Apakah Anda Sakit Jiwa?

Wesiati Setyaningsih

 

Orang sering tidak terima kalau dibilang ‘sakit jiwa’. Padahal sebenarnya jiwa yang sakit tidak harus menyebabkan orang tersebut jalan-jalan telanjang. Ketika dia selalu menyabotase dirinya sendiri, tidak nyaman dengan dirinya, tidak pernah sadar akan potensinya, dan jelas hidupnya muter-muter dengan masalah yang sama hingga situasi pribadinya berantakan, maka sebenarnya dia sedang ‘sakit’.

Saya menyadari saya ‘sakit’ ketika saya terus menerus mengelak bahwa saya bisa menulis buku. Diyakinkan setengah mati pun saya tetap muter-muter mencari alasan untuk tidak melakukannya. Untungnya teman yang menyuruh ini tidak pernah patah semangat meski sempat kesal dan bilang, “kamu sakit!”

Tapi di sinilah lantas saya mulai mikir dan berusaha mengalahkan diri saya sendiri hingga buku itu selesai. Namun masalah saya belum selesai. Memang buku itu jadi tonggak momentum bahwa saya pernah bisa mengalahkan sabotase yang saya lakukan sendiri. Tapi dalam kehidupan sehari-hari hal ini masih sering terasa. Salah satunya saya suka menunda-nunda. Saya juga menghindari konflik padahal sebenarnya batin saya tersiksa. Alhasil saya tidak mau menyelesaikan masalah tapi justru lari darinya. Padahal makin jauh kita lari dari sebuah masalah, semakin menumpuk masalah itu dan makin lama jadi makin besar.

Pada satu titik saya akhirnya merasa hopeless. Merasa ada sesuatu yang salah tapi nggak tau mesti ke mana. Pada saat itulah saya diperkenalkan dengan sebuah teknik trauma release. Dengan teknik ini akhirnya saya bisa menemukan diri saya sendiri sekaligus perlahan-lahan membangun rasa percaya diri. Meski saya tahu saya belum ‘sembuh’ benar karena masih suka menunda pekerjaan-pekerjaan yang tidak saya sukai, tapi saya tidak lagi menyabotase diri dengan menunda pekerjaan yang saya sukai. Kemarin saya membongkar ulang novel yang mangkrak dua tahun lamanya, hanya dalam waktu sekitar sebulan lebih. Ini prestasi karena sebelumnya, bahkan pekerjaan yang saya sukai pun saya sabotase sendiri. Jadi, jalinan cerita yang membuat saya semangat di awal pun tidak saya selesaikan. Padahal tinggal sedikit lagi. Butuh dua tahun untuk membangun semangat mengerjakannya lagi. Dan setelah trauma-trauma dikeluarkan dengan trauma release, saya punya semangat untuk menyelesaikannya karena memang ceritanya sebenarnya bagus. Alhamdulillah sudah selesai. Tapi jangan tanya dulu kapan terbit karena naskahnya sedang mencari jalan ke sana dan saya belum tahu bagaimana nasibnya nanti. Kalau terbit pasti saya promo.

Kembali ke masalah kejiwaan tadi, orang-orang seperti saya ini banyak. Saya bisa melihatnya pada murid-murid saya. Juga pada teman-teman yang sering ngobrol dengan saya baik di dunia nyata maupun dunia maya. Mereka ini adalah anak-anak yang kekurangan cinta. Bisa jadi karena orang tuanya salah satu pergi meninggalkan dia, karena perceraian. Ada juga yang karena saudaranya banyak dia tidak mendapat perhatian yang cukup. Atau seperti saya, salah satu orang tuanya sangat otoriter dan dominan, ada yang lebih parah : orang tuanya suka memukul.

Gejala yang biasanya terjadi pada orang-orang seperti ini adalah ketidakpercayaan mereka bahwa mereka layak dicintai. Yang saya ingat dari Ibu saya adalah ketika beliau memarahi saya waktu saya umur sekitar 3 tahun dan mencubiti saya hingga saya menangis kelelahan. Kejadian itu muncul juga saat melakukan trauma release. Ternyata inilah yang tersimpan dengan kuat dalam alam bawah sadar. Ketika ini muncul, akhirnya saya menyadari bahwa semua ini sudah lewat. Sudah selesai. Dan saya berdamai dengan diri saya sendiri. Semacam mengatakan, “bahaya sudah lewat dan kamu baik-baik saja.”

Tapi marahnya Ibu saya tidak berlangsung sekali itu. Sering terjadi sepanjang hidup saya, bahkan sampai saya dewasa. Hingga saya berpikir saya ini tidak layak dicintai. Kalau ada orang bilang dia mencintai saya, saya akan terus mempertanyakan “kenapa?”. Karena sepertinya hal itu tidak masuk akal. Saya Cuma layak untuk dimarahi, dibentak-bentak, apalah, pokoknya bukan dicintai. Kalau ada yang memuji, saya juga tidak percaya karena saya ini selalu salah.

Selain tidak percaya diri, anak-anak yang biasa disiksa (abuse) secara fisik maupun verbal, akan mencari pasangan yang melakukan penyiksaan yang sama. Sudah banyak contoh orang yang tidak bisa meninggalkan pasangannya padahal tiap hari dipukuli atau dimaki-maki. Karena memang itulah yang mereka pahami sebagai ekspresi cinta. Begitulah pelajaran pertama yang mereka dapat dari orang tua sebagai guru pertama, “cinta sama dengan siksaan.”

Secara natural sebenarnya mereka menyadari bahwa mereka tidak layak diperlakukan seperti itu, tapi tidak ada daya untuk melepaskan diri. Ada semacam ketagihan untuk diperlakukan kasar sebagaimana dia sering diperlakukan waktu kecil. Akhirnya muncul konflik, dalam diri mereka ada suara yang terus berkata, “you don’t deserve it.” Tapi pada saat yang sama, ada suara lain yang membujuk, “this is all you deserve. Udah nggak usah repot, bikin ribut aja nanti. Apa susahnya bertahan?” Tak heran kalau jadi muncul ketidakcocokan dengan pasangan. Karena dalam diri mereka sendiri muncul konflik tak berkesudahan. Dalam kasus saya, semua sudah selesai. Entah karena usia atau apa, suami tidak lagi seperti dulu. Kami bisa bicara baik-baik dan semua berlangsung aman. Apalagi sejak kami tinggal di rumah sendiri dan bukan di rumah Ibu lagi.

Ada teman yang sebenarnya punya potensi cukup besar untuk meraih kehidupan yang baik. Tapi entah kenapa mereka memilih untuk bertahan pada situasi sulit dan tidak keluar dari situ. Semua solusi yang ditawarkan mereka mentahkan lagi. Ini persis seperti ketika saya menyabotase diri sendiri waktu saya menulis buku. Sangat terbaca bahwa sejak kecil mereka selalu diyakinkan bahwa mereka tidak bisa menjadi orang yang layak dibanggakan. Takdir mereka adalah jadi anak-anak yang gagal. Agak repot kalau setelah tua dan hidupnya rumit, mereka tak juga mau jujur bahwa mereka sedang bermasalah.

Kekuatan saya adalah saya jujur. Saya mengaku bahwa saya sakit. Meski awalnya saya menyalahkan pola didik yang diberlakukan pada saya, akhirnya saya menyadari bahwa Ibu saya juga mungkin ‘sakit’. Saya tidak tahu bagaimana pola didik yang diterapkan pada beliau, tapi saya selalu melihat ketakutan yang luar biasa. Saya merasa beruntung bahwa saya mampu melihat masalah dalam diri saya dan mencari jalan keluar. Saya tidak akan menemukan jalan keluar apapun kalau saya tidak mengetahui atau mengakui saya sakit. Orang yang batuk-batuk lalu disarankan minum obat, tapi dia bertahan, “aku nggak papa kok. Cuma kena debu ini lho.” Padahal andai dia mau ke dokter dan mengakui dia sedang sakit, ketahuan radang tenggorokan, diberi obat sebentar pasti sembuh. Analoginya begitu.

Kesimpulan dari cerita saya yang panjang lebar ini adalah, mari kita kenali masalah dengan menengok konflik yang sering kita hadapi. Respon kita terhadap konflik ini menjadi penanda masalah yang terjadi dalam diri kita. Gampangnya, kalau anda malu dipuji, selalu menyalahkan dan menyesali diri sendiri, merasa tidak pantas mendapat keberhasilan lantas melakukan berbagai cara untuk menghentikannya, punya pasangan yang ngeselin, coba cek diri anda sendiri. Jangan-jangan bukan orang lain yang salah. Tapi diri anda sendiri yang sedang bermasalah. Tak perlu berlama-lama mengeluhkan hal yang sama. Carilah solusi.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

2 Comments to "Apakah Anda Sakit Jiwa?"

  1. Sumonggo  13 November, 2017 at 19:55

    Di Indonesia, entah karena faktor budaya, stigma, atau apa, masih banyak yang enggan konsultasi ke psikolog dan psikiater. Padahal dengan melakukan konsultasi ke psikolog, psikiater, atau personal-coach, akan banyak terbuka peluang untuk memandang dunia dengan lebih damai. Jika beban psikis “ditabung” dan “didepositokan” hingga “berbunga”, tiba-tiba saat “jatuh tempo” sudah termanifestasi sebagai kanker, stroke, dan semacamnya.
    Trauma akan menjadi semacam hambatan energi, yang bisa termanifestasi menjadi self-sabotage. Teknik trauma release semacam EFT (yang dimodif oleh Ahmad Faiz menjadi SEFT) bisa membantu bagi yang cocok. Saat ini berjibun teknik ala “psikologi-energi” semacam itu. Ada Bioenergetic Method dari Alexandre Lowen atau TRE dari David Bercelli (sayang biaya seminarnya masih mahal …..). Kalau yang tidak suka dengan “talk-therapy” ke psikolog/psikiater, mungkin metode tapping ketuk-ketuk EFT bisa berguna, ngirit, dan bisa dilakukan secara mandiri.
    Ide dasarnya adalah banyak gangguan kesehatan fisik maupun psikis yang disebabkan energi yang tidak mengalir lancar. Kalau aliran energi di tubuh lancar maka orang akan sehat secara fisik maupun psikis. Secara spiritual bila aliran energi lancar maka “aliran rejeki” juga lancar.

  2. James  13 November, 2017 at 09:57

    Gangguan atau Sakit Jiwa secara umum jarang ditangai secara Profesional di Indonesia, maka akan semakin berat padahal kalau dengan kesabaran ditangani dengan benar maka itu akan berlalu dengan sendirinya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *