CHATEAU DE FONTAINEBLEAU

Osa Kurniawan Ilham

 

Fontainebleau adalah sebuah kota kecil berjarak 55 km di tenggara Paris. Kira-kira butuh kurang lebih 1 – 1,5 jam perjalanan dengan mobil dari kota Paris.

Kota ini terkenal karena terdapat sebuah istana yang dinamakan Chateau de Fontainebleau, dikelilingi oleh hutan taman nasional yang cukup luas. Bersyukurlah Perancis yang nyaris tidak pernah ada bencana gempa bumi atau sejenisnya yang memporak-porandakan bukti peradabannya. Istana ini mulai dibangun tahun 1137M atau sejaman dengan ketika Kakawin Bharatayudha ditulis oleh Mpu Sedah dan Mpu Panuluh pada masa pemerintah Raja Sri Jayabhaya di Kerajaan Kadiri.

Lambat laun istana ini terus berkembang dan digunakan sebagai kediaman raja-raja di Perancis bahkan setelah Kaisar Napoleon Bonaparte diasingkan setelah diturunkan dari tahtanya. Walaupun jarang menempatinya karena kesibukan bertempur, Napoleon mengenang istana ini sebagai “… la vraie résidence des rois, la maison des siècles.…” Kediaman sejati untuk para raja dan rumah untuk segala abad.

Ironisnya, istana semegah dan setua ini pernah dijarah habis-habisan pada saat Revolusi Perancis yang berhasil menggulingkan Raja Louis XVI. Semua isinya habis dijarah dan dijual ke balai lelang oleh rakyat yang marah dan butuh makan. Ia juga pernah menjadi penjara yang mewah bagi Paus Pius VII setelah berkonflik dengan Napoleon.

Akhir tahun lalu, ketika saya ditugaskan untuk sebuah pekerjaan di Fountainebleau, dengan senang hati saya menuruti ajakan kawan untuk mampir ke istana ini sebelum pulang kampung.

Mirip dengan paradoks di istana ini, Ironisnya kawan ini ingin sekali mengunjungi tempat bersejarah ini untuk sebuah balas dendam. Beberapa tahun lalu, ia ingin masuk ke sebuah kompleks perumahan elite di pinggiran Jakarta. Kompleks perumahan itu namanya Fountainebleau juga. Sayang seribu sayang, sang satpam melarangnya masuk untuk meninjau perumahan itu. Mungkin karena tampangnya tidak meyakinkan sang satpam sebagai seorang calon pembeli rumah mahal itu.

“Sekarang aku puas, Osa. Nggak apa-apa aku dihinakan oleh satpam yang mengusir aku ketika ingin berkunjung ke Fountainebleau bohong-bohongan di Jakarta itu. Aku sudah pernah menginjakkan kakiku di Fountainebleau yang asli…di biangnya lagi.”

Apa yang dialami kawan itu juga sudah sering saya alami.

Saya merenung….. “Ah…..manusia memang suka menilai dari tampang lahiriah saja, padahal Tuhan Penguasa Semesta saja lebih melihat hati.”

 

 

5 Comments to "CHATEAU DE FONTAINEBLEAU"

  1. Osa KI  9 November, 2017 at 19:20

    Benar Pak Sumonggo…itu pas hari kerja. Jadi pengunjungnya hanya anak2 sekolah dan beberapa turis termasuk kami

  2. Lani  9 November, 2017 at 13:22

    Kang Monggo: Yg kemruyuk itu disini…………..kemana saja pasti untel2-an tdk nyaman……….

  3. James  9 November, 2017 at 09:15

    Kuno tapi Kokoh

  4. Lani  8 November, 2017 at 11:41

    OsaKI: Paling mengena kalimat dialinea plg akhir……….

  5. Sumonggo  8 November, 2017 at 11:39

    Kelihatan sepi ya? Bisa puas jepret-jepret … he he ….

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *