***

Sudah pukul lima, namun matahari masih bergeliat di musim kemarau ini. Lestari menghabiskan waktu senggangnya dengan berjalan-jalan di hutan mini sebelah utara kawasan asrama ini. Hutan mini itu dulunya tanah kosong. Ketika Yayasan membeli lahan untuk dijadikan Asrama lansia, sebagian tanah kosong itu ditata menjadi tempat wisata berupa hutan wisata. Tempat ini ramai dikunjungi orang hanya di akhir pekan.

Pondok Usia Indah memiliki 100 kamar, terbagi dalam 25 unit. Setiap unitnya terdiri dari 4 kamar, satu ruangan besar yang berfungsi sebagai ruang tamu sekaligus ruang makan, dapur dan kamar mandi umum. Setiap kamar dihuni oleh 2 orang. Dua orang ini ada yang single, ada juga yang pasangan suami istri. Dari cerita Astry, ada sekitar 20 lansia yang berjodoh di sini. Kalau akhirnya menikah, mereka tinggal dalam satu kamar.

Tante Linda yang ia lihat kemarin di ruang tamunya, melakukan aktivitas yang sama. Duduk sambil memandangi lapangan dari pintu yang terbuka. Seluruh unit rumah Pondok Usia Indah dibuat dalam posisi mengelilingi halaman  runput yang cukup luas. Halaman ini banyak fungsinya. Kebanyakan dipakai oleh anak-anak lingkungan sekitar untuk bermain sepakbola. Beberapa instansi juga kerap menggunakannya untuk outbond.

Perempuan paruh baya itu duduk dengan tongkat yang bersandar pada lengan kanannya. Lestari masuk ke sana dan mengucapkan salam.

“Sore tante, sendirian saja?” sapanya membuka percakapan.

Yang disapa tidak menjawab, hanya menoleh sekilas, kemudian kembali menatap nanar ke arah luar.

Lestari duduk di sebelah perempuan yang masih tampak cantik itu. Rambutnya ikal sebahu, kulitnya kuning cerah. Pakaiannya pun tampak modis, meski bentuknya tidak pernah berubah dari sebelum-sebelumnya; daster. Perempuan itu bergeming ketika Ibu Sari dan suaminya, Pak Mijan tertawa-tawa di depan kamar mereka. Lestari merasa bahwa pasangan suami-istri yang tinggal bersama perempuan-perempuan singel kurang tepat. Mengapa Yayasan tidak mengatur agar pasangan yang menikah serumah dengan yang menikah juga? Ah, besok aku mau melihat berkas, gumam Lestari.

“Tante, tidak ada keluarga dari Ambon yang datang ke sini?” tanya Lestari.

Terdengar dengusan nafas.

Dari data medis yang sempat dipelajari minggu lalu, kaki tante Linda lumpuh sebelah, tapi masih bisa berjalan dengan bantuan tongkat. Tidak jelas apa penyebab kelumpuhannya. Yang pasti, ketika 4 tahun lalu ia diantar ke sini oleh keluarganya, keadaannya sudah demikian. Tapi yang masih mengganjal dalam pikiran Lestari adalah, mengapa wanita usia 52 tahun dibawa ke tempat ini? Tante Linda sama sekali belum menjadi Oma. Dia bisa toh, tinggal bersama keluarganya?

Kalau menilik status perkawinannya, memang sudah menjanda. Apakah dia punya anak? Oke, besok aku tanyakan ke Astry.

“Tante, nggak mau ikut saya besok jalan-jalan?” Lestari menawarkan ajakan.

Kali ini tante Linda menengok ke arah Lestari dan memberikan sedikit senyuman.

“Mau ya? Besok saya jemput deh ke sini. Jam 7 pagi, selesai sarapan. Kita jalan-jalan ke pinggir lapangan, terus ke hutan mini. Saya mau bawa roti sekalian …”

“Zus tinggal di unit mana?” sergap si tante Linda.

Ups, dia memanggilku Zus. Wah, aku lupa. Sebetulnya kami ini hampir sebaya. Selisih 15 tahun saja. Lestari malu ketika menyadari tingkahnya yang sok muda.

“Di unit karyawan,” aku Lestari.

“Kamu yang namanya Lestari itu ya? Pegawai baru?” tanya Linda lagi.

Lestari mengangguk.

“Silahkan. Saya menunggu di sini jam 7.”

Hore! Akhirnya tante, eh, zus Linda mau kuajak jalan-jalan. Aku punya teman sekarang …

 

bersambung…

 

 

4 Comments to "Bila Usia Senja Tiba (2)"

  1. Erna  13 November, 2017 at 15:47

    Pak James, ya Lestari beruntung mulai dapat teman satu. Semoga besok-besok dapat lagi teman baru

  2. Erna  13 November, 2017 at 15:46

    Hai Alvina VB, salam kenal juga ya. Ini rekaan, walaupin satu dua plot saya ambil dari kisah nyata. Terimakasih sudah membaca kisah ini. Salam …

  3. Alvina VB  13 November, 2017 at 08:10

    Baru baca seri ini. Ini cerita berdasarkan true story/ cuman rekaan semata?
    Lanjut ke 3 dech….

  4. James  9 November, 2017 at 09:09

    at last Lestari got a new friend, interesting story

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *