Bila Usia Senja Tiba (3)

Erna Manurung

 

Artikel sebelumnya:

Bila Usia Senja Tiba (1)

Bila Usia Senja Tiba (2)

 

Awalnya, sangat sulit mengajak Zus Linda bercerita tentang dirinya. Lestari mahfum, tentu tidak nyaman kalau baru kenal lalu membuka diri kita pada orang lain. Tetapi ia sedikit terhibur ketika kali ini sorot mata perempuan itu lebih hangat. Berjalan-jalan di tepi lapangan yang luas tidak membuatnya lelah. Kelihatan lebih segar malah. Lestari sudah mempersiapkan bekal; roti manis dan air mineral untuk makan mereka kalau perut sudah minta diisi lagi. Tapi sudah 2 jam berada di luar ruangan, Zus Linda belum kelihatan haus, apalagi lapar. Ia lebih asyik memandang ke sana-sini sambil berceloteh bahwa pemandangan penuh pepohonan di sekitar asrama selalu mengingatkannya pada kota Ambon, kampung halamannya.

Akhirnya Lestari berterus-terang. Ia mengaku bahwa keinginannya untuk bekerja di asrama Opa dan Oma ini karena ia ingin merasa dibutuhkan.

“Oh, begitu ya?” tanya Linda.

“Begitu memang Zus. Saya ini anak tunggal, terbiasa dimanja sejak kecil. Apalagi sama Papa. Tapi anehnya, saya justru sebal diperlakukan begitu. Saya ingin seperti ibu saya, temannya banyak. Dan kalau Mama membantu orang, badannya malah sehat. Apalagi sinar matanya. Kalau sedang masa libur dan teman-temannya pergi ke luar kota, Mama merasa kesepian. Si mbok juga pulang. Mama saya itu cocoknya jadi pekerja sosial,” kisah Lestari.

Linda tersenyum ketika mendengar seluruh cerita Lestari. Kini ia paham, mengapa perempuan yang masih lajang ini nekat bekerja di tengah para lansia yang kadang menyebalkan tingkahnya. Linda masih ingat saat diantar anak sulungnya ke tempat ini. Tatapan mata para bapak yang tengah bersantai di selasar Aula, tak henti-hentinya terarah padanya. Linda merasa risih. Ia tidak merasa heran kalau itu terjadi di jalanan. Tapi di asrama? Asrama lansia pula. Sekarang, ada pegawai baru yang bekerja menjadi staf buletin dan baru saja Lestari mengakui bahwa jika diterima, ia ingin sekali menjadi ibu asrama di sini. Ia sedikit khawatir perempuan itu akan jadi bulan-bulanan.

“Zus tidak takut bosan nanti?” tanya Linda.

“Saya kan tidak longterm bekerja di sini.”

“Jadi, cuma sekedar nyoba saja, begitu?” untunglah Linda mengatakannya sambil menyungingkan senyum manisnya.

“Ah, ya enggak juga. Tidak ada salahnya toh bekerja di sini?” kilah Lestari.

Linda manggut-manggut. Terus terang, ia merasa nyaman kalau ada ibu asrama, tapi jangan yang masih muda seperti Lestari. Ia juga senang karena merasa cocok dengan perempuan ini. Tapi sekaligus dihinggapi rasa takut. Apakah ketika mereka sudah cocok sebagai teman, lalu terbiasa bertemu, tiba-tiba harus berpisah karena Lestari berhenti bekerja?

Setelah tiga jam bercengkrama di hutan mini, mereka mencari tempat untuk beristirahat. Di dekat pohon beringin ada kursi kayu dan mereka duduk di sana. Linda bercerita kalau ia adalah ibu dari 3 anak laki-laki. Yang sulung sudah berkeluarga, yang mengantarnya ke tempat ini atas permintaan dia sendiri. Anak tengah dan bungsu bekerja di luar negeri. Mereka datang kalau libur natal dan tahun baru saja.

Masalah itu dimulai ketika suaminya Johan, menyatakan akan menikah dengan teman satu kantor. Waktu itu ia dan Johan belum resmi bercerai, tapi perpisahan sudah terjadi sejak ia sakit dan tidak mampu lagi melayani suaminya di ranjang. Kadang hidup sangat tidak adil. Dalam janji nikah dulu, keduanya bertekad akan selalu bersama dalam susah dan senang. Lalu, ketika salah satu tidak bisa membahagiakan pasangan, yang kebetulan orang itu adalah dirinya,  jalan yang ditempu malah perpisahan. Bukan menjalani keadaan sulit ini bersama-sama.

Linda tidak mampu memahami isi hati suaminya. Kalau jadi dia, dia akan tetap mempertahankan pernikahannya sampai akhir. Johan kemudan menikah dengan Tya selang 6 bulan setelah putusan cerai dibacakan. Tidak ada pembicaraan mengenai harta gono-goni.

Linda berusaha menerima takdirnya, tapi sulit melalui masa-masa keterhilangannya. Linda masih merasa bahwa Johan adalah bagian dari dirinya. Keluarga besar mereka masing-masing tinggal di Ambon dan mengenal satu sama lain dengan baik. Bisnis keluaga besar Johan dan bisnis pribadinya juga ada di sana. Praktis kehidupan mereka ada di kota itu. Namun perpisahan seketika membuat ia merasa sendirian di tengah keluarga besar, sanak saudara, dan rekan bisnis. Apalagi saat mengetahui Johan datang bersama istrinya untuk menengok salah satu usaha mereka dan keluarga si sulung. Sejak menikah lagi, Johan memang memutuskan bermukim di Tomohon, kampung halaman Tya.

Dalam keterasingan yang tak mampu diatasi, baik oleh dirinya maupun oleh keluarganya, akhirnya Linda meminta Simon anak sulungnya mengantar dia ke Jogja. Menitipkannya di sebuah panti untuk orang-orang tua. Awalnya si sulung menolak keras. Mengapa harus tinggal panti orang tua? Ia malu, sebagai anak tak bisa merawat ibunya. Tapi Linda berkeras dan mengatakan bahwa yang perlu dirawat adalah batinnya. Bukan fisiknya. Ia minta maaf kepada anak-anak karena harus mengambil keputusan ini. Tetapi tetap tinggal di Ambon sama saja dengan bunuh diri. Linda tak bisa menahan rasa perih di hatinya, setiap kali menyaksikan Johan datang. Sejak berpisah, ia tetap tinggal di rumah besar mereka. Tetapi letak kediaman keluarga besar Johan tidak jauh dari rumah tinggal mereka. Dan Johan pasti akan datang ke rumah orangtuanya yang hanya beberapa jengkal saja jaraknya.

Linda tak pernah berpikir, membayangkan pun tidak, bahwa ia akan bercerai dari suaminya. Dan itu terjadi manakala anak-anak sudah besar dan mandiri. Setelah tidak ada lagi seorangpun yang ia urus. Ya, mengurus orang adalah kebahagiaan tertinggi untuknya.

Akhirnya, dengan iming-iming bahwa ia hanya tinggal sementara saja di Jogja, Simon dan adik-adiknya setuju. Dengan syarat, semua biaya hidup ibu mereka ditanggung oleh bertiga. Lalu setiap 6 bulan Simon akan menjenguk ibunya, dan libur Natal & Tahun baru mereka berempat akan bertemu. Entah itu di Ambon atau di Jogja.

Tetapi rencana tinggal rencana. Sampai 4 tahun kemudian Linda belum mau pulang ke Ambon. Meski rutin berobat, pengapuran yang dideritanya semakin parah. Di tahun kedua, ia sepenuhnya bergantung pada tongkat untuk berjalan. Si sulung ternyata tidak bisa kalau setiap 6 bulan datang. Dia baru datang 2 kali dan menelepon sebulan sekali. Anak kedua dan ketiganya baru satu kali bertemu dengannya sejak ia tinggal di sini.

Linda pun salah mengira. Ia sangka, panti wreda ini masih seperti dulu ketika ia pernah kerja praktek di sini sini. Dulu panti ini dihuni sedikit orang saja. Sekarang, asrama Pondok Usia Indah sangat besar. Dikelola oleh swasta dan sepertinya hanya orang-orang mampu saja yang tinggal di sini. Linda yang merasa terasing di kotanya tidak menemukan yang ia cari; kehangatan. Entahlah kalau peremuan muda ini  bisa mengisi kebutuhannya akan seorang teman. Tali ia tetap merasa takut, kalau-kalau Lestari akan pergi dan ia akan merasa sendirian lagi.

***

Hari ini ada rapat internal di kantor Asrama. Ibu Yani kemarin menghubungi seluruh pegawai untuk rapat singkat.Wah, kebetulan, pikir Lestari. Ia mau sekalian menyetor draft buletin yang akan dicetak minggu depan.

Pukul sepuluh tepat ibuYani memulai rapat.

Beginilah kebiasaan di sini. Selalu tepat waktu. Mulai dari jadwal sarapan sampai acara door price, semuanya dimulai tepat waktu. O ya, tentang door price, silakukan secara berkala. Bisa 2-3 kali dalam sebulan. Bentuk hadiahnya macam-macam, mulai dari buku, gadget, selimut, sampai kejutan dari keluarga. Pak Wayong yang sudah 15 bulan berada di Pondok Usia Indah pernah mendapat doorprice dikunjungi anak perempuannya yang baru datang dari Kanada. Pingkan, anaknya sengaja tidak memberitahu kalau akan datang. Ia minta pada ibu Yani supaya merahasiakan kedatangannya.

Pak Wayong sudah 3 tahun ditinggal oleh mendiang istrinya. Karena semua anak-anaknya tinggal di Amerika, Pingkan minta agar ayahnya pindah dan tinggal di Amerika. Tapi Pak Wayong menolak. Semua teman-temannya ada di Yogjakarta. Ia rela terpisah dari keluarga asalkan tidak terasing dari teman-teman sebaya. Bukan tidak mencintai anak-anaknya, tetapi ia menyadari bahwa anak-anaknya sudah punya kehidupan sendiri. Ia pun punya kehidupan sendiri sebagai pensiunan salah satu BUMN.

O ya, tadi kita membahas tentang kultur tepat waktu di sini ya?

Ya, ini hasil manajemen ibu Yani. Perempuan 60 tahun itu adalah mantan guru Sekolah Dasar yang terbiasa melakukan aktivitas apapun selalu on time. Tugasnya sebagai guru, apalagi guru SD, dijalani dengan penuh dedikasi. Dan saking tepat waktunya, pergi ke gerejapun tidak pernahterlambat. Sekarang, sebagai sekretaris yayasan yang mengepalai kantor asrama, ibu Yani dengan senang hati menerapkan disiplin waktu yang ketat.

Lestari pernah ditegur karena terlambat menyerahkan laporan kaskecil terkait pengeluaran buletin. Kali ini ia ingin mendahului jadwal penyerahan draft buletin. Ibu Yani meninggalkan sesungging senyum ketika menerima laporan dari Lestari.

“Nanti saya periksa ya Les. Besok saya serahkan hasilnya. O ya, kalau bisa, jangan terlalu lama bersama penghuni.Tugasmu masih banyak. Kamu mesti bantu Astry mengurusi pemutahiran data penghuni asrama.”

Lestari mengangguk, meski tidak selalu setuju dengan penugasan yang diberikan ibu Yani. Lestari tidak pernah berniat menangani buletin terlalu lama. Itu pekerjaan yang akan sangat membosankan. Ia ingin bergaul dengan anggota asrama di sini. Seperti Pak Djoko cs, yang tidak ada habis-habis mengobrol soal politik setiap pagi dan sore. Persis ayahnya. Cuma bedanya, ayahnya mengobrol dengan para tetangga yang juga pensiunan.

Ada dua orang teman karib Pak Djoko. Keduanya orang Tapanuli. Mereka bertiga, Pak Djoko, Pak Situmeang dan Pak Sinuraya rajin membaca koran dan mengikuti berita politik tanah air di televisi. Hanya gadget saja yang tidak dimanfaatkan para bapak itu. Namun ada berita kurang menggembirakan sore ini . Lestari sempat menguping pembicaraan bahwa Pak Situmeang dan Pak Sinuraya akan pulang, tinggal bersama anak-anaknya. Konon katanya, keluarga besar Pak Situmeang keberatan kalau orangtua mereka tinggal di asrama lansia. Macam tidak diurus keluarga saja, katanya.

Serba dilematis ya. Ada anggapan bahwa memasukkan orangtua ke asrama lansia seperti membuang ayah/ibu sendiri. Tapi banyak juga para Opa dan Oma yang justru senang tinggal dengan teman-teman sebaya dalam satu pondokan.Tidak perlu kesepian karena tidak ada gap usia di sini.

 

(bersambung)

 

 

2 Comments to "Bila Usia Senja Tiba (3)"

  1. Alvina VB  13 November, 2017 at 12:16

    Manula ngomong politik, akan ada ribut2, he..he…
    Ditunggu lanjutannya.

  2. James  12 November, 2017 at 08:34

    liku-liku kehidupan usia senja

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *