Proyek Pendidikan

Wesiati Setyaningsih

 

Seliweran di medsos berita pembakaran sekolah oleh orang partai agar ada proyek. Saya heran kalo orang-orang takjub dengan tindakan gelap mata haus proyek dalam pendidikan.

Lha dikira selama ini gimana? Masak ndak tau kalo kurikulum 2013 yang sekarang dipake di Indonesia ini sebenarnya proyek belaka? Kalo orang mengira ini demi kebaikan anak bangsa, saya bisa ketawa sampai keluar air mata.

Mari kita bahas satu-satu tentang kurikulum ini. Di kelas 1 SD anak-anak nggak lagi belajar per mapel. Tapi tematik. Bahasa nyambung ke IPS, ke IPA dan seterusnya. Kalo bisa nyambung ke berita-berita aktual. Ada yang bilang, loh bagus kan? Anak jadi kreatif. Tapi, apakah sebelum hal ini dipersiapkan benar? Belom!

Kalau memang guru dipersiapkan untuk mengajar secara tematik, jelas jadinya akan keren. Tapi nyatanya, guru yang mendapat pelatihan tentang kurikulum ini sebelum dilaksanakan, belum nyampe 100%. Di sekolah saya, ketika kurikulum ini digunakan, yang ikut sosialisasi belum sampai 50%. Tapi kepala sekolah ngotot harus dilaksanakan. Selain karena prestis, kemudian saya tau kalau ada dana yang mengucur untuk pengadaan buku dan pendampingan mengajar. Namanya dana pasti mengalir dari hulu ke hilir sampai jauh. you know lah.

Di SMP, tidak ada sesuatu yang signifikan selain materi yang meloncat-loncat nggak jelas alurnya kaya KTSP atau kurikulum 2006. Ini juga masalah banget sih, tapi belum seberapa dibanding SMA.

Nah, untuk SMA, selain materi yang kocar kacir kaya di SMP, sistemnya juga diubah. Jam pelajaran dan jenis mapel berganti. Agama yang dulu 2 jam (@45 menit), sekarang jadi 3 jam. Demikian juga dengan olah raga. Bahasa Inggris yang dulu 4 jam, jadi 2 jam. Mapel TI, diganti PKWU atau kewirausahaan. Tanpa koordinasi dengan universitas pencetak guru, jelas bikin ribet. Guru PKWU belum ada. Sementara guru TI nggak dapat jam ngajar. Jadi guru TI ngajar PKWU.

Selain itu, penjurusan tidak dari tahun kedua tapi dari tahun pertama. Anak-anak lulusan SMP yang masih bingung itu mesti memutuskan masuk IPA atau IPS sejak memilih SMA. Alhasil kebanyakan yang milih orang tuanya, tapi yang ngejalanin anaknya.

Sudah gitu, ada lagi yang namanya lintas minat. Jadi anak yang masuk jurusan IPA, mesti ambil salah satu mapel dari jurusan lain, baik IPS atau Bahasa (kalau ada). Ini kan lucu. Lha wong anak milih IPS pasti karena malas ketemu mapel IPA. Kok disuruh milih salah satu mapel IPA. Trus ngapain ada penjurusan segala?

Kurikulum ini sempat dievaluasi sama Anies Baswedan, tapi akhirnya jalan lagi dengan revisi yang sama sekali nggak penting. Perubahan dalam kalimat kompetensi dasar (dulu banget kita kenal dengan ‘tujuan instruksional umum dan khusus’) dan beberapa format penilaian. Nggak ngaruh apa-apa ke murid selain bikin mereka mudah dapat nilai baik.

Dengan sistem dan materi pembelajaran yang acakadut begini, apa yang bisa kita harapkan? Makanya kalo ada orang tua yang mempercayakan pendidikan anak sepenuhnya pada sekolah, itu sangat tidak bijaksana. Gurunya mungkin baik. Tapi sistemnya sangat tidak kredibel.

Jadi kalo ada yang heboh tentang pembakaran sekolah, saya heran. Pembakaran sekolah demi proyek, itu kan cuma akumulasi. Selama ini sekolah sudah jadi lahan empuk pengadaan proyek, kok.

Lagian pembakaran gedung kan cuma masalah fisik. Pelakunya ketemu, penjarakan. Selesai. Tapi kalo mental dan karakter anak jadi kacau karena kurikulum pun dijadikan lahan proyek, kita mau gimana?

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

4 Comments to "Proyek Pendidikan"

  1. wesiati setyaningsih  14 November, 2017 at 12:47

    Basah pake banget. kasian anak2.

  2. Alvina VB  10 November, 2017 at 09:01

    Proyek Pendidikan, emang lahan basah ya Wes. Padahal masih banyak sekolah yg perlu diperbaiki sekolahannya dan kurikulumnya (luar dan dlm dech) Betul kata si James, emang project korup. Prihatin dech sama pendidikan di Indonesia yg gak pernah stabil, gonta-ganti sesuai dgn mentrinya, bukan krn baik dan buruknya yg musti dipelajari dan diperbaiki.

  3. Lani  9 November, 2017 at 13:23

    James: mungkin kesana pd umumnya……….hahaha

  4. James  9 November, 2017 at 09:12

    Project Korup kah ?

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *